Refleksi Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
UIN Siber Cirebon — Di tengah derasnya arus transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan berbagai inovasi teknologi yang terus berkembang, perguruan tinggi dituntut untuk melahirkan generasi yang unggul secara intelektual dan adaptif terhadap perubahan zaman. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari proses pendidikan, yaitu pembentukan hati, karakter, dan kesadaran spiritual manusia.
Karena sesungguhnya pendidikan bukan hanya tentang mencerdaskan pikiran, tetapi juga memanusiakan manusia.
Inilah makna mendalam yang saya rasakan ketika menyaksikan sekitar 2.700 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon mengikuti Simulasi dan Praktik Ibadah Manasik Haji yang diselenggarakan oleh UPT Ma’had Al-Jamiah.
Hamparan mahasiswa berpakaian ihram, lantunan talbiyah yang menggema, simulasi thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah menghadirkan pemandangan yang bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan sebuah proses pendidikan ruhani yang sangat berharga.
Saya melihat wajah-wajah muda yang sedang belajar memahami makna kehidupan.
Mereka belajar bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta. Mereka belajar bahwa kebesaran seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau status sosialnya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Ketika mengenakan pakaian ihram, seluruh atribut dunia seolah dilepaskan. Tidak ada lagi perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara yang berasal dari kota maupun desa, antara mahasiswa dari fakultas satu dengan fakultas lainnya.
Semua berdiri sama.
Semua menghadap Tuhan yang sama.
Semua sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Inilah pelajaran terbesar dari ibadah haji.
Haji Sebagai Sekolah Kehidupan
Banyak orang memahami haji hanya sebagai ritual ibadah. Padahal jika kita menyelami maknanya lebih dalam, haji adalah universitas kehidupan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan secara utuh.
Di dalamnya ada pelajaran tentang disiplin.
Ada pendidikan kesabaran.
Ada latihan kepemimpinan.
Ada penguatan solidaritas.
Ada pembelajaran tentang pengorbanan.
Dan yang paling penting, ada pendidikan tentang kerendahan hati.
Di era ketika manusia semakin dekat dengan teknologi tetapi terkadang semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan spiritual menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan pendidikan akademik.
Karena teknologi yang hebat tanpa karakter yang kuat dapat menjadi ancaman.
Pengetahuan yang tinggi tanpa akhlak yang baik dapat kehilangan arah.
Kecerdasan yang luar biasa tanpa nilai spiritual dapat kehilangan makna.
Oleh sebab itu, manasik haji yang dilaksanakan di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum Mata Kuliah Praktik Ibadah 2, tetapi merupakan investasi peradaban untuk membentuk generasi masa depan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecakapan digital, dan kedalaman spiritual.
Membangun Generasi Digital yang Berkarakter
Sebagai perguruan tinggi Islam berbasis siber pertama di Indonesia, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi yang mampu hidup dan berkompetisi di era digital global.
Namun kami meyakini bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan mahasiswa menguasai teknologi.
Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki integritas, empati, tanggung jawab sosial, serta kesadaran moral dan spiritual yang kuat.
Manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk kemaslahatan.
Manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Manusia yang menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk membangun peradaban.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.
Dunia membutuhkan orang-orang baik.
Spiritualitas dan SDGs
Apa yang dilakukan melalui program manasik haji ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi komitmen global.
Pendidikan berkualitas (SDG 4) tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga manusia yang berkarakter.
Kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3) tidak hanya berbicara tentang kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual.
Berkurangnya kesenjangan (SDG 10) tercermin dalam nilai kesetaraan yang diajarkan dalam ihram.
Perdamaian dan kelembagaan yang tangguh (SDG 16) tumbuh dari karakter manusia yang berakhlak dan toleran.
Sementara kemitraan (SDG 17) lahir dari semangat kolaborasi dan kebersamaan.
Dengan demikian, manasik haji bukan hanya aktivitas keagamaan, tetapi juga sarana membangun manusia yang mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan dunia.
Pendidikan Masa Depan Harus Menyentuh Hati
Saya meyakini bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan lembaga pendidikan dalam membangun jiwa manusia.
Universitas harus menjadi tempat lahirnya inovasi sekaligus tempat bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan.
Kampus harus menjadi ruang pengembangan ilmu sekaligus ruang pembentukan karakter.
Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga bijaksana dalam bertindak.
Melalui kegiatan manasik haji ini, saya melihat harapan itu tumbuh.
Saya melihat generasi muda yang sedang belajar mengenal Tuhannya.
Belajar memahami dirinya.
Belajar menghargai sesamanya.
Dan belajar menemukan makna hidup yang sesungguhnya.
Karena keberhasilan seorang mahasiswa pada akhirnya bukan hanya diukur dari seberapa tinggi indeks prestasinya, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga setiap langkah thawaf yang mereka praktikkan menjadi simbol perjalanan menuju kebaikan.
Semoga setiap talbiyah yang mereka lantunkan menjadi pengingat akan panggilan pengabdian.
Dan semoga setiap pengalaman spiritual yang mereka rasakan hari ini menjadi bekal untuk membangun masa depan yang lebih bermakna.
Inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Mendidik akal, membangun karakter, dan menumbuhkan hati.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


