UIN Siber Cirebon — Hegemoni produksi pengetahuan global yang kerap menempatkan dunia Barat sebagai pusat dan melabeli tradisi Asia sebatas “pengetahuan lokal” kembali digugat di dunia akademik. Persoalan mengenai siapa yang mendefinisikan, memproduksi, dan mengontrol ilmu keagamaan menjadi sorotan utama dalam Seminar Internasional Dekolonisasi Pengetahuan Keagamaan yang dihelat di Gedung Siber Lantai 8 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (24/9/2026).
Forum ilmiah yang mempertemukan ratusan mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi se-Cirebon, serta para akademisi ini diinisiasi oleh Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Kiai Marzuki. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rektor IAI Buntet Pesantren Cirebon Dr. Fahad Ahmad Sadar, pengajar Perguruan Tinggi Suraya 3, serta jajaran pimpinan universitas lainnya. Acara dibuka dengan pembacaan basmalah dan doa bersama yang dipimpin oleh Prof. Dr. Juidi, M.Ag.
Menggugat Akar Kolonialisme dalam Pengetahuan
Dalam pengantarnya, forum mengajak civitas akademika mempertanyakan kembali makna dasar pengetahuan keagamaan (the meaning of religious knowledge). Selama ini, kekayaan intelektual dan tradisi Nusantara di Asia Tenggara terlalu sering diposisikan sekadar sebagai objek penelitian, alih-alih subjek otonom yang melahirkan kerangka berpikir mandiri.
Semangat dekolonisasi yang diusung bukanlah upaya xenofobia untuk menolak keilmuan dari wilayah tertentu, melainkan seruan kritis agar akademisi lebih cermat melihat sejarah produksi data, hierarki perspektif, dan relasi kuasa yang menyertainya.
Sejarawan dan ilmuwan politik Asia Tenggara dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Farish A. Noor, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa kolonialisme tidak berhenti pada penaklukan teritorial semata. Melalui penelusuran sejarah, ia mencontohkan bagaimana peta Jawa dan karya literatur era Thomas Stamford Raffles, seperti The History of Java (1817), menjadi instrumen pembentukan kekuasaan dan kontrol administratif yang berkelanjutan dalam bungkus ilmu pengetahuan.
Farish mengajak dunia akademik bergeser dari pola pikir universe—yang mendewakan satu kerangka dominan tunggal—menuju pluriverse yang merangkul keragaman perspektif dari berbagai belahan dunia seperti Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Tidak hanya itu, ia juga mengingatkan agar kajian Islam terbebas dari jebakan isu sempit seperti fundamentalisme, sekaligus mewaspadai tantangan era kecerdasan buatan (artificial intelligence) terkait kedaulatan data lokal.
Perspektif Gender dan Keadilan Narasi
Sementara itu, peneliti dan pakar gender Prof. Lies Marcoes Natsir, M.A., menyoroti bagaimana narasi tunggal dalam sejarah sering kali meminggirkan pengalaman kelompok tertentu, terkhusus perempuan.
Dalam pemaparannya, ia mengupas benturan antara definisi global—seperti kategori medis terhadap praktik kultural—dengan realitas pengalaman masyarakat akar rumput. Lies menekankan pentingnya menelusuri kembali rekam jejak intelektual perempuan dan merepratriasi artefak budaya agar konteks sosial asalnya tidak tercabut dari akar sejarah pengetahuan.
Sesi diskusi yang dipandu oleh Mas Baidowi tersebut berhasil memantik daya kritis generasi muda. Mahasiswa didorong untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang disajikan sebagai kebenaran mutlak, melainkan aktif mempertanyakan konteks, membandingkan tradisi keilmuan, dan membaca sumber secara mendalam.
Melalui seminar internasional ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sukses membukan ruang dialektika yang mempertemukan sejarah, agama, budaya, teknologi, dan keadilan gender—meneguhkan ikhtiar panjang merajut kedaulatan epistem berbasis keilmuan lokal.


