Asesor UI GreenMetric Soroti Pentingnya Tata Kelola Sungai Terpadu sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan
UIN Siber Cirebon – Persoalan lingkungan, khususnya kondisi sungai yang semakin terdegradasi, menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar podcast ilmiah bertajuk “Tata Kelola Sungai: Membangun Kolaborasi untuk Masa Depan Lingkungan Berkelanjutan”.
Podcast yang diproduksi di Studio Podcast LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ini menghadirkan Dr. Nyoman Swarta, S.T., M.T., M.Agr., akademisi Universitas Indonesia (UI) sekaligus Asesor UI GreenMetric, sebagai narasumber utama. Turut hadir memberikan perspektif akademik dan kelembagaan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Hj. Ria Gloria Yulia, M.Pd., sementara jalannya diskusi dipandu oleh Sekretaris LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Abdul Wakhit, M.Hum.
Podcast ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan perspektif akademik, kebijakan, dan praktik lapangan dalam membahas tantangan pengelolaan sungai di Cirebon yang semakin kompleks akibat perubahan lingkungan, urbanisasi, dan aktivitas manusia.
18 Sungai Cirebon Hadapi Tekanan dari Hulu hingga Hilir
Dalam paparannya, Dr. Nyoman Swarta mengungkapkan bahwa sedikitnya 18 sungai utama di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon kini menghadapi tekanan serius yang mengancam keberlanjutan fungsi ekologisnya.
Menurutnya, persoalan yang terjadi bukan hanya berada di satu titik, tetapi berlangsung dari kawasan hulu hingga pesisir.
“Sungai adalah satu kesatuan ekosistem. Apa yang terjadi di hulu akan berdampak hingga ke hilir. Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara parsial atau sektoral, tetapi harus menggunakan pendekatan berbasis daerah aliran sungai secara menyeluruh,” jelas Dr. Nyoman.
Ia menjelaskan bahwa kawasan hulu mengalami penurunan kualitas akibat berkurangnya tutupan vegetasi, alih fungsi lahan, dan meningkatnya sedimentasi. Kondisi tersebut mengurangi kapasitas sungai dalam menampung air sehingga risiko banjir semakin tinggi.
Sementara itu, di wilayah tengah, kualitas air terus menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga, limbah industri, dan sampah plastik. Adapun kawasan hilir menghadapi ancaman abrasi pantai, perubahan karakteristik air, serta meningkatnya fenomena rob yang semakin sering menggenangi kawasan permukiman.
Pengelolaan Sungai Tidak Bisa Lagi Berjalan Sendiri-sendiri
Dr. Nyoman menilai, salah satu akar persoalan pengelolaan sungai saat ini adalah masih kuatnya pendekatan sektoral antarinstansi.
Menurutnya, kewenangan yang tersebar di berbagai lembaga sering kali menyebabkan koordinasi tidak berjalan optimal sehingga penyelesaian masalah lebih bersifat reaktif dibanding preventif.
“Kita membutuhkan tata kelola sungai yang terintegrasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas lingkungan, hingga masyarakat harus berada dalam satu ekosistem kolaborasi. Sungai tidak mengenal batas administrasi, sehingga pengelolaannya pun harus lintas sektor,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak efisiensi anggaran terhadap pengelolaan lingkungan, termasuk terbatasnya kemampuan pemerintah desa dalam menangani persoalan sampah yang akhirnya bermuara ke sungai.
Peran Masyarakat Menjadi Kunci Keberhasilan
Selain kebijakan pemerintah, Dr. Nyoman menegaskan bahwa masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan sungai.
Berbagai kegiatan seperti pemantauan kualitas air, rehabilitasi vegetasi bantaran sungai, pengurangan sampah plastik, hingga edukasi lingkungan dinilai akan lebih efektif apabila dilakukan bersama masyarakat.
“Masyarakat bukan sekadar objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek utama dalam pengelolaan sungai. Ketika masyarakat merasa memiliki sungai, maka upaya pelestarian akan berjalan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mulai mengembalikan fungsi ekologis sungai melalui rehabilitasi kawasan hulu, perlindungan sempadan sungai, pengendalian konversi lahan, restorasi kawasan pesisir, serta penguatan pendidikan lingkungan sejak dini.
LPM UIN Siber Cirebon: Kampus Memiliki Tanggung Jawab Moral
Menanggapi paparan tersebut, Ketua LPM UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Hj. Ria Gloria Yulia, M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menghasilkan riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menurutnya, isu tata kelola sungai tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kualitas hidup masyarakat, pembangunan berkelanjutan, dan masa depan generasi mendatang.
“Perguruan tinggi harus hadir melalui penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Kajian mengenai tata kelola sungai menjadi sangat relevan karena berkaitan langsung dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan keberlanjutan lingkungan,” ungkap Prof. Ria.
Ia berharap semakin banyak kolaborasi riset lintas disiplin yang mampu melahirkan rekomendasi kebijakan berbasis data ilmiah.
LP2M Dorong Budaya Diskusi Ilmiah yang Dekat dengan Masyarakat
Sementara itu, Sekretaris LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Abdul Wakhit, M.Hum., mengatakan bahwa podcast ilmiah merupakan salah satu inovasi LP2M dalam menyebarluaskan hasil kajian akademik kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
Menurutnya, isu-isu strategis seperti tata kelola sungai perlu dikemas secara komunikatif agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
“Melalui podcast ini kami ingin menjembatani dunia akademik dengan masyarakat. Penelitian tidak boleh berhenti di jurnal, tetapi harus menjadi pengetahuan yang mampu menginspirasi lahirnya solusi bagi persoalan lingkungan dan pembangunan,” ujarnya.
Komitmen UIN Siber Cirebon Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Penyelenggaraan podcast ini sekaligus memperkuat komitmen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai Cyber Islamic University yang tidak hanya unggul dalam transformasi digital, tetapi juga aktif mendorong riset yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap lahir berbagai inovasi dan rekomendasi kebijakan yang mampu memperbaiki tata kelola sungai di wilayah Cirebon.
Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Dengan tata kelola yang kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, sungai-sungai di Cirebon diharapkan dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai penyangga lingkungan, sumber kehidupan, sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang.


