UIN Siber Cirebon — LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar pertemuan koordinasi daring bersama para pimpinan unit kampus. Pertemuan berlangsung singkat dan terfokus, membahas satu hal: bagaimana Program Relawan Pengabdian untuk Akselerasi Kampus Berdampak yang baru saja dimulai dapat berjalan dengan baik di setiap unit.
Pertemuan koordinasi yang berlangsung melalui Google Meet itu dipandu oleh Dr. Budi Manfaat, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M. Ia membuka sesi dengan menjelaskan latar belakang program yang sedang berjalan: Program Relawan Pengabdian untuk Akselerasi Kampus Berdampak, sebuah program yang menempatkan mahasiswa sebagai relawan dokumentasi di unit-unit kampus, bersamaan dengan penerjunan KKN reguler yang dimulai 13 Juli 2026.
Ide dasarnya sederhana. Di kampus ini, banyak hal baik terjadi setiap harinya. Dosen yang meneliti dengan tekun, staf yang melayani dengan sabar, program-program yang berdampak nyata, namun jarang terdengar keluar karena tidak ada yang secara khusus bertugas mencatatnya. Program ini hadir untuk mengisi peran itu, dengan menempatkan mahasiswa bukan sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai pencerita.
Tujuh puluh empat mahasiswa dari berbagai program studi telah ditetapkan penempatannya di empat belas unit, mulai dari fakultas, pascasarjana, pusat-pusat LP2M, Biro AUAK, Humas Rektorat, Pusat Pengembangan Bahasa, hingga Ma’had Al-Jami’ah. Mereka tidak dituntut mahir menulis atau membuat video sejak awal. LP2M berkomitmen mendampingi dan melatih mereka secara berkala, termasuk dalam hal penulisan narasi, teknik wawancara, dan produksi konten visual, agar apa yang mereka hasilkan benar-benar bermutu dan bermakna.
Keterlibatan mahasiswa dalam program ini diakui setara KKN. Mereka cukup memenuhi 240 jam pengabdian yang terdokumentasi, tanpa harus mengikuti KKN reguler secara terpisah.
Dalam pertemuan yang berlangsung interaktif tersebut, para pimpinan unit menyambut program dengan baik. Beberapa menyampaikan harapan dan gagasan tentang apa yang ingin mereka angkat dari unit masing-masing, ada yang ingin mendokumentasikan riset, ada yang tertarik merekam kehidupan mahasiswa di unit mereka, ada pula yang sudah memiliki cerita tertentu yang selama ini belum sempat ditulis.
“Pertemuan ini bukan seremoni. Ini percakapan awal yang kita butuhkan agar program ini bisa berjalan dengan arah yang jelas dan dukungan yang nyata dari semua pihak,” ujar Dr. Budi Manfaat menutup sesi.
Program ini dirancang berkesinambungan, dengan sistem estafet yang memungkinkan keberlanjutan dokumentasi melampaui satu gelombang mahasiswa. Hasilnya bukan laporan, melainkan narasi yang hidup tentang kampus ini, kampus yang tidak hanya sibuk belajar dan mengajar, tetapi juga mulai belajar bercerita.


