UIN Siber Cirebon – Limbah botol plastik yang kerap dianggap tidak bernilai diubah menjadi media tanam produktif melalui program hidroponik terasering yang digagas KKN Kelompok 140 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama warga Gang Sirubud, Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis–Jumat (6–7/8/2026) tersebut memanfaatkan bambu dan botol plastik bekas untuk membangun instalasi hidroponik sederhana sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai budidaya sayuran yang ramah lingkungan.
Program yang dilaksanakan di sekitar Mushola Nurussa Adah ini melibatkan warga setempat, khususnya ibu-ibu. Selain menjadi solusi sederhana untuk mengurangi sampah plastik, hidroponik terasering dirancang agar dapat menjadi contoh pemanfaatan barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna, estetika, dan manfaat bagi lingkungan.
Botol Bekas Disulap Menjadi Media Tanam
Pembuatan hidroponik terasering diawali dengan pengumpulan bambu dan botol plastik bekas yang tersedia di lingkungan sekitar. Botol kemudian dicuci dan dibersihkan sebelum diberi lubang untuk tempat netpot. Agar instalasi terlihat lebih rapi dan menarik, botol juga dicat sebelum dipasang pada rangka hidroponik.
Sementara itu, bibit sayuran disiapkan melalui proses penyemaian menggunakan media rockwool. Jenis tanaman yang dipilih antara lain kangkung dan caisim atau sawi hijau, yang dibudidayakan menggunakan sistem wick atau sistem sumbu.
Sistem tersebut dipilih karena relatif sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan, warga tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai hidroponik, tetapi juga dapat mempraktikkan langsung konsep pemanfaatan limbah dalam kegiatan produktif.
Kolaborasi KKN 140 dan Warga Hadirkan Kebun Ramah Lingkungan
Proses pembuatan dilakukan secara kolaboratif antara mahasiswa KKN Kelompok 140 dan warga Gang Sirubud. Warga, khususnya ibu-ibu, terlibat mulai dari persiapan bahan hingga proses perakitan instalasi hidroponik.
Tim KKN bersama warga membuat rangka terasering menggunakan bambu, kemudian membersihkan dan mengecatnya sebelum seluruh komponen dirakit menjadi satu kesatuan. Setelah rangka siap, botol dipasang, larutan nutrisi dimasukkan, dan bibit yang sebelumnya disemai dipindahkan ke media tanam.
Ketua KKN Kelompok 140, Zamaludin, mengatakan program tersebut diharapkan menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.
“Semoga hidroponik terasering ini bisa menjadi langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Zamaludin.
Menurutnya, program ini tidak hanya berorientasi pada pembuatan instalasi hidroponik, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat kembali barang bekas sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.
Warga Antusias, Limbah Plastik Berubah Jadi Manfaat
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam proses pembuatan hingga penyelesaian instalasi hidroponik. Salah satu warga, Ibu Armi, mengapresiasi program yang dinilai memberikan manfaat sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dengan adanya program hidroponik dari adik-adik KKN 140. Selain memanfaatkan barang bekas, kegiatan ini juga mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Semoga hidroponik ini bisa terus dirawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Ibu Armi.
Setelah instalasi selesai, dilakukan penyerahan simbolik kepada perwakilan warga, Pak Ujang Fajri Mubarok. Ia menyampaikan harapan agar fasilitas tersebut dapat dirawat dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terima kasih kepada adik-adik KKN 140 atas program hidroponik ini. Semoga bisa terus dirawat dan bermanfaat bagi warga. Kami juga mendoakan semoga adik-adik KKN sukses selalu dalam setiap langkahnya,” tuturnya.
Dari Pengurangan Sampah Menuju Lingkungan Berkelanjutan
Program hidroponik terasering KKN 140 menjadi contoh sederhana bagaimana pengabdian masyarakat dapat menghubungkan isu lingkungan dengan kegiatan produktif. Pemanfaatan botol plastik bekas membantu mengurangi potensi sampah sekaligus mengubahnya menjadi media budidaya sayuran.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 140, Dra. Ida Nor Qosim, M.Pd.I., turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Kolaborasi mahasiswa dan warga diharapkan tidak berhenti pada pembuatan instalasi, tetapi berlanjut pada perawatan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada praktik sederhana budidaya sayuran yang dapat dilakukan dengan bahan bekas dan lahan yang terbatas. Lebih jauh, kegiatan tersebut mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap pengurangan sampah plastik serta membangun kebiasaan memanfaatkan barang bekas secara kreatif dan produktif.
Program ini turut mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan produktif, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kembali botol plastik dan penerapan budidaya yang lebih ramah lingkungan.
KKN Kelompok 140 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap hidroponik terasering tersebut dapat terus dirawat oleh warga dan menjadi pemantik bagi munculnya berbagai inisiatif lingkungan lainnya di Desa Astapada. Dari botol bekas yang sederhana, lahir sebuah ruang belajar bersama tentang kepedulian, kreativitas, dan keberlanjutan.


