UIN Siber Cirebon — Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperkuat tata kelola informasi publik dan komunikasi kelembagaan di tengah perubahan ekosistem digital. Upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar Penguatan Media Publikasi dan Keterbukaan Informasi Publik yang digelar di Gedung Siber SBSN Lantai 8, Senin (10/8/2026).
Seminar menghadirkan Dr. Drs. H. Ismail Cawidu, M.Si., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk membangun perguruan tinggi yang transparan, akuntabel, responsif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
Selain memperkuat implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas komunikasi kelembagaan serta mengoptimalkan fungsi kehumasan dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).
Seminar diikuti pimpinan dan pengelola kelembagaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, mulai dari Rektor, Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, Plt. Kepala Biro AKU, para Dekan, Direktur Pascasarjana, Wakil Dekan, kepala bagian dan subbagian, pimpinan SPI dan lembaga, kepala UPT, pusat dan unit, hingga seluruh tim PPID.
Rektor: Keterbukaan Informasi Menjadi Bagian dari Tata Kelola Kampus
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., membuka kegiatan secara resmi.
Dalam sambutannya, Rektor menekankan pentingnya penguatan tata kelola informasi publik sebagai bagian dari pembangunan kelembagaan yang sehat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki berbagai program dan capaian. Seluruh aktivitas tersebut juga harus dapat dikomunikasikan secara baik kepada publik dengan tetap memperhatikan prinsip keterbukaan informasi dan ketentuan yang berlaku.
Penguatan informasi publik juga semakin penting bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon karena transformasi digital telah menjadi bagian penting dari identitas dan arah pengembangan universitas.
Karena itu, komunikasi kelembagaan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan, tata kelola, akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inovasi yang dikembangkan kampus.
Ismail Cawidu: Menyimak, Memahami, lalu Mengonfirmasi
Dalam pemaparannya, Ismail Cawidu mengangkat tema “Peningkatan Pelayanan Informasi Publik PTKIN Menuju Badan Publik Informatif.”
Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi bukan sekadar kewajiban administratif. Keterbukaan informasi merupakan bagian penting dari membangun kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan tinggi.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya proses menyimak dan melakukan konfirmasi sebelum informasi dipublikasikan.
Menurutnya, kerja komunikasi publik membutuhkan ketelitian. Informasi yang diterima harus dipahami, diverifikasi, dan dikonfirmasi sebelum menjadi informasi kelembagaan yang disampaikan kepada masyarakat.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital, ketika informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform.
UIN Siber Cirebon dan Identitas Cyber Islamic University
Dalam pemaparannya, Ismail juga memberikan gambaran mengenai profil dan arah pengembangan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai Cyber Islamic University (CIU).
Menurut pemaparannya, karakter UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terletak pada integrasi antara keilmuan Islam, teknologi digital, pembelajaran daring, kecerdasan buatan, dan tata kelola berbasis data.
Identitas tersebut kemudian tercermin dalam sejumlah pengembangan, antara lain:
- pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS);
- pembelajaran sinkron dan asinkron;
- kelas virtual;
- perpustakaan digital;
- asesmen daring;
- administrasi akademik digital;
- Pendidikan Jarak Jauh (PJJ);
- pengembangan layanan berbasis teknologi;
- serta penguatan kolaborasi akademik secara digital.
Transformasi tersebut, menurut Ismail, perlu didukung oleh kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Teknologi hanya akan memberikan dampak maksimal apabila dosen dan tenaga kependidikan memiliki kompetensi untuk menggunakannya secara efektif.
Tantangan UIN Siber: Bukan Sekadar Teknologi
Ismail menilai tantangan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ke depan bukan lagi sebatas membangun identitas sebagai universitas berbasis siber.
Tantangan yang lebih besar adalah memastikan seluruh sivitas akademika memiliki kapasitas dan budaya kerja yang sesuai dengan identitas tersebut.
Karena itu, beberapa isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian meliputi penguatan SDM digital, manajemen talenta, percepatan jabatan akademik, budaya organisasi, pengembangan SDM berbasis data, serta internasionalisasi.
Kompetensi seperti literasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan, desain pembelajaran daring, analitik pembelajaran, kemampuan bahasa asing, publikasi internasional, dan jejaring riset global menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia.
“Transformasi digital harus menjadi budaya organisasi, bukan sekadar proyek teknologi.”
