UIN Siber Cirebon – UPT Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperluas akses pendidikan tinggi berbasis digital melalui penguatan kolaborasi dengan pesantren. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Penguatan Kemitraan Kampus–Pesantren: Sosialisasi Pendidikan Jarak Jauh dan Peningkatan Kompetensi Akademik Santri Berbasis Literasi Digital” yang digelar secara hybrid pada Rabu (3/6/2026) di Gedung Siber SBSN Lantai 8 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, para Ketua dan Sekretaris Program Studi PJJ, pimpinan pesantren, serta KH. Hilmi As-Shidqi Al-Aroqi beserta rombongan dari Zawiyah Al Hikam Indonesia.
Ratusan Peserta Ikuti Sosialisasi PJJ UIN Siber Cirebon
Kepala UPT Pendidikan Jarak Jauh UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Muslihuddin, M.Ag., dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi kampus dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi kalangan pesantren melalui sistem pembelajaran berbasis teknologi digital.
Menurutnya, antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat sebanyak 80 peserta hadir secara langsung (offline), sementara 561 peserta mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara kampus dan pesantren dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, fleksibel, dan berkualitas. Literasi digital menjadi kebutuhan utama di era saat ini, sehingga santri perlu mendapatkan akses dan pemahaman yang memadai terkait sistem pembelajaran modern,” ujar Dr. Muslihuddin.
Ia menambahkan bahwa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus berupaya menghadirkan layanan pendidikan yang dapat menjangkau masyarakat luas tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Hilmi: PJJ Membuka Peluang Besar bagi Santri
Dalam sambutannya, KH. Hilmi As-Shidqi Al-Aroqi, Ketua Zawiyah Al Hikam Indonesia sekaligus dosen STKQ Al Hikam Depok, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Ia menilai bahwa program Pendidikan Jarak Jauh yang dikembangkan UIN Siber merupakan inovasi strategis yang mampu menjawab kebutuhan santri di era digital.
“Kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang luar biasa dari keluarga besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi kami dan para santri mengenai peluang melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan aktivitas pesantren maupun pekerjaan yang sedang dijalani,” ungkap KH. Hilmi.
Menurutnya, model pembelajaran berbasis digital membuka kesempatan yang lebih luas bagi santri untuk meningkatkan kompetensi akademik sekaligus memperkuat literasi teknologi yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kemitraan kampus dan pesantren seperti ini sangat penting. Santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga dibekali kemampuan akademik dan digital agar mampu bersaing serta berkontribusi di tengah perkembangan zaman,” tambahnya.
Wakil Rektor I Paparkan Sejarah dan Keunggulan PJJ UIN Siber Cirebon
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Ayus A. Yusuf, M.Si., menyampaikan materi sosialisasi mengenai perkembangan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di lingkungan kampus.
Dalam paparannya, Dr. Ayus menjelaskan bahwa perjalanan transformasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dimulai ketika kampus yang saat itu masih berstatus IAIN Syekh Nurjati Cirebon mendapatkan mandat sebagai pilot project Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berbasis digital pertama di Indonesia melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 860 Tahun 2023.
Transformasi tersebut kemudian diperkuat dengan perubahan kelembagaan dari IAIN menjadi UIN melalui Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2024, yang menjadi tonggak lahirnya UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai kampus siber pertama di Indonesia.
“Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi perubahan paradigma pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat,” jelas Dr. Ayus.
Ia juga memaparkan enam program studi Pendidikan Jarak Jauh yang saat ini telah dikembangkan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yaitu:
- PJJ S1 Pendidikan Agama Islam (PAI)
- PJJ S1 Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
- PJJ S1 Hukum Keluarga Islam (HKI)
- PJJ S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
- PJJ S1 Sejarah Peradaban Islam (SPI)
- PJJ S2 Pendidikan Agama Islam (PAI)
Sistem Pembelajaran Fleksibel Berbasis LMS
Dalam sesi sosialisasi, Dr. Ayus juga menjelaskan tata kelola akademik dan sistem perkuliahan yang diterapkan pada program PJJ.
Mahasiswa PJJ menempuh masa studi selama delapan semester dengan total beban studi 144 SKS, atau rata-rata 18 SKS per semester.
Setiap SKS memiliki bobot pembelajaran selama 170 menit dalam satu kali pertemuan, yang dilaksanakan melalui kombinasi pembelajaran sinkron dan asinkron.
Untuk setiap mata kuliah, mahasiswa mengikuti:
- 18 kali pertemuan sinkronus melalui video conference;
- 12 kali aktivitas asinkronus melalui Learning Management System (LMS), modul digital, video pembelajaran, forum diskusi, dan berbagai aktivitas pembelajaran daring lainnya.
Menurut Dr. Ayus, sistem tersebut dirancang agar mahasiswa tetap memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas sekaligus memiliki fleksibilitas dalam mengatur waktu belajar.
“Kuliah Aman, Kerja Nyaman”
Menutup paparannya, Dr. Ayus memperkenalkan tagline program Pendidikan Jarak Jauh UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yaitu:
“Kuliah Aman, Kerja Nyaman.”
Tagline tersebut menggambarkan komitmen kampus dalam memberikan kesempatan kepada masyarakat, pekerja, guru, santri, maupun siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan aktivitas utama mereka.
Melalui penguatan kemitraan kampus-pesantren ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap semakin banyak santri yang mendapatkan akses pendidikan tinggi berkualitas berbasis digital, sehingga mampu melahirkan generasi unggul yang religius, adaptif, dan siap menghadapi tantangan era transformasi digital.








