UIN Siber Cirebon (Rabat, Maroko) — Senin pagi, 12 Oktober 2026, udara Rabat yang sejuk menyambut kami di sebuah gedung putih berpagar pohon palem di Avenue Mohamed El Fassi. Gedung itu adalah markas The Netherlands Institute in Morocco (NIMAR), lembaga pendidikan dan riset Belanda yang tahun ini genap berusia dua puluh tahun. Di tempat inilah, hampir dua pekan ke depan, kami belajar sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi menentukan arah studi Islam Indonesia: bagaimana meneliti Islam secara komparatif, dan bagaimana menjadikan riset sebagai jembatan kerja sama antarbangsa.
Prof. Dr. H. Faqihuddin Abdul Kodir, MA., menjelaskan, kami berjumlah dua belas orang, lima perempuan dan tujuh laki-laki, peserta Short Course Luar Negeri yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Kami datang dari kampus yang tersebar dari ujung barat hingga timur Nusantara: Banda Aceh, Lhokseumawe, Metro Lampung, Jakarta, Cirebon, Suryalaya, Kudus, Kediri, Madura, Ponorogo, Pare-Pare, hingga Kendari. Komposisi ini seperti miniatur wajah perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia, yang beragam latar, disiplin, dan pengalaman risetnya.
Program bertajuk “Comparing Islam Across Cultures: Knowledge, Practice, and Public Life in a Changing World” ini digelar bersama oleh NIMAR, Kementerian Agama RI, dan Universitas Leiden melalui Leiden Indonesia/KITLV-Jakarta, pada 11–23 Oktober 2026. Rancangannya berlapis: kursus metodologi riset, pengabdian masyarakat berbasis riset, dan penulisan akademik; kunjungan lapangan ke Tangier dan Fes; sesi perjodohan (matchmaking) dan penyusunan proposal kolaborasi Leiden–Kementerian Agama yang diarahkan ke skema pendanaan AIR Fund 2027; simposium dua hari di Universitas Mohammed V Rabat; lalu ditutup dengan presentasi peserta.
“Kami Bukan Mata-mata”
Hari pertama dibuka dengan perkenalan: tentang NIMAR, para instruktur, fasilitator, panitia, dan sesama peserta. Suasana yang semula formal langsung cair ketika Direktur NIMAR, Prof. Léon Buskens, membuka sambutannya dengan seloroh.
“Secara hukum, NIMAR berada di bawah Kedutaan Besar Belanda di Rabat. Tapi percayalah, kami bukan mata-mata. Hanya dengan cara inilah kami bisa berdiri secara legal di Maroko. Jadi, kami tidak sedang memata-matai Anda semua,” ujarnya, disambut tawa peserta.
Buskens lalu menuturkan perjalanan lembaganya. NIMAR didirikan pada 2006 dan hingga 2015 dikelola Radboud University. Sejak 2016, NIMAR bernaung di bawah Fakultas Humaniora Universitas Leiden, salah satu pusat studi Islam dan Indonesia tertua di Eropa.
Menurut Buskens, NIMAR menjalankan beragam kerja pendidikan: kursus bahasa dan budaya, program kunjungan studi dari berbagai negara, penelitian, serta perpustakaan yang cukup lengkap untuk studi Maroko. Namun, peran terpentingnya adalah menjadi simpul kerja sama antara institusi dan perguruan tinggi Maroko dengan mitra dari Prancis, Belgia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan juga Indonesia.
“NIMAR adalah tempat yang paling tepat jika Anda ingin belajar sekaligus mencari model kerja sama pendidikan dan riset, baik dengan institusi di Maroko maupun dengan Belanda dan negara lain. Selama dua minggu ini, Anda tidak hanya akan belajar metodologi riset, tetapi juga menemukan mitra kerja sama untuk riset itu,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi kunci untuk memahami mengapa belajar metodologi di Maroko berbeda. Kelas di NIMAR bukan ruang yang berhenti pada teori. Ia dirancang sebagai titik temu tiga ekosistem akademik, yakni Indonesia, Maroko, dan Belanda, yang masing-masing membawa tradisi keilmuan, jaringan, dan sumber daya riset sendiri.
