UIN Siber Cirebon (Jakarta, Kemenag) — Pembentukan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) di tingkat nasional bukan sekadar pembentukan organisasi alumni. Lebih dari itu, forum ini merupakan momentum strategis untuk mengonsolidasikan kekuatan intelektual, pengalaman profesional, dan jejaring sosial para alumni PTKIN agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan peradaban dunia.
Saya mengapresiasi inisiatif Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah menghadirkan ruang kolaborasi ini melalui Seminar Nasional bertema “Rekonstruksi Peradaban Islam untuk Membangun Dunia Baru”. Tema tersebut sangat relevan dengan tantangan zaman yang kita hadapi saat ini. Dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), perubahan iklim, dinamika ekonomi global, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks. Semua itu membutuhkan peran aktif perguruan tinggi dan alumninya.
Pesan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, bahwa PTKIN harus melahirkan cendekiawan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, merupakan pengingat sekaligus arah yang harus kita jalankan bersama. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah atau kecakapan akademik semata. Yang jauh lebih penting adalah melahirkan insan yang mampu menghadirkan solusi, menebarkan manfaat, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam perspektif tersebut, keberhasilan sebuah PTKIN tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau akreditasi program studi, tetapi juga dari sejauh mana alumninya mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Alumni merupakan wajah nyata sebuah perguruan tinggi. Ketika alumni berhasil menjadi pemimpin, pendidik, peneliti, birokrat, pengusaha, dai, maupun pelayan masyarakat yang berintegritas, maka sesungguhnya mereka sedang membawa nama baik almamater sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap PTKIN.
Bagi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, forum nasional ini semakin mempertegas komitmen kami sebagai Cyber Islamic University pertama di Indonesia. Transformasi digital yang kami bangun bukan hanya tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran, melainkan membangun ekosistem pendidikan tinggi Islam yang adaptif, inovatif, inklusif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam yang moderat.
Di era digital, alumni harus memiliki kompetensi multidisiplin. Mereka harus menguasai ilmu keislaman sekaligus memiliki literasi digital, kemampuan berpikir kritis, jiwa kewirausahaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas negara. Dunia membutuhkan lulusan yang mampu menjadi problem solver, bukan sekadar pencari pekerjaan.
Karena itu, saya meyakini bahwa kolaborasi antarkampus PTKIN melalui IKA PTKIN harus diarahkan pada penguatan riset bersama, pertukaran keahlian, inovasi teknologi, pengembangan ekonomi syariah, pemberdayaan masyarakat, serta diplomasi pendidikan Islam Indonesia di tingkat internasional. Sinergi seperti inilah yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan Islam moderat di dunia.
Sebagai bagian dari transformasi kelembagaan, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperluas kerja sama internasional, meningkatkan kualitas riset bereputasi global, memperkuat publikasi ilmiah, mengembangkan pembelajaran digital, serta memperluas akses pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai negara. Semua langkah tersebut kami lakukan agar lulusan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mampu menjadi warga dunia (global citizen) yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Saya berharap Forum Nasional IKA PTKIN tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Forum ini harus berkembang menjadi pusat kolaborasi yang produktif, melahirkan gagasan-gagasan strategis, memperkuat jejaring alumni, dan menghasilkan program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya terlihat dari megahnya gedung, banyaknya publikasi ilmiah, atau tingginya peringkat institusi. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika ilmu pengetahuan yang lahir dari kampus mampu menghadirkan kemaslahatan, memperkuat peradaban, menyelesaikan persoalan masyarakat, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi umat, bangsa, dan dunia.
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


