UIN Siber Cirebon (Kudus) – Transformasi digital tidak lagi sekadar menjadi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi dalam menghadapi era keterbukaan informasi. Pesan inilah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) “Peningkatan Kolaborasi PTKIN Menuju Kampus Bereputasi Internasional” yang digelar di Aula Lantai 5 Gedung Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kudus, 29–31 Juli 2026.
Salah satu isu strategis yang menjadi perhatian peserta adalah konsep “Kampus Informatif”, yakni perguruan tinggi yang mampu menghadirkan layanan informasi secara cepat, transparan, akurat, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Konsep ini dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang modern sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.
Forum tersebut menghadirkan Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Ismail Cawidu, M.Si., sebagai narasumber utama yang memberikan arahan mengenai penguatan komunikasi publik dan transformasi digital di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Reputasi Kampus Dibangun Melalui Keterbukaan Informasi
Dalam paparannya, Dr. Ismail Cawidu menegaskan bahwa reputasi sebuah perguruan tinggi saat ini tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, kualitas riset, atau jumlah publikasi ilmiah. Kemampuan institusi dalam mengelola informasi secara profesional juga menjadi faktor penting yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat.
“Kampus informatif adalah kampus yang mampu menghadirkan informasi secara cepat, transparan, akurat, dan mudah diakses oleh masyarakat. Pengelolaan informasi yang baik akan membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat reputasi institusi,” tegas Dr. Ismail Cawidu.
Menurutnya, di era digital masyarakat menginginkan akses informasi yang mudah dan cepat. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mampu memberikan pelayanan informasi yang terbuka, responsif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Digitalisasi Harus Memberikan Manfaat Nyata
Dr. Ismail juga mengingatkan bahwa transformasi digital tidak boleh berhenti pada pembangunan aplikasi, portal, atau sistem informasi semata. Seluruh inovasi digital harus mampu memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, calon mahasiswa, alumni, hingga masyarakat luas.
Layanan akademik, informasi publik, pengelolaan data, hingga komunikasi melalui media digital harus dirancang dengan pendekatan yang berorientasi pada pengguna (user-centered service). Dengan demikian, digitalisasi benar-benar menjadi solusi yang mempermudah pelayanan, bukan justru menambah kompleksitas birokrasi.
Penguatan PPID dan Kehumasan Menjadi Prioritas
Diskusi berlangsung dinamis ketika para delegasi PTKIN dari Jawa Tengah, Ponorogo, dan Cirebon berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi di masing-masing institusi.
Beberapa isu yang mengemuka meliputi keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi, pengelolaan media digital yang semakin kompleks, hingga strategi menghadapi penyebaran hoaks dan disinformasi yang dapat memengaruhi citra perguruan tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Ismail Cawidu menekankan pentingnya memperkuat peran Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) serta unit kehumasan sebagai garda terdepan dalam membangun komunikasi publik yang efektif.
Menurutnya, pengelola informasi harus bekerja secara proaktif, mampu membaca dinamika masyarakat, serta menghadirkan informasi yang valid, edukatif, dan mudah dipahami oleh publik.
Ia juga mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang paling dibutuhkan adalah kepemimpinan yang visioner, budaya kolaborasi, serta kreativitas dalam memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Kolaborasi Antar PTKIN Semakin Diperkuat
Selain membahas strategi komunikasi publik, forum ini juga menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat jejaring kolaborasi antar PTKIN se-Jawa Tengah, Ponorogo, dan Cirebon.
Melalui kolaborasi tersebut, setiap perguruan tinggi diharapkan dapat saling berbagi praktik baik (best practices), inovasi layanan digital, strategi pengelolaan informasi, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Sinergi ini diyakini mampu mempercepat pemerataan kualitas layanan informasi publik di lingkungan PTKIN sekaligus memperkuat daya saing perguruan tinggi Islam Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Menuju Kampus Bereputasi Internasional
Forum FGD ini menegaskan bahwa keterbukaan informasi, komunikasi publik yang profesional, dan transformasi digital merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun perguruan tinggi bereputasi internasional.
Bagi seluruh peserta, termasuk delegasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, hasil diskusi ini menjadi bekal strategis dalam memperkuat tata kelola kampus yang lebih adaptif, transparan, dan inovatif.
Dengan semangat kolaborasi dan komitmen bersama, PTKIN optimistis mampu menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang semakin berkualitas, terpercaya, serta mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Transformasi menuju “Kampus Informatif” bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan budaya kerja yang menempatkan keterbukaan informasi, pelayanan publik, dan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam membangun perguruan tinggi Islam yang unggul dan mendunia.



