UIN Siber Cirebon – Hamparan lautan manusia berpakaian ihram memenuhi area pelaksanaan Manasik Haji UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Minggu (7/6/2026). Takbir, talbiyah, doa, dan lantunan dzikir menggema, menghadirkan suasana yang membuat siapa pun yang menyaksikannya serasa sedang berada di Tanah Suci.
Sebanyak 2.700 mahasiswa dari seluruh fakultas dan program studi mengikuti Simulasi dan Praktik Ibadah Manasik Haji yang diselenggarakan oleh UPT Ma’had Al-Jamiah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Praktik Ibadah 2 yang wajib diikuti mahasiswa semester 4 serta mahasiswa semester atas yang belum menempuh mata kuliah tersebut.
Bagi sebagian mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar praktik akademik. Manasik haji dan umroh menjadi pengalaman spiritual yang menyentuh hati, memperdalam pemahaman agama, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Dari Ruang Kelas Menuju Pengalaman Spiritual yang Nyata
Sebelum mengikuti simulasi lapangan, para mahasiswa mendapatkan pembekalan intensif yang dilaksanakan dalam 38 kelas, terdiri dari 20 kelas sesi pagi dan 18 kelas sesi siang.
Pembelajaran diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman dasar mahasiswa mengenai tata cara ibadah haji, kemudian dilanjutkan dengan materi manasik yang mencakup rukun, wajib, sunnah, hingga filosofi mendalam dari setiap rangkaian ibadah.
Suasana pembelajaran berlangsung interaktif. Para mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diajak memahami makna spiritual di balik setiap langkah ibadah.
Direktur UPT Ma’had Al-Jamiah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Muhsin Riyadi, MA., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter mahasiswa.
“Manasik haji merupakan bagian dari Mata Kuliah Praktik Ibadah 2 yang wajib diikuti mahasiswa. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori fiqih ibadah, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara benar sekaligus merasakan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Haji Bukan Sekadar Ritual, Tetapi Sekolah Kehidupan
Menurut Dr. Muhsin Riyadi, ibadah haji sesungguhnya merupakan pendidikan kehidupan yang sangat lengkap.
Dalam setiap tahapan manasik, mahasiswa diajak belajar tentang disiplin, kesabaran, kepemimpinan, tanggung jawab, persaudaraan, hingga kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Saat mengenakan pakaian ihram, misalnya, seluruh peserta tampil sama tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, ataupun status akademik.
“Haji mengajarkan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah SWT. Nilai inilah yang sangat relevan untuk membentuk generasi muda yang religius, moderat, inklusif, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman,” jelasnya.
Menurutnya, pembelajaran seperti ini menjadi sangat penting di tengah era digital yang serba cepat, agar mahasiswa tetap memiliki fondasi spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
38 Kelompok, 2.700 Mahasiswa, Satu Semangat Menuju Baitullah
Untuk mendukung efektivitas pembelajaran, peserta dibagi ke dalam 38 kelompok, masing-masing berisi sekitar 70 mahasiswa.
Dalam simulasi tersebut, mahasiswa mempraktikkan secara langsung seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari:
- Ihram
- Thawaf
- Sa’i
- Wukuf di Arafah
- Mabit di Muzdalifah
- Mabit di Mina
- Lempar Jumrah
- Tahallul
Setiap tahapan dijelaskan oleh para tutor dan pendamping sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman yang mendekati kondisi nyata pelaksanaan ibadah haji.
Tak sedikit peserta yang mengaku tersentuh ketika memasuki simulasi wukuf di Arafah. Momen tersebut menjadi ruang refleksi yang membuat mereka merenungkan perjalanan hidup, dosa, cita-cita, dan hubungan mereka dengan Allah SWT.
Menanamkan Spiritualitas di Era Digital
Sebagai perguruan tinggi Islam berbasis siber pertama di Indonesia, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus mengintegrasikan teknologi dengan penguatan nilai-nilai keislaman.
Menurut Dr. Muhsin Riyadi, kemajuan teknologi tidak boleh menjauhkan mahasiswa dari dimensi spiritual.
“Kami ingin menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik dan digital, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, akhlak mulia, dan kesadaran kemanusiaan yang kuat. Manasik haji menjadi salah satu instrumen penting untuk mencapai tujuan tersebut,” tegasnya.
Wujud Implementasi SDGs dan Pendidikan Holistik
Kegiatan Manasik Haji UIN Siber Cirebon juga menjadi bagian dari implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di lingkungan perguruan tinggi.
Program ini berkontribusi terhadap:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis praktik.
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan kesehatan mental dan spiritual mahasiswa.
- SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui nilai kesetaraan yang diajarkan dalam ibadah haji.
- SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan moderasi beragama dan karakter kebangsaan.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas unit dalam mendukung pembelajaran keagamaan.
Mencetak Generasi Muslim Berilmu, Berakhlak, dan Mendunia
Melalui kegiatan yang melibatkan sekitar 2.700 mahasiswa ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga menyentuh dimensi ruhani peserta didik.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, manasik haji menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan nilai ketauhidan, akhlak, dan kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi indeks prestasinya, tetapi juga dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya, memahami sesamanya, dan memberikan manfaat bagi dunia.
Dengan semangat itulah, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus melangkah mencetak generasi muslim yang unggul, berkarakter, berwawasan global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.