Posisi historis Maroko menambah daya tariknya. Negeri di ujung barat dunia Islam ini mewarisi tradisi Mazhab Maliki, jejaring ulama Andalusia, serta kota-kota tua seperti Fes, tempat berdirinya al-Qarawiyyin, salah satu lembaga pendidikan tertua di dunia. Bagi peneliti Indonesia, Maroko adalah cermin yang jauh secara jarak, tetapi dekat secara tradisi.
Indonesia dan Maroko: Serupa, tetapi Tak Sama
Kuliah pembuka disampaikan Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dengan judul yang sama dengan tema program, “Comparing Islam Across Cultures”. Berbekal lensa teori “tradisi diskursif” (discursive tradition) dari antropolog Talal Asad, Arskal mengajak peserta melihat Indonesia dan Maroko sebagai dua laboratorium yang saling bercermin.
Kedua negara, kata Arskal, memiliki banyak kesamaan. Keduanya berpijak pada teologi Asy’ari, tradisi tasawuf, dan fikih bermazhab. Keduanya juga menghadapi pergulatan yang mirip: tarik-menarik antara pembaruan dan tradisi, relasi antara logika dan hukum, hingga tantangan media baru, termasuk kecerdasan buatan.
Namun, ada perbedaan mendasar. Di Indonesia, wajah Islam lebih banyak dibentuk oleh komunitas, tumbuh dari bawah ke atas melalui organisasi masyarakat, pesantren, dan gerakan akar rumput. Di Maroko, otoritas keagamaan lebih banyak didefinisikan oleh negara dan mengalir ke masyarakat.
Perbedaan itu tampak jelas, misalnya, dalam isu perempuan. Di kedua negara, gagasan feminis semula kerap dicurigai sebagai produk sekuler. Lalu hadir feminisme Islam, dan kini tumbuh apa yang disebut feminisme dekolonial, yang lahir dari pengalaman dan pengetahuan lokal. Arskal menyebut Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Indonesia dan para murshidat, pembimbing agama perempuan, di Maroko sebagai dua contoh yang menarik untuk dibandingkan. Tema ini akan diperdalam pada Rabu (14/10) oleh Prof. Raja Rhouni dari Universitas Chouaib Doukkali, El Jadida, yang mengulas lintasan pemikiran Fatima Mernissi dari feminisme sekuler, ke feminisme Islam, hingga feminisme dekolonial.
“Heritage is made, not found,” ujar Arskal. Warisan tidak ditemukan begitu saja, tetapi dibentuk, dirawat, dan ditafsirkan ulang oleh manusia dari generasi ke generasi. Kalimat ini sekaligus menjadi pengantar bagi simposium tentang warisan (heritage) yang akan digelar di Universitas Mohammed V pada pekan kedua.
Tiga Bekal Metodologis
Dari kerangka itu, Arskal merumuskan tiga bekal yang akan dipelajari peserta selama kursus.
Pertama, “compare questions, not essence” (bandingkan pertanyaannya, bukan esensinya). Perbandingan yang bermakna tidak berangkat dari klaim tentang “Islam Indonesia yang sejati” atau “Islam Maroko yang asli”. Perbandingan dimulai dari pertanyaan bersama: bagaimana otoritas agama dibangun, bagaimana perempuan memperoleh ruang tafsir, atau bagaimana negara dan masyarakat menegosiasikan tradisi.
Kedua, “combine methods” (padukan metode). Fenomena keagamaan yang kompleks tidak cukup didekati dengan satu cara. Teks klasik perlu dibaca berdampingan dengan observasi lapangan, survei, wawancara, dan arsip digital, agar gambaran yang dihasilkan utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, “research responsibility” (tanggung jawab riset). Peneliti tidak hanya bertanggung jawab pada data dan teori, tetapi juga pada komunitas yang diteliti, pada etika, serta pada dampak sosial dari pengetahuan yang dihasilkan.
