UIN Siber Cirebon — Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar yang mengubah perjalanan sejarah bangsa: kemerdekaan. Namun, memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tidak seharusnya dimaknai hanya dengan upacara, perlombaan, atau seremoni semata. Di balik kemerdekaan yang kita nikmati hari ini, terdapat perjuangan, pengorbanan, doa, dan persatuan yang menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia.
Karena itu, saya memandang pelaksanaan Zikir dan Doa Kebangsaan yang akan diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia pada 1 Agustus 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, sebagai sebuah ikhtiar kebangsaan yang memiliki makna sangat mendalam. Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, melainkan momentum untuk menyatukan dimensi spiritual dan nasionalisme dalam satu semangat membangun Indonesia.
Kemerdekaan Adalah Amanah yang Harus Disyukuri
Kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan fisik para pahlawan, tetapi juga buah dari doa, ikhtiar, dan keyakinan bahwa bangsa ini mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Oleh sebab itu, rasa syukur atas kemerdekaan harus diwujudkan tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memperkuat persatuan, memperkokoh toleransi, serta meningkatkan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Zikir dan doa mengingatkan kita bahwa pembangunan nasional tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual dan kekuatan ekonomi, tetapi juga memerlukan kekuatan moral dan spiritual. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyeimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keimanan, etika, dan kemanusiaan.
Doa Menyatukan Keberagaman Indonesia
Salah satu hal yang patut diapresiasi dari kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan adalah keterlibatan seluruh unsur masyarakat dan berbagai pemeluk agama. Kehadiran tokoh agama, pelajar, santri, mahasiswa, guru, organisasi kemasyarakatan, aparatur sipil negara, hingga masyarakat umum menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu.
Ketika doa dipanjatkan dari berbagai tradisi keagamaan dengan tujuan yang sama, yaitu memohon keselamatan, kedamaian, dan kemajuan bangsa, di situlah nilai luhur Pancasila menemukan maknanya dalam kehidupan nyata.
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan justru lahir ketika kita mampu menghormati perbedaan dan menjadikannya sebagai kekuatan bersama.
Perguruan Tinggi Memiliki Tanggung Jawab Kebangsaan
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memandang bahwa pembangunan karakter kebangsaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.
Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional. Mereka juga harus memiliki karakter religius, nasionalis, moderat, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.
Karena itu, kegiatan seperti Zikir dan Doa Kebangsaan memiliki nilai edukatif yang sangat besar. Ia mengajarkan bahwa kecintaan kepada bangsa tidak bertentangan dengan ajaran agama. Sebaliknya, semangat kebangsaan menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan yang mendorong persaudaraan, keadilan, dan kemaslahatan.
Dari Zikir Menuju Aksi Nyata
Zikir adalah bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Doa adalah ungkapan harapan agar bangsa ini senantiasa diberikan perlindungan dan keberkahan. Namun, keduanya akan memiliki makna yang lebih besar apabila diikuti dengan tindakan nyata.
Membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan doa. Kita memerlukan integritas dalam bekerja, kejujuran dalam mengelola amanah, kepedulian terhadap sesama, semangat gotong royong, dan komitmen untuk terus berkarya.
Bagi sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, semangat tersebut diwujudkan melalui pendidikan yang berkualitas, riset yang berdampak, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Inilah bentuk syukur yang paling nyata atas kemerdekaan.
Menjaga Persatuan di Era Digital
Tantangan Indonesia saat ini tidak lagi hanya berasal dari persoalan ekonomi atau geopolitik. Di era digital, bangsa ini juga menghadapi derasnya arus informasi, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta polarisasi yang dapat mengancam persatuan.
Karena itu, nilai-nilai yang dibangun melalui Zikir dan Doa Kebangsaan harus terus hidup dalam ruang digital. Media sosial hendaknya menjadi sarana menyebarkan optimisme, literasi, toleransi, dan semangat kebangsaan, bukan ruang untuk memperbesar perpecahan.
Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem digital yang sehat, cerdas, dan beretika.
Indonesia Maju Berawal dari Hati yang Bersatu
Saya percaya bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam atau kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas karakter manusianya.
Ketika doa memperkuat harapan, zikir menumbuhkan keikhlasan, dan persatuan menjadi budaya bersama, Indonesia akan memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Mari kita jadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum memperkuat rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan memperbarui komitmen untuk terus berkarya bagi bangsa.
Karena sesungguhnya, kemerdekaan bukan hanya warisan yang kita nikmati, melainkan amanah yang harus kita jaga dan kita isi dengan karya terbaik.
Semoga Indonesia senantiasa menjadi negeri yang damai, adil, maju, serta diberkahi oleh Allah SWT. Dengan zikir kita mendekatkan diri kepada-Nya, dengan doa kita menguatkan harapan, dan dengan persatuan kita melangkah bersama menuju Indonesia Emas 2045.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


