UIN Siber Cirebon (Jakarta, Kemenag) – Penguatan pendidikan, pembinaan keagamaan, dan ketahanan keluarga menjadi perhatian dalam Dialog Ahli Bersama Stakeholders Terkait Pencegahan Penyebaran Budaya Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) yang diselenggarakan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, Selasa (27/10/2026), di Trembesi Hotel BSD, Tangerang Selatan.
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., turut hadir sebagai peserta bersama para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) se-Indonesia. Forum ini menjadi ruang dialog untuk membahas pendekatan kebijakan, pendidikan, dan keagamaan dalam merespons isu LGBTQ, dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan tersebut menempatkan edukasi, penguatan nilai keagamaan, serta ketahanan keluarga dan budaya sebagai bagian dari strategi yang dibahas. Pendekatan ini penting agar upaya pembinaan masyarakat dilakukan secara terarah, berbasis pengetahuan, dan mengedepankan komunikasi yang bertanggung jawab.
DPR RI Soroti Perspektif Pertahanan Nonmiliter
Ketua Komisi VIII DPR RI, Prof. Dr. Iswandi Syahputra, menyampaikan pandangan umum bertema “LGBTQ sebagai Ancaman Pertahanan Negara Nonmiliter”. Paparan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai perspektif kebijakan negara dan respons terhadap isu yang menjadi perhatian dalam forum.
Pembahasan kebijakan pertahanan perlu dibaca secara cermat sesuai regulasi yang berlaku. Dalam konteks ini, dialog antarpemangku kepentingan diharapkan dapat mempertemukan perspektif pertahanan, pendidikan, sosial, dan keagamaan sehingga tindak lanjut kebijakan memiliki arah yang jelas.
Wamenag Tekankan Pentingnya Dialog dan Pembinaan
Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., dalam sambutannya menjelaskan urgensi, maksud, dan tujuan dialog. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membahas langkah pencegahan melalui edukasi dan pembinaan dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat.
Peran lembaga pendidikan dan perguruan tinggi keagamaan menjadi penting dalam memberikan pemahaman keagamaan yang memadai, memperkuat karakter, serta membangun keluarga yang mampu menghadapi tantangan sosial. Pelaksanaan program edukasi juga perlu memperhatikan usia, kebutuhan peserta, dasar ilmiah, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi juga mendorong pemahaman yang utuh, dialog yang sehat, dan tanggung jawab bersama.
Peran Perguruan Tinggi dalam Edukasi Masyarakat
Kehadiran Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam forum nasional ini mencerminkan keterlibatan perguruan tinggi keagamaan dalam dialog kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial.
Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman masyarakat melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Perguruan tinggi keagamaan perlu menghadirkan edukasi yang berbasis pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan tanggung jawab sosial. Penguatan keluarga serta pembinaan generasi muda harus dilakukan melalui pendekatan yang bijaksana, dialogis, dan menghormati martabat setiap manusia,” demikian rumusan pernyataan yang dapat dikonfirmasi kepada Rektor.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, keterlibatan dalam dialog semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kontribusi akademik dalam pengembangan materi edukasi, kajian sosial-keagamaan, serta program pembinaan keluarga dan generasi muda.
Mengedepankan Edukasi, Keluarga, dan Sikap Bijaksana
Isu LGBTQ memerlukan pembahasan yang cermat karena berkaitan dengan nilai agama, kebijakan publik, kesehatan, kehidupan sosial, dan hak asasi manusia. Masyarakat dapat memperkuat pendidikan agama dan ketahanan keluarga sesuai nilai yang dianut, sekaligus menghindari perundungan, kekerasan, serta perlakuan diskriminatif terhadap siapa pun.
Melalui dialog nasional ini, diharapkan lahir pemahaman dan langkah edukasi yang jelas, bertanggung jawab, serta dapat diterapkan oleh lembaga pendidikan dan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui kajian ilmiah dan pembinaan yang mendorong generasi muda berpikir kritis, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Ajakan bagi masyarakat, mari perkuat pendidikan agama, komunikasi terbuka dalam keluarga, dan pendampingan generasi muda. Perbedaan pandangan hendaknya disikapi dengan bijaksana, tanpa kekerasan atau penghinaan, sehingga pembinaan sosial dapat berjalan dengan tetap menjaga martabat manusia.






