UIN Siber Cirebon — Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar angka 17.845. Angka itu bukan hanya jumlah pohon yang ditanam mahasiswa KKN UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama masyarakat. Di dalamnya terdapat pesan tentang kemerdekaan, kepedulian, tanggung jawab, dan harapan untuk masa depan.
Angka 17.845 merujuk pada tanggal 17 Agustus 1945, hari ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Bagi saya, memilih angka tersebut untuk gerakan penanaman pohon adalah sebuah simbol. Jika para pendahulu kita memperjuangkan kemerdekaan dengan keberanian dan pengorbanan, maka generasi hari ini memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan dengan karya, kepedulian, dan tindakan nyata.
Salah satunya adalah merawat bumi tempat kita hidup.
Kemerdekaan Tidak Hanya Dirayakan, tetapi Dirawat
Kemerdekaan sering kita rayakan dengan upacara, bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan kebangsaan. Semua itu penting. Namun, kemerdekaan juga perlu dimaknai melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Menanam pohon adalah salah satu bentuk sederhana dari tindakan tersebut.
Kita mungkin tidak langsung melihat manfaatnya hari ini. Pohon yang baru ditanam masih kecil. Batangnya belum kokoh. Daunnya belum rindang.
Namun, beberapa tahun kemudian, pohon itu dapat menjadi peneduh. Akarnya membantu menjaga tanah. Daunnya memberi kesejukan. Lingkungan menjadi lebih hijau. Bahkan, pohon tersebut dapat menjadi warisan bagi anak-anak kita.
Inilah makna penting dari menanam: melakukan sesuatu hari ini untuk kehidupan yang mungkin baru kita rasakan manfaatnya di masa depan.
Karena itu, saya melihat gerakan 17.845 pohon bukan sekadar program penghijauan. Ini adalah pendidikan karakter.
Mahasiswa belajar tentang tanggung jawab. Masyarakat belajar tentang kepedulian. Dan kita semua belajar bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya. Masa depan harus dipersiapkan.
KKN Harus Meninggalkan Jejak yang Baik
Kuliah Kerja Nyata atau KKN tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kewajiban akademik yang harus diselesaikan mahasiswa.
KKN adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat dan sekaligus memberikan sesuatu kepada masyarakat.
Karena itu, saya berharap setiap kelompok KKN tidak hanya meninggalkan laporan setelah kembali ke kampus. Lebih dari itu, mereka harus meninggalkan jejak kebaikan.
Jejak itu bisa berupa pengetahuan baru, pendampingan UMKM, pendidikan masyarakat, kepedulian terhadap kesehatan, penguatan ekonomi, pelestarian budaya, maupun gerakan menjaga lingkungan.
Dalam konteks inilah penanaman 17.845 pohon oleh 145 kelompok KKN di 140 desa dan kelurahan memiliki makna yang sangat penting.
Mahasiswa tidak hanya menanam pohon.
Mereka sedang menanam nilai.
Mereka sedang menanam kesadaran.
Dan mereka sedang menanam harapan.
Pohon Mengajarkan Kita tentang Kesabaran
Ada pelajaran menarik dari sebuah pohon.
Pohon tidak tumbuh dalam satu malam.
Ia membutuhkan air, tanah yang baik, sinar matahari, dan perawatan. Pertumbuhannya berlangsung perlahan. Kadang tidak terlihat, tetapi sesungguhnya terus berjalan.
Demikian pula dengan pembangunan masyarakat.
Kita tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan dalam satu kegiatan. Perubahan sosial membutuhkan proses, kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi.
Karena itu, saya ingin agar keberhasilan gerakan 17.845 pohon tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam.
Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak pohon yang tetap hidup, tumbuh, dan dirawat oleh masyarakat.
Di situlah letak makna keberlanjutan.
Mahasiswa menanam. Masyarakat merawat. Pemerintah desa mendukung. Perguruan tinggi melakukan pendampingan. Komunitas menjaga. Dunia usaha dapat ikut berkontribusi.
Ketika semua bergerak bersama, sebuah kegiatan sederhana dapat berubah menjadi gerakan yang memberikan dampak lebih luas.
Dari Mahasiswa untuk Masyarakat, dari Desa untuk Indonesia
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan masyarakat.
Perguruan tinggi tidak boleh berada di menara gading.
Ilmu pengetahuan harus turun ke tengah masyarakat. Pengetahuan harus menjadi solusi. Dan mahasiswa harus mendapatkan pengalaman nyata tentang bagaimana ilmu yang mereka pelajari dapat memberikan manfaat.
