UIN Siber Cirebon — Kerja kehumasan sering berlangsung di balik layar. Namun, dampaknya dapat dirasakan secara luas melalui bagaimana masyarakat mengenal, memahami, dan memberikan kepercayaan kepada sebuah lembaga.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Drs. H. Ismail Cawidu, M.Si., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, saat memberikan penguatan dalam Seminar Penguatan Media Publikasi dan Keterbukaan Informasi Publik di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Menurut Ismail Cawidu, setiap informasi yang tampil di ruang publik tidak lahir begitu saja. Di balik sebuah berita, foto, video, laporan, maupun konten digital terdapat proses kerja yang membutuhkan data, konteks, bukti, verifikasi, serta kemampuan mengemas pesan agar mudah dipahami masyarakat.
“Kerja humas memang sering senyap, tetapi hasilnya harus terlihat dalam bentuk kepercayaan publik.”
Humas Bukan Sekadar Membuat Berita
Ismail menegaskan, pekerjaan humas tidak boleh dipersempit hanya pada aktivitas membuat berita atau mengunggah konten di media sosial.
Humas memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi antara lembaga dan masyarakat. Karena itu, setiap informasi yang disampaikan harus memiliki dasar yang jelas dan memberikan manfaat bagi publik.
Komunikasi publik juga tidak dapat dibebankan hanya kepada pranata humas atau Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).
Seluruh unsur universitas memiliki peran dalam membangun komunikasi publik.
Fakultas, lembaga, biro, unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan merupakan bagian dari ekosistem komunikasi universitas.
Setiap program, inovasi, prestasi, pelayanan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai aktivitas kelembagaan dapat menjadi sumber informasi publik sepanjang dikelola dan disampaikan sesuai ketentuan.
Dari Publikasi Menuju Kepercayaan
Menurut Ismail, publikasi yang baik bukan sekadar membuat sebuah kegiatan terlihat ramai. Lebih dari itu, publikasi harus mampu menjawab pertanyaan masyarakat: apa yang dilakukan, mengapa dilakukan, apa manfaatnya, dan apa bukti hasilnya?
Karena itu, budaya dokumentasi menjadi penting.
Setiap kegiatan perlu memiliki data dan bukti yang memadai. Dengan demikian, informasi yang dipublikasikan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kuat secara substansi.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang tengah memperkuat identitasnya sebagai Cyber Islamic University.
Transformasi menuju universitas berbasis siber tidak cukup hanya ditandai dengan penggunaan teknologi digital.
Transformasi juga harus terlihat dalam cara universitas memberikan pelayanan, mengelola informasi, berkomunikasi dengan masyarakat, serta mempertanggungjawabkan kinerjanya.
Transparansi Menjadi Bagian dari Transformasi Digital
Ismail melihat keterbukaan informasi publik sebagai bagian penting dari tata kelola perguruan tinggi modern.
Di era digital, masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat. Pada saat yang sama, lembaga juga dituntut mampu memberikan informasi yang akurat, terbuka, dan mudah dipahami.
Karena itu, transformasi digital UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon perlu berjalan bersama dengan penguatan:
- keterbukaan informasi publik;
- pelayanan informasi yang responsif;
- dokumentasi berbasis data;
- komunikasi kelembagaan yang konsisten;
- penguatan fungsi PPID;
- profesionalisme kehumasan;
- serta budaya kerja yang transparan dan akuntabel.
Dengan pola tersebut, teknologi tidak hanya menjadi alat untuk menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Kampus Hebat Harus Mampu Membuktikan Prestasinya
Ismail Cawidu juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan berbagai prestasi.
Prestasi tersebut harus mampu diceritakan, dibuktikan, dan dipertanggungjawabkan kepada publik.
Artinya, setiap capaian universitas perlu didukung oleh data dan dokumentasi yang kuat. Dari sinilah peran humas menjadi semakin penting.
Humas membantu menghubungkan kerja internal universitas dengan kebutuhan informasi masyarakat.
Ketika komunikasi dilakukan secara konsisten, akurat, dan transparan, publik tidak hanya mengetahui apa yang dilakukan universitas, tetapi juga memahami arah dan manfaat dari berbagai kebijakan yang dijalankan.
Membangun Budaya Komunikasi Bersama
Seminar Penguatan Media Publikasi dan Keterbukaan Informasi Publik di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon diharapkan menjadi momentum untuk membangun budaya komunikasi yang lebih kuat di seluruh lingkungan universitas.
Budaya tersebut dimulai dari kebiasaan sederhana: mencatat, mendokumentasikan, memverifikasi, mengonfirmasi, lalu mengomunikasikan.
Dengan cara itu, kerja-kerja yang selama ini berlangsung di balik layar dapat menjadi cerita yang memberikan nilai bagi masyarakat.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, keterbukaan informasi bukan sekadar kewajiban regulatif. Keterbukaan merupakan bagian dari perjalanan membangun universitas yang profesional, modern, adaptif, dan dipercaya publik.
Pada akhirnya, kerja senyap humas harus berujung pada sesuatu yang terdengar dan dirasakan oleh masyarakat: kepercayaan.
“Komunikasi bukan sekadar biaya. Komunikasi adalah investasi untuk membangun reputasi dan kepercayaan publik.”