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam seminar. Dengan demikian, transformasi UIN Siber perlu berjalan secara menyeluruh, mulai dari teknologi, SDM, budaya organisasi, sistem kerja, layanan akademik, hingga komunikasi publik.
Humas Bukan Sekadar Publikasi
Salah satu bagian menarik dari pemaparan Ismail Cawidu adalah penekanannya terhadap posisi strategis humas dalam membangun reputasi lembaga.
Menurutnya, berbagai capaian perguruan tinggi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak dikomunikasikan dengan baik kepada publik.
Humas memiliki peran untuk menemukan, mengolah, memverifikasi, mengemas, dan menyampaikan informasi kelembagaan sehingga dapat dipahami masyarakat.
Karena itu, kerja humas bukan sekadar membuat berita atau mengunggah konten media sosial.
Humas harus mampu memahami arah kebijakan lembaga, membaca kebutuhan publik, membangun komunikasi dua arah, mengelola isu, sekaligus memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar dan bukti yang jelas.
Di sinilah komunikasi publik menjadi bagian dari investasi kelembagaan.
“Pekerjaan humas adalah kerja-kerja komunikasi. Komunikasi bukan biaya, tetapi investasi.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa reputasi perguruan tinggi dibangun melalui komunikasi yang konsisten, kredibel, dan berbasis data.
Pimpinan dan Unit Kerja Harus Menjadi Sumber Informasi
Seminar juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pimpinan, fakultas, lembaga, biro, UPT, pusat, unit, dan PPID.
Setiap unit kerja memiliki aktivitas, program, inovasi, capaian, dan data yang dapat menjadi bahan informasi publik sepanjang memenuhi ketentuan keterbukaan informasi.
Karena itu, penguatan PPID dan humas tidak dapat dilakukan oleh satu unit saja.
Setiap unit adalah sumber informasi, sementara humas dan PPID menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan informasi publik universitas.
Pola kerja seperti ini penting bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang sedang membangun ekosistem perguruan tinggi berbasis digital.
Semakin banyak aktivitas kampus yang terdokumentasi dengan baik, semakin kuat pula basis informasi yang dapat digunakan untuk komunikasi publik, pelaporan, evaluasi, dan pengambilan keputusan.
Lima Rekomendasi Strategis
Dari pemaparan dan diskusi yang berlangsung, terdapat sejumlah perhatian strategis yang relevan bagi penguatan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Pertama, penguatan sumber daya manusia, terutama kompetensi digital dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kedua, realisasi keterbukaan informasi publik melalui layanan informasi yang mudah diakses, jelas, responsif, dan sesuai regulasi.
Ketiga, penguatan integritas dan budaya organisasi agar transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi juga mengubah cara kerja.
Keempat, perlindungan dan pelayanan mahasiswa, sebagai salah satu kelompok utama penerima layanan perguruan tinggi.
Kelima, pengukuran kinerja pimpinan dan unit kerja berbasis data, sehingga setiap kebijakan dan program dapat dievaluasi secara objektif.
Dari Kerja Senyap Menjadi Kepercayaan Publik
Seminar Penguatan Media Publikasi dan Keterbukaan Informasi Publik memberikan pesan penting bagi seluruh sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Di balik setiap berita, foto, video, laporan, dan informasi yang muncul di ruang publik, terdapat kerja panjang untuk memastikan informasi tersebut memiliki konteks, data, bukti, dan nilai bagi masyarakat.
Kerja humas sering kali berlangsung di balik layar. Namun, hasilnya dapat terlihat dari bagaimana publik memahami sebuah lembaga.
Karena itu, membangun komunikasi publik yang baik bukan hanya tugas pranata humas atau PPID. Komunikasi publik merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur universitas.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, penguatan keterbukaan informasi menjadi semakin strategis seiring transformasi kampus menuju Cyber Islamic University.
Transformasi digital pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga tentang seberapa transparan lembaga bekerja, seberapa cepat memberikan layanan, seberapa akurat menyampaikan informasi, dan seberapa kuat kepercayaan publik yang dibangun.
Seminar ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya informasi dan komunikasi di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Sebab, kampus yang hebat bukan hanya kampus yang memiliki banyak prestasi, tetapi juga kampus yang mampu menceritakan, membuktikan, dan mempertanggungjawabkan setiap prestasinya kepada publik.


