UIN Siber Cirebon — Upaya membangun budaya peduli lingkungan melalui pendidikan diperkuat Yayasan Akmala Sabila Cirebon. Melalui Seminar Program Sinau Berkah, Sabtu (19/9/2026), lingkungan pesantren didorong menjadi ruang belajar yang mampu menanamkan kebiasaan menjaga bumi sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Yayasan Akmala Sabila, Kabupaten Cirebon, tersebut menghadirkan Dr. Taufiq Supriadi, M.T., Ketua RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, sebagai narasumber utama.
Dr. Taufiq dikenal sebagai Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet dan penggagas Survival Architecture Indonesia. Pengalamannya membangun gerakan lingkungan berbasis masyarakat menjadi salah satu inspirasi dalam pengembangan Program Sinau Berkah.
Menurut Dr. Taufiq, gerakan menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan program besar. Perubahan dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, seperti rumah, sekolah, pesantren, hingga lingkungan RT.
“Kami berkomitmen, dari lorong sempit lahir solusi besar. Kalau satu RT bisa, Indonesia berarti bisa berubah.”
Penelitian Sinau Berkah Dipimpin Prof. Dr. Hj. Nurlela
Seminar tersebut merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan Program Sinau Berkah yang diketuai oleh Prof. Dr. Hj. Nurlela, M.Ag., Ketua Yayasan Akmala Sabila sekaligus Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Penelitian ini melibatkan Dr. Ade Hidayat, M.Pd. dan Dr. Iis Arifudin, M.Ag. sebagai anggota tim.
Penelitian tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan nilai keislaman, kepedulian lingkungan, pembelajaran, serta keterlibatan masyarakat.
Melalui Sinau Berkah, pendidikan lingkungan diarahkan agar tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Peserta didik diharapkan mendapatkan pengalaman langsung melalui kebiasaan sehari-hari yang peduli terhadap lingkungan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dr. Budi Manfaat, M.Si., Kepala Pusat PKM dan SDGs LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Peserta seminar terdiri atas guru dan tenaga kependidikan Yayasan Akmala Sabila, santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Akmala Sabila, serta para orang tua peserta didik, khususnya dari SD IT Akmala Sabila.
Pengelolaan Sampah Jadi Bagian dari Pendidikan
Salah satu fokus yang dikembangkan melalui Sinau Berkah adalah pengelolaan lingkungan, khususnya ekosistem sampah di lingkungan pesantren.
Sampah diharapkan tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan. Aktivitas memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran santri.
Dengan demikian, santri tidak hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekopedagogi, yakni pendidikan yang menjadikan lingkungan sebagai bagian dari proses belajar sekaligus membangun kesadaran manusia untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Teknologi Digital untuk Menyebarkan Praktik Baik
Dalam seminar, Dr. Taufiq juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan edukasi dan praktik baik lingkungan.
“Niatkan apa yang kita lakukan terkait kebaikan lingkungan untuk mengajarkan dan menunjukkan bahwa kita telah berbuat. Niatkan bukan untuk ria atau pamer, tetapi tunjukkan kepada dunia bahwa kita berbuat baik untuk menjaga bumi.”
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan media digital. Praktik baik yang dilakukan sekolah, pesantren, keluarga, maupun masyarakat dapat didokumentasikan dan dibagikan sebagai sumber inspirasi bagi lingkungan lainnya.
Akmala Sabila Menuju Pesantren Ramah Lingkungan
Program Sinau Berkah mendapat dukungan dari Kepala Pondok Pesantren Akmala Sabila, Kyai Dr. M. Habib Khaerussani, M.Pd.
Dukungan tersebut diharapkan memperkuat penerapan Sinau Berkah sehingga berkembang dari sebuah program menjadi budaya bersama yang melibatkan pimpinan pesantren, guru, tenaga kependidikan, santri, dan orang tua.
Ke depan, Pondok Pesantren Akmala Sabila diharapkan dapat menjadi salah satu model pesantren yang mengintegrasikan pendidikan, nilai keislaman, kepedulian lingkungan, dan pengelolaan sampah secara nyata.
Semangat yang dibangun sederhana, tetapi penting: perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil.
Dari pesantren, dari ruang kelas, dari rumah, bahkan dari satu tempat sampah yang dipilah dengan benar.
Sinau Berkah bukan sekadar belajar tentang lingkungan, tetapi belajar untuk hidup bersama lingkungan.






