UIN Siber Cirebon – Kualitas calon guru diuji bukan hanya dari penguasaan materi, tetapi juga dari kemampuannya menghidupkan pembelajaran di kelas. Untuk memastikan kesiapan tersebut, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Wahyono, mendampingi ujian praktik PLP Ahmad Rifki, mahasiswa Program Studi Tadris Biologi, di SMA Negeri Tengah Tani, Kamis. Dalam ujian yang berlangsung pukul 06.45–08.45 WIB itu, Ahmad Rifki menerapkan model Problem Based Learning (PBL) untuk mengangkat materi pelestarian lingkungan sekaligus menghubungkan pembelajaran Biologi dengan persoalan nyata di sekitar peserta didik.(21/10/26).
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Wahyono, M.Pd.I melaksanakan kunjungan ke SMA Negeri Tengah Tani pada Kamis untuk mendampingi dan mengevaluasi ujian praktik mengajar Ahmad Rifki, mahasiswa Program Studi Tadris Biologi. Kegiatan berlangsung pukul 06.45–08.45 WIB dengan materi pelestarian lingkungan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari monitoring pelaksanaan PLP sekaligus upaya memastikan mahasiswa memperoleh pengalaman praktik yang mendukung pengembangan kompetensi pedagogis sebagai calon pendidik.
Evaluasi Praktik Mengajar Secara Langsung
Melalui pendampingan ini, pelaksanaan ujian praktik mengajar dapat diamati secara langsung dalam lingkungan sekolah. Evaluasi menjadi kesempatan untuk meninjau kesiapan mahasiswa dalam merencanakan pembelajaran, menguasai materi, memilih model pembelajaran, berkomunikasi dengan peserta didik, serta mengelola kegiatan belajar di kelas.
Monitoring juga membantu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah. Dengan begitu, praktik lapangan tidak hanya menjadi bagian dari penilaian akademik, tetapi juga ruang untuk belajar, melakukan refleksi, dan meningkatkan keterampilan mengajar.
Peran DPL penting dalam proses tersebut, terutama untuk memberikan pendampingan dan membantu mahasiswa mengenali aspek pembelajaran yang perlu dipertahankan maupun dikembangkan.
Angkat Isu Pelestarian Lingkungan melalui PBL
Dalam ujian praktiknya, Ahmad Rifki menerapkan model Problem Based Learning pada materi pelestarian lingkungan. Model ini menjadikan permasalahan sebagai titik awal pembelajaran agar peserta didik dapat memahami konsep melalui proses analisis dan pemecahan masalah.
Isu lingkungan, seperti penumpukan sampah, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem, dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi peserta didik untuk memahami bahwa Biologi bukan sekadar teori, melainkan ilmu yang berkaitan erat dengan kondisi di sekitar mereka.
Penerapan PBL juga mendorong pembelajaran yang memberi ruang bagi peserta didik untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mempertimbangkan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Dalam evaluasi praktik mengajar, kesesuaian tahapan PBL dengan tujuan pembelajaran menjadi salah satu aspek penting untuk diperhatikan.
Memperkuat Sinergi Kampus dan Sekolah
Pelaksanaan ujian PLP turut mencerminkan pentingnya kerja sama antara perguruan tinggi dan sekolah. Perguruan tinggi membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik dan pedagogis, sedangkan sekolah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
Melalui pendampingan DPL Wahyono, kegiatan praktik mengajar Ahmad Rifki menjadi bagian dari proses pembentukan calon guru yang siap menghadapi dinamika pembelajaran. Pengalaman ini diharapkan membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan mengajar, membangun tanggung jawab profesional, serta menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui program PLP terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik melalui pengalaman lapangan. Dengan pendampingan dan evaluasi yang terarah, praktik mengajar diharapkan menjadi proses pembelajaran yang bermakna, baik bagi mahasiswa maupun sekolah mitra.
Sebab, guru yang baik tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman belajar yang membantu peserta didik berpikir kritis, memahami persoalan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.





