UIN Siber Cirebon – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia menggelar Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja PSGA dalam rangka memperkuat ekosistem pendidikan tinggi keagamaan yang adil gender, inklusif, ramah anak, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juni hingga 3 Juli 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi dan arah gerakan PSGA di tingkat nasional.(30/6/26).
Forum nasional ini diselenggarakan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap berbagai kasus kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan. Berbagai regulasi telah diterbitkan pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan, namun tantangan implementasi di lapangan masih memerlukan penguatan yang berkelanjutan dan sistematis.
Selama lebih dari satu dekade, PSGA di berbagai PTKI telah berperan aktif dalam mempromosikan keadilan gender, perlindungan perempuan dan anak, pengembangan kajian keilmuan yang responsif gender, serta pembentukan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Berbagai praktik baik telah lahir melalui penguatan kebijakan kampus, pembentukan unit layanan, pendidikan publik, pendampingan korban, penelitian, pengembangan kurikulum, hingga program pengabdian kepada masyarakat.
Ketua panitia, Dr. Masriah, M. Ag. kegiatan menyampaikan bahwa konsolidasi nasional ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi capaian, memperkuat kelembagaan PSGA, serta merumuskan strategi kolektif dalam membangun budaya akademik yang aman dan bermartabat.
“Ke depan, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan penanganan kasus kekerasan, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem pendidikan tinggi yang mampu mencegah terjadinya kekerasan, menjamin kesetaraan akses dan partisipasi, melindungi kelompok rentan, serta mengembangkan budaya akademik yang inklusif dan menghormati martabat manusia,” ujarnya.
Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan dalam forum ini, antara lain tren dan perkembangan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi, implementasi regulasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di PTK, penguatan kelembagaan PSGA, integrasi program PSGA dalam kebijakan dan perencanaan perguruan tinggi, dukungan sumber daya manusia dan pembiayaan, hingga penguatan kampus ramah anak, inklusif terhadap penyandang disabilitas, dan responsif terhadap kelompok rentan.
Kegiatan ini dikemas dalam berbagai agenda yang saling terintegrasi, meliputi Musyawarah Nasional PSGA Ke-4, Perumusan Deklarasi dan Rekomendasi Nasional, Refleksi dan Berbagi Praktik Baik Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Ke-3, Konferensi Internasional Ke-4, serta Napak Tilas Ulama Perempuan di Cirebon.
Forum konsolidasi nasional ini dihadiri oleh pengurus PSGA PTKI/PTK se-Indonesia, pimpinan perguruan tinggi keagamaan, akademisi, peneliti, aktivis perempuan, anak dan disabilitas, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, mahasiswa, serta kelompok muda.
Sejumlah tokoh nasional dan internasional turut hadir sebagai pembicara, di antaranya Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Amien Suyitno, M.A., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Prof. Dr. M. Arskal Salim GP., M.Ag., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag. Anggota DPR RI Dr. Rieke Diah Pitaloka, akademisi Dr. Nur Rofiah, Katrin Bandel, Ph.D. dari Jerman, ulama perempuan dan tokoh gender KH. Dr. (HC.) Husein Muhammad serta Nyai Hj. Masriah Ava, bersama perwakilan Komnas Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta berbagai praktisi dan akademisi lainnya.
Melalui forum ini, PSGA PTKI berharap dapat memperkuat jejaring kolaborasi antarlembaga, memperluas pertukaran praktik baik, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong transformasi pendidikan tinggi keagamaan yang berkeadilan gender, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Konsolidasi nasional ini sekaligus menegaskan kontribusi strategis Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam mewujudkan transformasi sosial yang berkeadilan, berkeadaban, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.


