UIN Siber Cirebon — Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak cukup hanya menjadi konsep yang tertulis dalam dokumen kebijakan. Nilai cinta, kasih sayang, empati, penghargaan terhadap kemanusiaan, dan keteladanan perlu hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Pertanyaan itulah yang tengah digali tim peneliti UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui penelitian implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MAN 1 Cirebon.
Tim yang terdiri atas Dr. Jaja Suteja, M.Pd.I., Bambang Setiawan, M.Pd., Herny Novianti, M.Pd., dan Ahmad Sofyan Bustomi melakukan kunjungan penelitian untuk memahami bagaimana nilai-nilai KBC diterjemahkan dalam kehidupan madrasah.
Penelitian tersebut tidak sekadar melihat apakah Kurikulum Berbasis Cinta sudah diterapkan. Lebih jauh, tim ingin menggali bagaimana nilai cinta diwujudkan dalam pengelolaan kurikulum, proses pembelajaran, interaksi guru dan peserta didik, hingga budaya madrasah.
Dari Konsep Kurikulum Menjadi Budaya Pendidikan
Kurikulum akan memiliki makna ketika nilai yang terkandung di dalamnya benar-benar dirasakan dalam kehidupan pendidikan. Karena itu, implementasi KBC menjadi perhatian penting dalam penelitian ini.
Kepala MAN 1 Cirebon, H. Soif, S.Ag., M.Pd., bersama Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Ashril Fath, turut memberikan informasi mengenai praktik pendidikan yang berlangsung di lingkungan madrasah.
Dialog antara tim peneliti dan pihak madrasah menjadi ruang untuk bertukar pengalaman. Dari proses tersebut, peneliti menggali bagaimana nilai kasih sayang, empati, penghargaan, keteladanan, dan kepedulian dapat hadir dalam hubungan antara guru, peserta didik, serta seluruh warga madrasah.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak berhenti pada pertanyaan tentang keberadaan program KBC. Peneliti juga berusaha menemukan pola dan praktik nyata yang dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta.
Menggali Praktik untuk Menemukan Model KBC
Tim peneliti memahami bahwa implementasi kurikulum memiliki dinamika yang berbeda di setiap madrasah. Karakter peserta didik, kepemimpinan madrasah, kompetensi guru, serta budaya yang telah berkembang dapat memengaruhi proses penerapan kurikulum.
Karena itu, pengalaman MAN 1 Cirebon menjadi sumber informasi penting untuk memahami penerapan KBC secara lebih kontekstual.
Fokus penelitian diarahkan pada nilai, pola interaksi, strategi pembelajaran, keteladanan, dan budaya madrasah yang mencerminkan semangat Kurikulum Berbasis Cinta.
Dengan demikian, KBC tidak hanya dipahami melalui perangkat pembelajaran. Implementasinya juga dapat dilihat dari cara guru mendidik, cara peserta didik diperlakukan, serta bagaimana hubungan antarmanusia dibangun di lingkungan madrasah.
UIN Siber Cirebon Dorong Pendidikan yang Humanis
Penelitian ini sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan kebijakan pendidikan dengan realitas di lapangan.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, penelitian implementasi KBC menjadi kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana gagasan kurikulum diterapkan dalam kehidupan madrasah.
Hasil penggalian data dan pengalaman di MAN 1 Cirebon diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai praktik Kurikulum Berbasis Cinta. Temuan tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap pengembangan model KBC yang lebih operasional dan kontekstual.
Pada akhirnya, pertanyaan penting dari Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya “apa konsepnya?”, tetapi juga “bagaimana cinta menjadi budaya dalam proses pendidikan?”
Jawabannya tidak selalu ditemukan di dalam dokumen. Jawaban itu justru dapat terlihat dari keseharian: bagaimana guru berbicara kepada peserta didik, bagaimana perbedaan dihargai, bagaimana empati dibangun, dan bagaimana keteladanan menjadi bagian dari proses belajar.
Dari MAN 1 Cirebon, tim peneliti UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berupaya menggali pengalaman tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia.





