Pertemuan Perdana Relawan PSGAD Dorong Generasi Muda Menjadi Pendengar yang Baik, Peduli, dan Siap Mendampingi Sesama
UIN Siber Cirebon – Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) LP2M Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperkuat kapasitas relawannya melalui kegiatan Pertemuan 1 Relawan PSGAD bertema “Sinergi dalam Simpati, Kuat dan Empati: Menjadi Sahabat Sebaya yang Beretika”. Kegiatan ini dilaksanakan di Sekretariat PSGAD LP2M Lantai 1, sebagai bagian dari upaya membangun karakter relawan yang peduli, berempati, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam mendampingi sesama.
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam membentuk relawan yang tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan sosial, tetapi juga mampu menjadi sahabat sebaya yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan saling mendukung di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Membangun Relawan yang Peduli dan Beretika
Acara diawali dengan prakata dari Ketua Pelaksana, Amalia Markhamah, yang menjelaskan tujuan kegiatan sekaligus pentingnya membangun karakter relawan melalui penguatan nilai-nilai empati dan komunikasi yang sehat.
Menurutnya, seorang sahabat sebaya memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang saling mendukung, terutama di kalangan generasi muda.
“Melalui kegiatan ini kami berharap seluruh peserta memahami pentingnya komunikasi yang baik serta mampu membangun sikap empati sebagai sahabat sebaya yang beretika. Relawan bukan hanya hadir dalam kegiatan sosial, tetapi juga mampu menjadi tempat berbagi, mendengar, dan memberikan dukungan positif bagi sesama,” ujar Amalia.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Ketua Relawan PSGAD, Rifaniola Azzahra.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa menjadi relawan berarti siap memberikan manfaat bagi lingkungan melalui kepedulian, komunikasi yang santun, dan sikap empati.
“Sebagai relawan, kita tidak hanya hadir, tetapi juga harus mampu memberikan dampak melalui sikap peduli, empati, dan komunikasi yang baik kepada sesama. Dari sinilah budaya saling menghargai dan saling mendukung dapat terus tumbuh,” ungkap Rifaniola.
Belajar Komunikasi Dasar dalam Konseling Sebaya
Pada sesi utama, peserta mendapatkan materi bertajuk “Keterampilan Komunikasi Dasar dalam Konseling Sebaya” yang disampaikan oleh Annisa Pharastika, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Dalam pemaparannya, Annisa menjelaskan bahwa komunikasi merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat, khususnya dalam praktik konseling sebaya.
Materi yang disampaikan meliputi:
- Pentingnya komunikasi yang efektif.
- Teknik active listening (mendengarkan secara aktif).
- Cara membangun empati terhadap lawan bicara.
- Etika dalam memberikan dukungan kepada teman sebaya.
- Membangun rasa percaya dalam proses konseling.
Peserta juga diajak memahami bahwa menjadi pendengar yang baik sering kali lebih dibutuhkan daripada sekadar memberikan nasihat.
Diskusi Interaktif Tingkatkan Antusiasme Peserta
Suasana kegiatan berlangsung hangat, komunikatif, dan penuh antusias. Para peserta aktif berdiskusi, menyampaikan pengalaman, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai komunikasi interpersonal dan penerapan konseling sebaya dalam kehidupan sehari-hari.
Interaksi tersebut menunjukkan tingginya semangat peserta untuk meningkatkan keterampilan komunikasi sekaligus memperkuat kepedulian sosial terhadap teman sebaya.
Melalui pendekatan yang interaktif, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga belajar mempraktikkan teknik komunikasi yang efektif dalam berbagai situasi.
Mewujudkan Kampus yang Peduli dan Inklusif
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PSGAD LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam membangun budaya kampus yang inklusif, ramah, dan saling mendukung.
Dengan membekali relawan melalui pelatihan komunikasi dan penguatan empati, PSGAD berharap lahir generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Semangat “Sinergi dalam Simpati” diharapkan tidak hanya menjadi tema kegiatan, tetapi juga menjadi budaya yang terus tumbuh dalam kehidupan mahasiswa, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, menghargai perbedaan, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.


