Rektor UIN Siber Cirebon Ajak Sivitas Akademika Bijak Bermedia Sosial dan Perangi Disinformasi
UIN Siber Cirebon — Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat untuk bersama-sama melawan hoaks, disinformasi, serta berbagai bentuk manipulasi informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap sikap tegas Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual.
Menurut Prof. Aan Jaelani, perkembangan teknologi digital dan media sosial harus diimbangi dengan literasi informasi serta tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi kepada publik.
Hoaks dan Disinformasi Jadi Ancaman Persatuan Bangsa
Prof. Aan menilai bahwa maraknya hoaks dan framing negatif di media sosial tidak hanya merusak reputasi seseorang, tetapi juga mengganggu ketenangan sosial dan merusak nilai kemanusiaan.
“Di era digital hari ini, masyarakat harus semakin cerdas memilah informasi. Jangan sampai media sosial digunakan untuk menyebarkan fitnah, kebencian, atau disinformasi yang menyerang pribadi maupun lembaga tertentu,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa budaya saring sebelum sharing harus menjadi gerakan bersama, terutama di lingkungan akademik dan generasi muda.
Kekerasan Seksual Tidak Bisa Ditoleransi
Rektor menegaskan dukungannya terhadap komitmen Menteri Agama yang menyatakan tidak ada ruang toleransi bagi tindakan kekerasan maupun pelecehan seksual.
“Kekerasan seksual adalah tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan moralitas. Kampus, sekolah, maupun lembaga pendidikan keagamaan harus menjadi ruang aman, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh peserta didik,” ujar Prof. Aan Jaelani.
Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kampus Harus Jadi Garda Literasi Digital dan Etika Sosial
Sebagai perguruan tinggi berbasis siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab besar dalam membangun budaya literasi digital yang sehat dan beretika.
Prof. Aan menekankan bahwa sivitas akademika harus menjadi contoh dalam menggunakan media sosial secara bijak, santun, dan bertanggung jawab.
“Kampus harus hadir menjadi pusat edukasi digital yang mendorong masyarakat lebih kritis, lebih bijak, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan harmoni sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Kolaborasi Jadi Kunci Cegah Penyimpangan dan Hoaks
Prof. Aan mengapresiasi langkah Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memperkuat regulasi dan pengawasan di lingkungan pendidikan keagamaan, termasuk pembinaan pondok pesantren.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, masyarakat, dan media sangat penting untuk mencegah penyimpangan sekaligus menangkal penyebaran hoaks.
“Semua pihak harus bersatu menjaga ruang pendidikan tetap bersih, aman, dan kondusif. Jangan memberi ruang bagi kekerasan, fitnah, maupun provokasi yang dapat merusak masa depan generasi bangsa,” katanya.
Bijak Bermedia Sosial Adalah Bentuk Menjaga Kedamaian
Di akhir pernyataannya, Prof. Aan Jaelani mengajak masyarakat untuk menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai positif, edukasi, dan perdamaian.
“Bijak bermedia sosial bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal akhlak dan tanggung jawab moral. Mari menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan mampu memutus rantai hoaks demi menjaga kedamaian bersama,” pungkasnya.


