UIN Siber Cirebon – Membangun budaya literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga. Berangkat dari semangat tersebut, KKN Kelompok 70 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan Seminar Literasi: Pentingnya Edukasi Penguatan Literasi di MI Salafiyatul Huda 1 Pegambiran pada Minggu (27/7/2026).
Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja mahasiswa KKN ini diikuti oleh wali murid kelas I beserta putra-putrinya. Seminar menghadirkan Dr. Umamatul Bahiyah, M.Pd. sebagai narasumber, dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Yeti Nurizzati, M.Si., dukungan Kepala MI Salafiyatul Huda 1 Hj. Nurhayati, S.Ag., M.M., serta dipimpin oleh Muhammad Ulil Abshor selaku Ketua KKN Kelompok 70.
Menguatkan Peran Keluarga dalam Budaya Literasi
Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan Ketua KKN Kelompok 70, serta sambutan Kepala MI Salafiyatul Huda 1 sebelum dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dr. Umamatul Bahiyah.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.
“Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami serta memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan membaca yang dibangun sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga, akan menjadi bekal penting bagi anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. Cukup luangkan 10–15 menit setiap hari untuk membaca bersama anak, karena kebiasaan kecil hari ini akan membawa dampak besar bagi masa depannya,” jelasnya.
Materi yang disampaikan juga membahas strategi sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk mendampingi anak belajar, menumbuhkan minat membaca, serta menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuhnya budaya literasi.
Belajar Interaktif Bersama Orang Tua dan Anak
Seminar dikemas secara interaktif sehingga tidak hanya diikuti oleh orang tua, tetapi juga melibatkan anak-anak dalam berbagai aktivitas edukatif. Setelah sesi pemaparan materi, peserta mengikuti diskusi dan tanya jawab mengenai tantangan membangun kebiasaan membaca di lingkungan keluarga.
Mahasiswa KKN kemudian membagikan kertas origami, spidol, dan amplop kepada setiap pasangan orang tua dan anak. Mereka diajak menuliskan nama serta cita-cita anak pada kertas origami, kemudian memasukkannya ke dalam amplop sebagai simbol harapan sekaligus komitmen keluarga dalam mendukung pendidikan dan masa depan anak melalui budaya literasi.
Suasana semakin meriah ketika anak-anak diminta maju ke depan untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan cita-cita mereka. Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta yang tampil memperoleh hadiah sederhana berupa permen. Kegiatan juga diselingi dengan yel-yel dan jargon penyemangat sehingga suasana seminar berlangsung hangat, aktif, dan penuh semangat.
Menanamkan Literasi sebagai Investasi Masa Depan
Ketua KKN Kelompok 70, Muhammad Ulil Abshor, menyampaikan bahwa seminar ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya keterlibatan keluarga dalam membangun budaya literasi.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, guru, dan wali murid, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kemampuan literasi anak, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, kebiasaan membaca dapat tumbuh menjadi budaya yang terus berlanjut dan menjadi bekal penting bagi generasi masa depan.
Mendukung Pencapaian SDGs
Seminar Literasi yang diselenggarakan KKN Kelompok 70 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan budaya literasi dan peningkatan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) karena menghadirkan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, guru, dan keluarga dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.


