UIN Siber Cirebon – Kabar membanggakan datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon. Najwatun, mahasiswa semester 7 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, berhasil menorehkan karya jurnalistik dengan mengangkat kearifan lokal kuliner khas Cirebon.
Tulisan berjudul “Rasa yang Tak Berubah, Kue Tapel Ibu Rema Cirebon Bertahan 65 Tahun” tersebut dimuat di Times Indonesia pada Edisi Pagi, Selasa, 8 September 2026, dalam kanal E-Koran, Bacaan Positif Masyarakat 5.0.
Karya tersebut mengangkat kisah Kue Tapel Ibu Rema, salah satu kuliner tradisional Cirebon yang masih bertahan hingga kini. Melalui tulisan tersebut, Najwatun tidak hanya memperkenalkan makanan khas Cirebon, tetapi juga mengajak pembaca melihat pentingnya menjaga warisan budaya melalui kuliner.
Mengangkat Kearifan Lokal Cirebon
Kue Tapel Ibu Rema dikenal dengan perpaduan rasa pisang raja, gula merah, dan kelapa. Kuliner yang berada di Gang Alas Demang 1, Pekalangan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, tersebut telah bertahan sekitar 65 tahun sejak 1961.
Kini, usaha tersebut telah memasuki generasi keempat dan diteruskan oleh M. Arma Fahrullah. Keberlangsungan usaha keluarga tersebut menjadi gambaran bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan di tengah semakin beragamnya makanan modern.
Dalam tulisannya, Najwatun juga mengulas proses pembuatan Kue Tapel yang masih mempertahankan cara tradisional. Adonan dibuat dari tepung beras, kelapa, dan air kelapa, kemudian dipadukan dengan pisang raja serta gula merah.
Salah satu keunikannya adalah penggunaan batu sela yang digosokkan pada permukaan wajan agar adonan tidak lengket. Kue tapel juga dimasak tanpa menggunakan minyak.
Tradisi yang Bertahan Lintas Generasi
Menariknya, Kue Tapel Ibu Rema tidak hanya digemari generasi tua. Kalangan anak muda, termasuk Gen Z, turut menjadi pelanggan. Dalam sehari, penjualan dapat mencapai sekitar 100 porsi dan meningkat hingga 300 porsi pada akhir pekan.
Dengan harga sekitar Rp8.000 per porsi, kuliner tersebut menjadi salah satu makanan tradisional yang relatif terjangkau sekaligus memiliki nilai sejarah dan budaya.
Melalui karya jurnalistiknya, Najwatun menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dapat menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang ikut memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.
Publikasi di Times Indonesia menjadi pengalaman berharga bagi Najwatun sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran jurnalistik di Program Studi KPI dapat diterapkan melalui karya nyata.
Tulisan tersebut juga membawa pesan penting bahwa menjaga kearifan lokal tidak selalu harus dilakukan melalui cara yang besar. Mengenalkan cerita, mendokumentasikan proses, dan menulis kisah pelaku usaha tradisional merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Bagi mahasiswa KPI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, capaian ini diharapkan menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya jurnalistik yang informatif, inspiratif, dan memiliki manfaat bagi masyarakat.
Kue Tapel Ibu Rema telah bertahan selama 65 tahun. Sementara melalui tulisan Najwatun, kisah tentang rasa, tradisi, dan perjuangan keluarga tersebut mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas.





