UIN Siber Cirebon – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan akademik sekaligus membangun kepedulian terhadap perkembangan pendidikan Indonesia. Salah satu agenda yang turut mewarnai rangkaian kegiatan pada Kamis (27/8/2026) adalah penyampaian pernyataan sikap mahasiswa mengenai pentingnya penguatan kualitas pendidikan.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FITK bersama organisasi mahasiswa (ormawa) di lingkungan FITK. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak untuk memandang berbagai persoalan pendidikan secara kritis, terbuka, dan konstruktif dengan menempatkan kepentingan peserta didik, guru, perguruan tinggi, dan masyarakat sebagai perhatian utama.
Membangun Tradisi Berpikir Kritis
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, kemampuan melihat persoalan pendidikan secara kritis menjadi bagian penting dari proses pembentukan calon pendidik. Pernyataan sikap yang disampaikan tidak hanya berisi pandangan terhadap sejumlah isu, tetapi juga menjadi sarana mahasiswa untuk belajar menyusun argumentasi, menyampaikan aspirasi, dan merumuskan gagasan perbaikan.
Mahasiswa menekankan bahwa perkembangan pendidikan membutuhkan evaluasi dan dialog yang berkelanjutan. Berbagai aspek seperti kualitas pembelajaran, pengembangan kurikulum, kondisi sarana pendidikan, kesejahteraan guru, hingga akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi perlu terus menjadi perhatian bersama.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya memosisikan diri sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas akademik yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan.
Dorong Pendidikan yang Berdampak bagi Masyarakat

Dalam pernyataannya, mahasiswa FITK menyampaikan sejumlah gagasan, di antaranya pentingnya evaluasi kebijakan pendidikan secara berkelanjutan, penguatan sarana dan prasarana pendidikan, perhatian terhadap kesejahteraan pendidik, serta perluasan akses pendidikan yang berkualitas.
Mahasiswa juga menyoroti pentingnya memastikan berbagai program pembangunan dapat berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia. Dalam konteks pembangunan desa, misalnya, pengembangan kapasitas masyarakat melalui pendidikan dan keterampilan dipandang sebagai bagian penting agar pembangunan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Pada aspek pendidikan tinggi, mahasiswa mendorong agar pengelolaan biaya pendidikan senantiasa memperhatikan aspek aksesibilitas dan kemampuan masyarakat. Pandangan tersebut menjadi bagian dari refleksi mahasiswa sebagai calon pendidik yang kelak akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pendidikan di masyarakat.
Kritik sebagai Ruang Pembelajaran Akademik
Penyampaian aspirasi dilakukan dengan menegaskan pentingnya sikap kritis yang tetap berbasis data dan konstruktif. Bagi mahasiswa, kritik dipandang sebagai salah satu bentuk tanggung jawab akademik untuk ikut merawat ruang dialog mengenai masa depan pendidikan.
“Kritik terhadap kebijakan bukanlah bentuk penolakan terhadap negara. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab akademik dan sosial mahasiswa.”
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam pernyataan sikap mahasiswa FITK. Melalui cara pandang tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada penyampaian persoalan, tetapi juga membangun budaya diskusi, mencari alternatif solusi, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Membentuk Calon Pendidik yang Peduli
Pernyataan sikap mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran yang lebih luas di lingkungan FITK. Kehidupan akademik tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tetapi juga melalui organisasi, diskusi, interaksi sosial, serta pengalaman mahasiswa dalam merespons persoalan di lingkungan sekitar.
Hal tersebut sejalan dengan semangat FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam membentuk pendidik yang unggul, profesional, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menjaga sikap akademik yang santun, terbuka, dan solutif. Dengan demikian, budaya akademik tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu memahami persoalan, tetapi juga calon pendidik yang memiliki kepedulian dan kesiapan untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
Selaras dengan SDGs
Kegiatan ini selaras dengan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong pendidikan yang relevan, inklusif, dan mendukung pengembangan kapasitas generasi muda. Selain itu, ruang dialog dan partisipasi mahasiswa turut berkaitan dengan SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, melalui penguatan budaya dialog, partisipasi, dan penyampaian aspirasi secara bertanggung jawab.
Pernyataan sikap tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari pengalaman akademik mahasiswa FITK untuk belajar bahwa menjadi calon pendidik bukan hanya tentang menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan pendidikan serta keberanian menyampaikan gagasan secara kritis, beretika, dan konstruktif.


