UIN Siber Cirebon (Singapura) — Bagaimana seorang Muslim membangun karier tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam NextGen 2026 — Simposium Belia Islam dan Harmony Games 2026 yang diikuti delegasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon di Singapura.
Kegiatan yang berlangsung pada 10–15 September 2026 di Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) ini mempertemukan pemuda Muslim dari berbagai latar belakang untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan perspektif mengenai tantangan generasi muda di tengah perubahan dunia.
Tiga delegasi UIN Siber Cirebon, yakni Fitriana, M.H., Mardhah Sastri Utami, Amd.Kes., S.Si., M.Biomed., dan Fajar Harits Santoso, S.Sos., M.I.Kom., turut mengikuti agenda tersebut.
Berkembang: Iman dan Karier dalam Harmoni
Salah satu sesi yang menarik perhatian mengangkat tema “Berkembang: Iman dan Karier dalam Harmoni”. Sesi ini menghadirkan Ustaz Fathurrahman Hj M Dawoed, Anggota Dewan dan Komite Fatwa MUIS sekaligus Presiden Asosiasi Profesional Muslim (AMP), serta Effendy Ibrahim, pendiri Ayd Coaching and Counselling dan penerima Anugerah Jasa Bakti 2019.
Ustaz Fathurrahman mengajak peserta melihat karier dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam perspektif Islam, pekerjaan tidak hanya menjadi sarana memperoleh penghasilan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Pembahasan juga menyoroti konsep rizq atau rezeki. Rezeki tidak semata-mata diukur dari besarnya gaji, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk makna, kepuasan, kesempatan berkembang, serta tujuan hidup yang lebih bermakna.
Pesan tersebut terasa semakin relevan di tengah dunia kerja yang kompetitif. Tekanan untuk terus produktif, budaya kerja berlebihan, hingga risiko kelelahan dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan hidup.
Karena itu, konsep tawakkul dan sabr menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan diri. Tawakkul mengajarkan seseorang untuk berserah kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik, sedangkan sabr menjadi kekuatan untuk tetap teguh menghadapi proses dan ketidakpastian.
Ketika Iman Menjadi Kompas Karier
Setelah keynote, Ustaz Fathurrahman berdialog bersama Effendy Ibrahim. Diskusi berlangsung dengan mengangkat sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan profesional anak muda Muslim.
Di antaranya, bagaimana mempertahankan ketulusan ketika mengejar pengakuan di tempat kerja? Bagaimana mempraktikkan tawakkul ketika masa depan karier penuh ketidakpastian? Dan bagaimana menjaga iman agar tetap menjadi jangkar ketika karier terus berkembang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka perspektif bahwa kesuksesan tidak selalu harus dipertentangkan dengan nilai agama. Justru, iman dapat menjadi kompas yang membantu seseorang menentukan arah ketika menghadapi pilihan-pilihan profesional.
Delegasi UIN Siber Cirebon: Karier Harus Memberi Makna
Fitriana, M.H., menilai pembahasan tersebut memberikan perspektif penting bagi generasi muda yang sedang membangun masa depan.
“Karier bukan hanya tentang bagaimana kita mencapai posisi tertentu, tetapi bagaimana perjalanan tersebut tetap memiliki nilai dan memberikan manfaat. Bagi saya, iman menjadi fondasi agar setiap langkah profesional memiliki arah yang jelas,” ujarnya.
Sementara itu, Mardhah Sastri Utami, Amd.Kes., S.Si., M.Biomed., melihat konsep keseimbangan antara iman dan karier sebagai sesuatu yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda.
“Kita sering dituntut untuk terus berkembang dan berprestasi. Namun, kegiatan ini mengingatkan bahwa perkembangan karier juga perlu diimbangi dengan ketenangan batin, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah,” katanya.
Adapun Fajar Harits Santoso, S.Sos., M.I.Kom., menilai forum internasional seperti NextGen 2026 memberikan ruang bagi pemuda Muslim untuk memperluas cara pandang.
“Yang menarik adalah bagaimana karier ditempatkan sebagai bagian dari kontribusi. Kita tidak hanya bertanya apa yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan, tetapi juga apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat melalui kompetensi yang kita miliki,” tuturnya.
Keikutsertaan delegasi UIN Siber Cirebon dalam NextGen 2026 menjadi pengalaman penting untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkaya perspektif tentang kepemudaan, keislaman, dan dunia profesional.
Dari Singapura, satu pesan kuat mengemuka: karier boleh terus berkembang, tetapi iman harus tetap menjadi kompas. Sebab, kesuksesan yang paling bermakna bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai tujuan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan sepanjang perjalanan.





