UIN Siber Cirebon — Empat mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon resmi dilepas untuk mengikuti Program Magang atau Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional 2026 di Malaysia.
Pelepasan berlangsung di Aula FDKI dan dipimpin langsung oleh Dekan FDKI, Dr. Naila Farah, M.Ag., didampingi Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama, Dr. Arief Rachman, M.Si., serta Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Dr. Jaja Suteja, M.Pd.I.
Program PPL Internasional ini dijadwalkan berlangsung pada 14–28 September 2026 di Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA), Malaysia.
Bekal Menuju Pengalaman Internasional
Dalam sambutannya, Dr. Naila Farah menegaskan bahwa PPL Internasional bukan sekadar agenda akademik. Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sekaligus memperluas wawasan tentang dakwah dan komunikasi Islam dalam lingkungan global.
“Program ini tidak hanya bertujuan untuk pemenuhan akademik, tetapi juga membangun kompetensi mahasiswa dalam konteks dakwah dan komunikasi Islam lintas budaya. Kami berharap mahasiswa dapat menjadi duta akademik yang membawa nama baik almamater di kancah internasional,” ujar Dr. Naila Farah.
Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu yang diperoleh di kampus diterapkan dalam konteks masyarakat yang berbeda.
Hal senada disampaikan Dr. Jaja Suteja, M.Pd.I. Ia menjelaskan bahwa fakultas telah mempersiapkan berbagai aspek pendukung sebelum mahasiswa berangkat, mulai dari administrasi, pembiayaan, hingga koordinasi dengan lembaga mitra.
“Seluruh aspek pendukung telah dipersiapkan secara komprehensif agar pelaksanaan PPL berjalan sesuai prosedur. Ini merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam menjamin mutu pelaksanaan PPL,” jelasnya.
Empat Mahasiswa, Empat Perspektif Keilmuan
Keempat mahasiswa yang mengikuti PPL Internasional 2026 berasal dari empat program studi di lingkungan FDKI. Mereka adalah Gina Nurani dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Alisiah dari Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Nayla Nathania Zahra Hisyam dari Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), serta Ahmad Fadhaillah Nabhan Al-Hamadi dari Sosiologi Agama (SOSMA).
Keterwakilan empat program studi tersebut diharapkan menjadi kekuatan tersendiri. Mahasiswa dapat bertukar perspektif dan membangun kolaborasi lintas disiplin selama berada di Malaysia.
Belajar Langsung dari Lingkungan Profesional
Selama mengikuti PPL di PEKA, mahasiswa akan terlibat dalam berbagai kegiatan akademik dan profesional. Agenda tersebut mencakup observasi dan praktik lapangan, workshop dan pelatihan, studi komparatif, serta pengabdian dan kolaborasi.
Mahasiswa juga akan mempelajari metode konseling kontemporer, manajemen organisasi pendidikan, serta strategi komunikasi dakwah dalam konteks Malaysia.
Melalui studi komparatif, mereka dapat melihat persamaan dan perbedaan praktik dakwah serta pendidikan Islam di Indonesia dan Malaysia. Pengalaman tersebut diharapkan memperkaya wawasan sekaligus melatih kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi dengan lingkungan lintas budaya.
Lebih dari itu, PPL Internasional menjadi kesempatan untuk mengasah soft skills, seperti komunikasi, kemampuan beradaptasi, penggunaan bahasa, kerja sama, dan membangun jejaring profesional.
Membawa Nama Baik Almamater
Keberangkatan empat mahasiswa FDKI menjadi bagian dari langkah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkuat pengalaman internasional mahasiswa.
Di tengah perubahan dunia yang semakin terhubung, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga perlu memiliki pengalaman, kemampuan berkomunikasi, keberanian beradaptasi, dan kepedulian untuk memberikan manfaat.
PPL Internasional 2026 karena itu bukan sekadar perjalanan akademik ke Malaysia. Program ini menjadi ruang belajar untuk tumbuh, berjejaring, dan membawa nilai-nilai keislaman ke dalam kehidupan global.
Dari Cirebon menuju Malaysia, empat mahasiswa FDKI membawa satu pesan penting: belajar tidak mengenal batas negara, dan kompetensi yang baik akan semakin bermakna ketika mampu memberi dampak bagi masyarakat.




