UIN Siber Cirebon – Persiapan menuju 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026 memasuki tahap akhir. Selain memastikan kesiapan teknis penyelenggaraan, Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC), Aan Jaelani, menekankan pentingnya publikasi agar gagasan dan hasil diskusi akademik dalam konferensi internasional tersebut dapat menjangkau masyarakat luas.
AICIS+ ke-25 dijadwalkan berlangsung pada 17–20 November 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Dengan waktu persiapan sekitar dua pekan, Kementerian Agama bersama panitia tuan rumah terus mematangkan berbagai kebutuhan, mulai dari kesiapan pembicara, moderator, ruang sidang, hingga dukungan teknis selama konferensi.
Dalam rapat persiapan di Hotel Aston Cirebon, Senin (2/11/2026) malam, Aan Jaelani mengingatkan bahwa keberhasilan AICIS+ tidak cukup diukur dari kemeriahan acara dan kelancaran pelaksanaannya. Substansi pembahasan serta dampak pemikiran yang dihasilkan juga perlu menjadi perhatian, termasuk melalui publikasi yang terencana.
“Publikasi menjadi penghubung agar percakapan akademik tersebut dapat menjangkau khalayak yang lebih luas,” ujar Aan.
Menurutnya, AICIS+ merupakan ruang penting untuk mempertemukan pemikiran akademisi, peneliti, dan berbagai kalangan dalam membahas hubungan Islam, sains, dan persoalan masyarakat. Karena itu, informasi mengenai gagasan, hasil penelitian, dan diskusi yang berlangsung perlu dikemas agar mudah dipahami serta memberikan manfaat bagi publik.
Sejak dirintis di Semarang pada 2000, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) telah menjadi tradisi akademik tahunan Kementerian Agama dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Forum ini mempertemukan sarjana, peneliti, dan tokoh agama untuk menyebarluaskan hasil penelitian, mengembangkan wacana keislaman, serta memperkuat jejaring akademik internasional.
Memasuki penyelenggaraan ke-25, penggunaan nama AICIS+ menandai perluasan ruang pembahasan. Forum ini tidak hanya berfokus pada kajian keislaman, tetapi juga membuka dialog lintas disiplin mengenai sains dan berbagai tantangan sosial kemasyarakatan.
Dari sisi kesiapan tuan rumah, Aan turut menyoroti sejumlah aspek penting, seperti kondisi gedung, perlengkapan podium, kelistrikan, serta antisipasi terhadap kemungkinan hujan. Kebutuhan petugas pendamping, identitas gedung, dan peta kawasan kampus juga perlu dipastikan agar mobilitas peserta berjalan lancar.
Sementara itu, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas), Nur Khafid, yang memandu rapat, meminta setiap bidang memeriksa kembali pekerjaan yang telah diselesaikan maupun yang masih memerlukan tindak lanjut. Ia mengingatkan bahwa setiap persiapan harus dikonfirmasi agar tidak menimbulkan kendala saat kegiatan berlangsung.
Koordinasi selanjutnya akan diperkuat melalui penanggung jawab atau person in charge (PIC) masing-masing bidang. Dengan demikian, kebutuhan yang belum terpenuhi dapat segera ditangani.
Melalui persiapan yang matang dan publikasi yang kuat, AICIS+ 2026 diharapkan tidak hanya sukses sebagai forum internasional, tetapi juga menghasilkan pertukaran gagasan yang menjangkau masyarakat dan memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan sosial.





