UIN Siber Cirebon – Karya jurnalistik mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali mendapat ruang di media nasional. Nathia Isnayani Yusninda, mahasiswa semester 7 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), berhasil menulis kisah kearifan lokal melalui kuliner khas Cirebon.
Tulisan Nathia berjudul “Tahu Gejrot Mang Wardi: Empat Dekade Menjaga Rasa Legendaris Cirebon” dimuat di Times Indonesia, Edisi Pagi, Selasa, 8 September 2026, dalam rubrik E-Koran, Bacaan Positif Masyarakat 5.0.
Melalui tulisannya, Nathia mengangkat perjalanan Tahu Gejrot Mang Wardi yang berada di Jalan Kanoman, Pekalipan, Kota Cirebon. Usaha kuliner tersebut telah bertahan sekitar 40 tahun dan menjadi salah satu bagian dari perjalanan kuliner tradisional di kawasan Kanoman.
Empat Dekade Mempertahankan Resep Keluarga
Tahu gejrot dikenal sebagai jajanan sederhana dengan cita rasa khas. Potongan tahu kopong disiram kuah gula merah, cabai, dan bumbu yang diulek langsung menggunakan cobek.
Prengki, salah satu penerus usaha Tahu Gejrot Mang Wardi, mengatakan resep yang digunakan hingga kini merupakan warisan keluarga. Racikan tersebut terus dipertahankan meski zaman dan selera masyarakat mengalami perubahan.
Menariknya, Nathia juga mengangkat cerita mengenai asal-usul nama tahu gejrot. Salah satu cerita yang berkembang menyebut nama “gejrot” berasal dari bunyi saat kuah dituangkan dari botol ke atas tahu. Ada pula versi lain yang mengaitkannya dengan perkembangan tradisi pembuatan tahu di Jatiseeng, Ciledug.
Perbedaan cerita tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya diwariskan melalui resep, tetapi juga melalui cerita lisan yang hidup di tengah masyarakat.
Kuliner yang Menjadi Identitas Cirebon
Dalam tulisannya, Nathia juga menggambarkan tahu gejrot sebagai bagian dari perjalanan budaya Cirebon. Sebagai wilayah pesisir, Cirebon sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, termasuk Jawa, Sunda, Arab, dan Tionghoa.
Perpaduan budaya tersebut turut memberikan warna pada perkembangan kuliner lokal. Tahu gejrot menjadi salah satu contoh bagaimana makanan sederhana dapat berkembang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Hingga kini, penyajian tradisional menggunakan cobek kecil dan bumbu yang diulek langsung masih dipertahankan. Dalam sehari, penjualan Tahu Gejrot Mang Wardi bahkan dapat mencapai lebih dari 500 porsi, belum termasuk pesanan untuk oleh-oleh ke luar daerah.
Perjalanan usaha selama empat dekade juga tidak selalu mudah. Pandemi Covid-19 sempat membuat penjualan menurun akibat terbatasnya aktivitas masyarakat. Namun, usaha tersebut mampu bertahan dan kembali bangkit setelah aktivitas masyarakat normal.
Mahasiswa Hadir Melalui Karya Jurnalistik
Publikasi tulisan Nathia di Times Indonesia menjadi pengalaman sekaligus capaian positif bagi mahasiswa KPI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Melalui karya jurnalistik, mahasiswa dapat mengasah kemampuan menulis sekaligus memperkenalkan potensi budaya dan kuliner daerah kepada masyarakat luas.
Karya tersebut juga membawa pesan bahwa melestarikan budaya dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk menulis, mendokumentasikan, dan menceritakan kembali kisah kuliner tradisional.
Empat dekade perjalanan Tahu Gejrot Mang Wardi membuktikan bahwa makanan tradisional mampu bertahan ketika rasa, resep, cara penyajian, dan cerita di baliknya terus dijaga.
Dari seporsi tahu, cabai, gula merah, dan kuah bercita rasa asam, manis, serta pedas, tersimpan cerita tentang keluarga, tradisi, budaya, dan keteguhan mempertahankan warisan lokal.





