UIN Siber Cirebon — Di tengah hiruk-pikuk pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026 berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Computer Based Test (CBT), ada satu pemandangan yang begitu membekas dalam hati saya.
Di antara ratusan peserta yang datang dengan harapan dan cita-cita, hadir seorang putri bangsa bernama Kaerinnashiva Azita Sahbian, peserta difabel netra dari SLBN Pangeran Cakrabuana Cirebon.
Ia datang bukan hanya untuk mengikuti ujian.
Ia datang membawa pesan besar tentang keberanian, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas.
Saat melihat Kaerinnashiva memasuki ruang ujian dengan langkah yang mantap dan wajah yang penuh semangat, saya menyadari bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang angka, nilai, atau kelulusan. Pendidikan adalah tentang memberi kesempatan kepada setiap manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan mewujudkan potensi terbaik yang Allah SWT anugerahkan.
Hari itu, Kaerinnashiva tidak hanya sedang mengerjakan soal ujian.
Ia sedang mengajarkan kepada kita semua tentang arti perjuangan.
Tentang bagaimana keterbatasan tidak pernah mampu mengalahkan tekad yang kuat.
Tentang bagaimana harapan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang tidak pernah menyerah.
Sebagai Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, saya merasa bangga sekaligus terharu melihat semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh Kaerinnashiva.
Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki cahaya dan keistimewaan masing-masing.
Tugas institusi pendidikan bukan menentukan siapa yang layak bermimpi, melainkan memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai mimpinya.
Karena itulah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus berkomitmen membangun kampus yang inklusif, ramah peserta, ramah difabel, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Kami percaya bahwa kampus terbaik bukan hanya yang memiliki gedung megah atau teknologi canggih, tetapi kampus yang mampu membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin belajar.
Kampus yang tidak membedakan latar belakang sosial, ekonomi, fisik, maupun kondisi lainnya.
Kampus yang memandang setiap manusia sebagai pribadi yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Kehadiran Kaerinnashiva dalam UM-PTKIN 2026 juga menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan di era digital harus berjalan beriringan dengan transformasi nilai kemanusiaan.
Kecanggihan teknologi tidak akan berarti apabila tidak disertai kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan dukungan dan aksesibilitas.
Oleh sebab itu, kami memastikan bahwa pelaksanaan UM-PTKIN di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga sukses dalam menghadirkan pelayanan yang bermartabat, inklusif, dan berkeadilan.
Saya mengapresiasi seluruh panitia lokal yang telah memberikan pendampingan terbaik kepada peserta difabel sesuai ketentuan Panitia Nasional UM-PTKIN.
Pelayanan tersebut bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi merupakan wujud nyata penghormatan terhadap hak-hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.
Lebih jauh lagi, kisah Kaerinnashiva adalah kisah tentang Indonesia.
Indonesia yang kuat karena keberagamannya.
Indonesia yang maju karena memberi ruang bagi seluruh anak bangsanya untuk tumbuh.
Indonesia yang tidak meninggalkan siapa pun dalam perjalanan menuju masa depan.
Saya berharap kisah inspiratif ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di seluruh Indonesia.
Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bahwa tantangan bukan alasan untuk menyerah.
Bahwa masa depan selalu terbuka bagi mereka yang berani melangkah.
Hari ini Kaerinnashiva mungkin sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
Namun sesungguhnya, ia telah lulus dalam ujian kehidupan yang jauh lebih besar: ujian tentang keberanian, ketekunan, dan keyakinan.
Terima kasih Kaerinnashiva.
Engkau tidak hanya menginspirasi peserta UM-PTKIN.
Engkau menginspirasi kami semua.
Semoga langkahmu hari ini menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang gemilang.
Dan semoga setiap anak Indonesia, apa pun kondisinya, selalu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mengukir prestasi.
Karena pendidikan adalah hak semua orang.
Dan mimpi adalah milik semua manusia.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


