Opini Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tentang Kedaulatan Digital, Moderasi Beragama, dan Masa Depan Indonesia Berkelanjutan
UIN Siber Cirebon — Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar momentum historis untuk mengenang lahirnya kesadaran kebangsaan melalui Boedi Oetomo pada tahun 1908. Lebih dari itu, Hari Kebangkitan Nasional adalah panggilan moral bagi seluruh anak bangsa untuk terus bangkit menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
Jika dahulu bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme fisik, maka hari ini tantangan kita jauh lebih kompleks. Kita sedang menghadapi disrupsi teknologi, ancaman kedaulatan digital, krisis lingkungan, degradasi moral, hingga derasnya arus informasi yang sering kali sulit dibendung. Dalam konteks inilah, tema Hari Kebangkitan Nasional 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” menjadi sangat relevan dan strategis.
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri berbasis siber pertama di Indonesia, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi bagian dari solusi dalam membangun masa depan bangsa yang unggul, adaptif, dan berkelanjutan.
Kebangkitan Nasional di Era Digital
Di era transformasi digital saat ini, ukuran kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya dilihat dari kekayaan sumber daya alam atau luas wilayah geografisnya. Kedaulatan bangsa kini juga ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, menjaga keamanan data, memperkuat literasi digital, serta membangun ketahanan moral generasi mudanya.
Karena itu, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan semata. Kampus harus menjadi pusat transformasi peradaban yang mampu melahirkan generasi yang cakap teknologi sekaligus kuat secara spiritual dan moral.
Mahasiswa hari ini adalah generasi digital natives yang akan menentukan arah Indonesia di masa depan. Mereka hidup di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, internet of things, hingga ruang virtual tanpa batas. Namun kecanggihan teknologi tanpa pondasi nilai dan etika akan melahirkan krisis kemanusiaan baru.
Di sinilah pentingnya integrasi antara ilmu agama dan teknologi siber. Kampus Islam harus mampu menghadirkan model pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Kampus Siber dan Tanggung Jawab Kebangsaan
Sebagai Cyber Islamic University, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki posisi strategis dalam mendukung implementasi Astacita Presiden Republik Indonesia dan Astaprotas Kementerian Agama, khususnya dalam bidang transformasi digital pendidikan Islam, penguatan moderasi beragama, serta pembangunan sumber daya manusia unggul.
Kami percaya bahwa ruang digital bukan hanya ruang teknologi, tetapi juga ruang dakwah, ruang edukasi, dan ruang perjuangan kebangsaan. Karena itu, mahasiswa harus menjadi pelopor literasi digital yang sehat, produktif, dan mencerahkan masyarakat.
Media sosial harus menjadi sarana menyebarkan ilmu pengetahuan, nilai toleransi, serta Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan justru menjadi ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, atau radikalisme digital.
Teknologi harus menjadi alat pemersatu bangsa, bukan alat pemecah belah. Inilah bentuk kebangkitan nasional baru yang harus kita bangun bersama.
Green Cyber Campus dan Kebangkitan Ekologis
Selain transformasi digital, tantangan besar bangsa saat ini adalah krisis lingkungan. Perubahan iklim, kerusakan alam, dan eksploitasi sumber daya menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi mendatang.
Karena itu, kebangkitan nasional juga harus dimaknai sebagai kebangkitan ekologis. Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor budaya ramah lingkungan melalui konsep Green Cyber Campus.
Implementasi paperless office, efisiensi energi, green computing, hingga pembudayaan perilaku ramah lingkungan di lingkungan akademik harus menjadi bagian dari budaya institusi.
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan adalah amanah teologis sebagai khalifah fil ardh. Artinya, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.
Kedaulatan pangan, energi, dan air yang menjadi bagian penting pembangunan nasional tidak akan tercapai tanpa kesadaran ekologis generasi muda.
Menjaga Tunas Bangsa untuk Indonesia Emas
Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi momentum refleksi bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga dan mempersiapkan tunas-tunas bangsa hari ini.
Kita membutuhkan generasi yang unggul dalam teknologi, kuat dalam spiritualitas, moderat dalam beragama, serta peduli terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
Perguruan tinggi harus hadir sebagai ruang tumbuhnya generasi tersebut. Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membangun peradaban.
Karena itu, mari kita jadikan kampus sebagai pusat kebangkitan nasional baru — kebangkitan ilmu pengetahuan, kebangkitan moral, kebangkitan digital, dan kebangkitan ekologis menuju Indonesia Emas 2045.
Bangkitnya bangsa tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau teknologi canggih semata, tetapi dimulai dari kesadaran kolektif untuk menjaga nilai, menjaga persatuan, dan menjaga generasi muda sebagai aset terbesar bangsa.
Sebagaimana semangat para pendiri bangsa dahulu, kini saatnya generasi digital Indonesia bangkit bersama membangun masa depan yang lebih berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Oleh: Aan Jaelani


