Edukasi Kampus Aman dan Etika Digital Jadi Langkah Nyata Lindungi Generasi Muda di Era Media Sosial
UIN Siber Cirebon — Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan melalui kegiatan sosialisasi bertema “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual serta Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)” yang digelar pada 21 April 2026.
Kegiatan ini mendapat perhatian besar dari mahasiswa Informatika yang aktif berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kasus kekerasan seksual dan ancaman digital di era media sosial.
Mengusung semangat bahwa “kampus bukan ruang aman jika semua orang memilih diam”, kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bersama tentang pentingnya keberanian bersikap terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Mahasiswa Informatika Diajak Lebih Peka terhadap Kekerasan yang Sering Dianggap Sepele
Dalam sesi sosialisasi, peserta diajak memahami bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk tindakan fisik atau kasus ekstrem. Banyak perilaku yang selama ini dianggap “candaan biasa” ternyata termasuk bentuk kekerasan yang berdampak serius bagi korban.
Materi sosialisasi mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 yang mengatur berbagai bentuk tindak pidana kekerasan seksual, baik fisik, verbal, nonfisik, hingga berbasis digital.
Narasumber menegaskan bahwa keberadaan undang-undang saja tidak cukup apabila lingkungan sekitar masih permisif dan memilih diam.
“Kampus bukan ruang aman jika semua pihak memilih diam. Pencegahan kekerasan seksual harus dimulai dari kesadaran bersama,” disampaikan dalam sesi edukasi.
Lutfiah Handayani: Kekerasan Bisa Berawal dari Hal yang Dianggap Biasa
Dalam pemaparannya, Lutfiah Handayani menjelaskan bahwa tindakan seperti:
- Catcalling
- Komentar bernuansa seksual
- Pelecehan verbal
- Penyebaran foto atau video tanpa izin
- Intimidasi di media sosial
merupakan bentuk kekerasan yang sering kali diremehkan, padahal dapat meninggalkan trauma psikologis mendalam.
“Masalahnya bukan hanya pada pelaku, tapi juga pada lingkungan yang permisif. Kita sering menganggap ini hal sepele, padahal dampaknya nyata dan berkepanjangan,” tegasnya.
Menurutnya, ukuran utama kekerasan adalah ketika seseorang merasa tidak aman, tertekan, dirugikan, atau kehilangan kenyamanan dalam beraktivitas.
Ancaman KBGO Meningkat di Era Digital
Selain membahas kekerasan seksual secara umum, kegiatan ini juga menyoroti fenomena Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang semakin meningkat seiring masifnya penggunaan media sosial dan teknologi digital.
Peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk KBGO seperti:
- Cyber harassment
- Cyber grooming
- Cyber stalking
- Penyebaran konten intim tanpa izin (revenge porn)
- Pelacakan lokasi dan aktivitas digital korban
Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa tekanan psikologis, tetapi juga kerugian ekonomi, trauma berkepanjangan, hingga isolasi sosial.
Mahasiswa Informatika Siap Jadi Agen Perubahan Digital yang Beretika
Mahasiswa Informatika yang menjadi delegasi kegiatan, Nisa Naila dan Ananda Rizqi Kurniawan, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya etika digital dan tanggung jawab sosial di era teknologi.
“Melalui kegiatan ini, kami jadi lebih memahami bahwa kekerasan tidak selalu terlihat jelas. Hal-hal kecil seperti komentar di media sosial bisa berdampak besar bagi orang lain. Ini menjadi pengingat untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun digital,” ungkap Nisa Naila.
Mereka menilai mahasiswa Informatika memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan bebas kekerasan.
Edukasi dan Kepedulian Jadi Kunci Ciptakan Kampus Aman
Selain edukasi, peserta juga dibekali langkah konkret apabila menjadi korban maupun saksi kekerasan seksual dan KBGO, di antaranya:
- Mendokumentasikan bukti digital
- Memanfaatkan fitur pelaporan di platform media sosial
- Mengakses layanan pendampingan dan bantuan hukum
- Melaporkan kasus kepada pihak berwenang
Namun, pesan utama yang paling ditekankan dalam kegiatan ini adalah pentingnya membangun budaya peduli dan tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apa pun.
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Perkuat Literasi Digital dan Kesadaran Sosial Mahasiswa
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkuat literasi digital, etika penggunaan teknologi, dan perlindungan terhadap seluruh sivitas akademika.
Mahasiswa Informatika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon diharapkan tidak hanya unggul secara teknis dalam bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki empati, keberanian bersuara, dan kesadaran sosial dalam menciptakan lingkungan kampus serta ruang digital yang aman bagi semua.


