UIN Siber Cirebon – Pondok Pesantren Kanzul Ulum Kota Cirebon kembali mendapat perhatian dari jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia. Pesantren yang menjadi salah satu lokasi penelitian MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tersebut menerima kunjungan kerja Kepala Subdirektorat Pengembangan Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im, M.Fil.I., pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi. Selain menjadi momentum silaturahmi, kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi objektif pesantren, dinamika pembelajaran keagamaan, serta berbagai program pemberdayaan yang dikembangkan Pondok Pesantren Kanzul Ulum.
Sebagai salah satu pesantren yang relatif muda di Kota Cirebon, Kanzul Ulum terus menunjukkan perkembangan positif di bawah asuhan Dr. Tosuerdi, M.Pd.I., yang juga merupakan anggota Tim Penelitian MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Kanzul Ulum Jadi Laboratorium Riset MoRa LPDP
Pondok Pesantren Kanzul Ulum memiliki posisi strategis dalam pengembangan riset UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Secara resmi, pesantren tersebut ditetapkan sebagai bagian dari kawasan laboratorium penelitian MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk tahun anggaran 2026.
Kehadiran pejabat Kementerian Agama di lokasi penelitian menjadi momentum penting untuk memperlihatkan secara langsung bagaimana riset perguruan tinggi dapat diterapkan dalam kehidupan nyata di lingkungan pesantren.
Kunjungan tersebut juga dihadiri Ketua Tim MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag., yang mendampingi secara langsung rangkaian kegiatan. Turut hadir anggota tim riset, Dr. Dewi Cahyani, M.Pd., beserta jajaran dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi dan tokoh pendidikan juga tampak dalam kegiatan tersebut. Prof. Dr. Cecep Wahyu Khaerudin, M.Pd., dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus Pembina Yayasan, turut hadir mendampingi rombongan.
Selain itu, hadir pula sejumlah tokoh pendidikan keagamaan regional, yakni Prof. Dr. Huriyah, M.Pd., Dr. Sopidi, M.A., dan Prof. Dr. Nurlelah, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Pesantren Akmala Sabila.
Kehadiran para akademisi dan tokoh pendidikan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi dalam mengembangkan pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga mampu bergerak di bidang sains terapan, pemberdayaan masyarakat, dan kemandirian ekonomi.
Panen Sayuran Organik Jadi Momen Inspiratif
Salah satu agenda menarik dalam kunjungan tersebut adalah peninjauan langsung kawasan budidaya pertanian terpadu yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren Kanzul Ulum.
Para tamu disuguhi pemandangan hijau berupa tanaman cabai, terong, dan bawang merah yang tumbuh di tengah keterbatasan lahan pesantren. Menariknya, saat kunjungan berlangsung, sebagian tanaman telah memasuki masa panen.
Suasana pun menjadi semakin akrab ketika Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im bersama istri turun langsung ke kebun untuk memanen bawang merah dan terong. Aktivitas sederhana tersebut menjadi gambaran nyata bahwa riset dan inovasi dapat hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam, kebun tersebut merupakan bagian dari riset pertanian terapan berbasis pesantren. Model ini menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Manfaatkan MoL dan Limbah Dapur
Ketua Tim MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag., menjelaskan bahwa salah satu keunggulan sistem budidaya yang diterapkan adalah penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan Mikroorganisme Lokal (MoL).
Tanaman cabai, bawang merah, dan terong dikembangkan tanpa menggunakan pupuk kimia sintetis. Sebagai gantinya, tim memanfaatkan bahan organik yang berasal dari limbah rumah tangga atau sampah dapur untuk diolah menjadi nutrisi tanaman.
Pendekatan tersebut tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan pelajaran penting tentang bagaimana limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Konsep sederhana ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun pertanian berkelanjutan berbasis ekosistem lokal.
Santri Jadi Bagian Penting dari Riset
Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari keterlibatan aktif para santri. Mereka ikut terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga proses pemanenan.
Dengan demikian, kegiatan penelitian tidak berhenti pada aspek akademik. Para santri mendapatkan pengalaman langsung mengenai pertanian organik, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan limbah, sekaligus pentingnya kemandirian pangan.
Hasil panen yang diperoleh juga memberikan manfaat nyata. Sebagian hasil pertanian digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan harian para santri, sementara sebagian lainnya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat sekitar.
Model ini memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi ruang pendidikan yang menyatukan ilmu agama, sains, keterampilan, kepedulian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kehadiran pejabat Kementerian Agama di lokasi penelitian MoRa LPDP UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pun menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pesantren.
Pondok Pesantren Kanzul Ulum menunjukkan bahwa pesantren masa kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan. Dengan inovasi dan pendampingan riset yang tepat, pesantren juga mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, laboratorium inovasi, sekaligus role model ketahanan pangan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Kanzul Ulum menjadi pesan sederhana namun kuat: lahan boleh terbatas, tetapi kreativitas dan semangat untuk mandiri tidak boleh terbatas.


