UIN Siber Cirebon — Isu lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) merupakan persoalan sosial yang memerlukan perhatian serius, terutama dalam konteks pendidikan agama, pembentukan karakter generasi muda, dan ketahanan keluarga. Respons terhadap isu ini tidak cukup dilakukan melalui perdebatan atau penolakan semata. Diperlukan pendidikan yang terarah, pemahaman keagamaan yang memadai, komunikasi keluarga yang sehat, serta kebijakan yang bertanggung jawab.
Perspektif tersebut relevan dengan Dialog Ahli Bersama Pemangku Kepentingan terkait Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ yang diselenggarakan Kementerian Agama di Tangerang Selatan, Selasa (27/10/2026), dan diikuti para pimpinan perguruan tinggi keagamaan negeri, termasuk Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Pendidikan Agama sebagai Fondasi Karakter
Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk akhlak, tanggung jawab, dan kematangan moral. Nilai agama perlu ditanamkan melalui pembelajaran yang berkelanjutan, keteladanan, serta dialog yang mampu membantu generasi muda memahami ajaran agama secara utuh.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dimulai dari penguatan pendidikan keluarga dan lembaga pendidikan. Orang tua, guru, dosen, serta tokoh agama memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman sesuai usia, menjawab pertanyaan secara bijaksana, dan membangun lingkungan belajar yang sehat.
Penolakan terhadap perilaku atau pandangan yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama sebaiknya disampaikan melalui argumentasi keagamaan, pendidikan, dan keteladanan. Pesan moral akan lebih bermakna apabila disampaikan dengan pengetahuan yang memadai, bukan melalui stigma, penghinaan, atau penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Ketahanan Keluarga dan Pendampingan Generasi Muda
Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pembentukan karakter. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak membantu membangun kepercayaan sehingga persoalan yang dihadapi generasi muda dapat dibicarakan dengan baik.
Ketahanan keluarga juga perlu diperkuat melalui pendidikan agama, literasi digital, pendampingan psikososial, dan pemahaman terhadap perkembangan anak. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, generasi muda perlu dibekali kemampuan memilah informasi, memahami konsekuensi tindakan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Pendekatan ini penting agar pembinaan tidak berhenti pada larangan, tetapi juga memberikan pengetahuan, bimbingan, dan dukungan yang dibutuhkan.
Peran Perguruan Tinggi Keagamaan
Perguruan tinggi keagamaan memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kajian ilmiah dan pendidikan publik yang mempertemukan nilai agama, pengetahuan, dan kepentingan masyarakat. Kampus perlu mendorong riset yang cermat, dialog yang sehat, serta rekomendasi kebijakan berdasarkan bukti dan ketentuan hukum.
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memandang penguatan karakter, keluarga, dan literasi keagamaan sebagai bagian penting dari kontribusi pendidikan tinggi. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membantu masyarakat memahami persoalan sosial secara lebih mendalam.
Pada saat yang sama, setiap upaya pembinaan harus menjaga martabat manusia. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kekerasan, perundungan, atau perlakuan diskriminatif. Keteguhan memegang nilai agama dapat berjalan bersama sikap santun, adil, dan bertanggung jawab.
Meneguhkan Nilai, Mengedepankan Kebijaksanaan
Merespons isu LGBTQ membutuhkan ketegasan dalam pendidikan nilai sekaligus kebijaksanaan dalam pelaksanaannya. Masyarakat dapat memperkuat ajaran agama, membangun keluarga yang tangguh, dan mendampingi generasi muda sesuai nilai yang diyakini, tanpa menjadikan penghinaan atau kekerasan sebagai sarana pembinaan.
Tantangan sosial tidak akan selesai hanya dengan slogan. Dibutuhkan kerja bersama antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat. Dengan pendidikan yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta kebijakan yang berbasis pengetahuan, kita dapat membangun generasi yang berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan agama tidak hanya terlihat dari ketegasan menyampaikan nilai, tetapi juga dari kemampuan mewujudkannya dalam tindakan yang bijaksana, beradab, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