Jadwal kursus menerjemahkan ketiga prinsip itu secara konkret. Pada hari pertama, Prof. Eka Srimulyani dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Dr. Ahmad Nuril Huda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memandu sesi tentang merumuskan masalah penelitian, mengaitkan pertanyaan riset dengan teori dan metode, hingga mengubah topik menjadi proposal yang layak (feasible research proposal). Sesi berikutnya membahas perbandingan yang bermakna secara analitis dan cara menyiapkan proposal untuk skema pendanaan kolaboratif.
Sore harinya, Prof. Youssef Madrari dari Universitas Mohammed I, Oujda, menyampaikan kuliah tentang melemahnya otoritas keagamaan tradisional dan bangkitnya Salafisme di Maroko pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bagi peserta dari Indonesia, kisah ini terasa akrab. Periode yang sama juga menjadi masa pergulatan antara kaum tradisionalis dan pembaru di Nusantara.
Hari-hari berikutnya tak kalah padat. Ada sesi survei bersama Rizal Shidiq dari Universitas Leiden, wawancara dan observasi bersama Ahmad Nuril Huda, serta penulisan etnografi bersama David Kloos dari KITLV. Peserta juga akan belajar meneliti media sosial dan kehidupan beragama sehari-hari, mengolah arsip digital bersama Verena Meyer dan Syaifudin Zuhri, membawa riset hingga publikasi bersama Abdurrouf Oueslati dari penerbit Brill, serta mendalami etika riset, manajemen data, dan pengabdian masyarakat berbasis riset bersama Annemarie Samuels dan Bart Barendregt.
Para akademisi Maroko melengkapi perspektif itu. Prof. Fouad Ben Ahmed dari Universitas al-Qarawiyyin mengangkat filsafat dan logika dalam budaya intelektual Islam, sementara Prof. Salim Hmimnat dari Universitas Mohammed V membedah “Islam sebagai seni bernegara” dalam kasus Maroko. Seluruh metode itu kemudian diuji di lapangan: menelusuri jejak Ibn Battuta di Tangier, dan mencari wajah “kota Islam Barat” di Fes, bersama Léon Buskens dan Fatima Zahrae Khay.
Bukan Sekadar Peserta
Sebelum memuali sesi ceramah akademik, Arskal menyampaikan pesan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Prof. Dr. Kamarudin Amin. “Kalian di sini tidak hanya sebagai peserta kursus, tetapi juga merepresentasikan kesarjanaan Islam Indonesia. Maka tunjukkan kapasitas riset kalian, pastikan ada kolaborasi yang konkret, dan temukan wawasan komparatif,” ujar Arskal menirukan pesan itu.
Pesan tersebut menegaskan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya peningkatan kapasitas individu. Program ini adalah bagian dari diplomasi akademik. Ia membawa nama Islam Indonesia, yang dikenal moderat, berbasis komunitas, dan kaya pengalaman, ke panggung keilmuan global, sekaligus belajar dari tradisi intelektual Maghribi yang panjang.
Karena itu, kolaborasi dirancang sebagai hasil nyata, bukan bonus. Pada 18 Oktober, peserta akan mengikuti sesi riset di bawah Kementerian Agama, matchmaking paralel dengan calon mitra, dan penyusunan kerangka proposal. Pada 20–21 Oktober, simposium di Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora Universitas Mohammed V akan membahas gender, hukum, dan pembentukan warisan. Rangkaian ditutup dengan kunjungan Rektor Universitas Leiden dan diskusi trilateral pada 22 Oktober, bertepatan dengan perayaan lustrum NIMAR.
Di titik inilah keunikan belajar metodologi di Maroko menemukan maknanya. Peserta tidak hanya pulang membawa sertifikat dan catatan kuliah. Mereka membawa jejaring, rancangan proposal bersama, dan cara pandang baru tentang Islam yang ternyata bisa dipahami lebih dalam ketika dibandingkan. Dari Rabat, sebuah poros riset Indonesia–Maroko–Leiden sedang dirajut, dan pintunya terbuka bagi kampus serta negara lain yang ingin bergabung.
Oleh Faqihuddin Abdul Kodir