Penanaman pohon memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengenai lingkungan, komunikasi sosial, kepemimpinan, kerja sama, dan pemberdayaan masyarakat.
Mereka belajar bahwa menyelesaikan persoalan lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian.
Begitu pula dengan pembangunan Indonesia.
Indonesia yang maju membutuhkan kolaborasi.
Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri.
Perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, media, dan generasi muda harus menemukan ruang kolaborasi untuk menjawab tantangan bersama.
Menjaga Bumi adalah Bagian dari Pengabdian
Perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan kita.
Cuaca semakin sulit diprediksi. Suhu semakin terasa panas. Lingkungan menghadapi berbagai tekanan. Persoalan air, sampah, ruang terbuka hijau, dan kualitas lingkungan menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.
Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi bagian dari budaya pendidikan.
Mahasiswa perlu memahami bahwa menjadi sarjana bukan hanya tentang memperoleh gelar.
Menjadi sarjana berarti memiliki pengetahuan dan tanggung jawab untuk memberikan manfaat.
Dalam konteks KKN, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pengabdian yang sangat relevan.
Menanam satu pohon mungkin terlihat sederhana.
Tetapi jika dilakukan oleh 145 kelompok mahasiswa bersama masyarakat di 140 desa dan kelurahan, maka ia berubah menjadi gerakan bersama.
Dari gerakan kecil itulah perubahan besar dapat dimulai.
17.845 Pohon dan Pesan untuk Generasi Mendatang
Saya membayangkan beberapa tahun mendatang, ketika sebagian pohon yang ditanam mahasiswa KKN ini telah tumbuh besar.
Mungkin mahasiswa yang menanamnya sudah lulus.
Mungkin mereka sudah bekerja di berbagai tempat.
Namun, pohon itu masih berdiri.
Ia menjadi pengingat bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang datang ke desa, berinteraksi dengan masyarakat, lalu meninggalkan sesuatu yang dapat dinikmati bersama.
Itulah warisan yang sesungguhnya.
Warisan tidak selalu berupa bangunan besar atau benda berharga.
Kadang warisan itu adalah sebuah pohon.
Kadang berupa ilmu yang dibagikan.
Kadang berupa kebiasaan baik yang diteruskan.
Dan kadang berupa kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan setelah kita.
Kampus Berdampak Harus Dimulai dari Kepedulian
Gerakan 17.845 pohon juga menjadi bagian dari semangat UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk membangun kampus yang berdampak.
Kampus berdampak bukan hanya tentang prestasi akademik dan capaian kelembagaan.
Kampus berdampak adalah kampus yang kehadirannya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Mahasiswa memiliki ilmu. Perguruan tinggi memiliki sumber daya. Masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal.
Ketika semua kekuatan tersebut dipertemukan, lahirlah kolaborasi yang memberikan manfaat.
Karena itu, saya berharap program ini tidak berhenti pada momentum KKN atau peringatan kemerdekaan.
17.845 pohon harus menjadi awal dari gerakan yang lebih panjang.
Perlu ada pemeliharaan, pemantauan, edukasi, dan kolaborasi agar pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik.
Sebab, menanam adalah awal.
Merawat adalah komitmen.
Dan melihatnya tumbuh menjadi manfaat adalah kebahagiaan bersama.
Menanam Hari Ini, Mewariskan Kehidupan
Pada akhirnya, saya ingin mengajak seluruh sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan masyarakat untuk melihat gerakan ini dengan perspektif yang lebih luas.
Ketika kita menanam pohon, sesungguhnya kita sedang mengatakan kepada generasi mendatang:
“Kami peduli terhadap kehidupan kalian.”
Ketika mahasiswa bekerja bersama masyarakat, kita sedang mengatakan:
“Pendidikan harus memberi manfaat.”
Dan ketika 17.845 pohon ditanam untuk memperingati kemerdekaan, kita sedang menegaskan:
“Mencintai Indonesia berarti menjaga tanah, air, udara, dan kehidupan di dalamnya.”
Kemerdekaan adalah warisan para pahlawan.
Lingkungan yang sehat adalah warisan yang harus kita siapkan untuk anak cucu.
Mari kita tanam bukan hanya pohon, tetapi juga kepedulian.
Mari kita rawat bukan hanya lingkungan, tetapi juga harapan.
Dan mari kita isi kemerdekaan bukan hanya dengan perayaan, tetapi dengan kerja nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi hari ini dan generasi yang akan datang.
17.845 pohon mungkin berawal dari sebuah angka. Namun, jika dirawat bersama, ia dapat tumbuh menjadi 17.845 harapan untuk Indonesia yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


