UIN Siber Cirebon – Upaya menghidupkan kembali khazanah pemikiran Islam Nusantara terus diperkuat melalui skema Penelitian MoRA Kementerian Agama RI–LPDP 2026 yang mendorong riset tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat melalui pendekatan impactful research.
Wujud nyata dari hilirisasi riset tersebut terlihat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “NGOPY (Ngobrol Happy)” yang digelar di Kebon Sufi 3, Lapangan Perbutulan, Cirebon, pada Sabtu malam, 30 Mei 2026. Forum ini mengangkat tema besar “Manunggaling Kawula Gusti: Filsafat Kemanunggalan Syekh Siti Jenar”, yang memantik dialog lintas disiplin antara filsafat, tasawuf, sejarah, hingga ekologi.
Riset Akademik Bertemu Ruang Budaya Komunitas
Kegiatan ini mempertemukan para akademisi, peneliti, dan pegiat budaya dalam satu ruang dialog terbuka. Hadir sebagai narasumber di antaranya:
- Dr. Dedi Djubaedi, M.A (Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
- Dr. Abdul Aziz, M.Ag (Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
- Syekh Muhammad (Kebon Sufi)
- Deden Lesmana (Founder Metode Pertanian Purba)
- Farihin Niskala, S.Hum. (Pengkaji sejarah dan naskah kuno)
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara epistemologi akademik kampus dengan spiritualitas dan kearifan komunitas lokal, yang dikemas dalam suasana dialog santai namun berbobot.
Syekh Siti Jenar dan Relevansi Pemikiran untuk Masa Kini
Tema “Manunggaling Kawula Gusti” yang identik dengan ajaran Syekh Siti Jenar tidak diposisikan sebagai perdebatan teologis semata, melainkan sebagai bahan refleksi filosofis untuk membaca hubungan manusia, Tuhan, dan alam dalam konteks kekinian.
Dalam forum tersebut, konsep tersebut dibedah sebagai filsafat kesadaran etis, yang menekankan bahwa kesatuan spiritual manusia dengan Tuhan harus tercermin dalam perilaku sosial, moral, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Tiga Arah Penguatan Riset Berdampak
Dalam kerangka Penelitian MoRA Kemenag RI–LPDP 2026, diskusi ini menghasilkan tiga fokus penting:
- Dekonstruksi Sejarah dan Manuskrip Lokal
Kehadiran pakar naskah kuno, Farihin Niskala, S.Hum., memperkuat pendekatan filologis dalam membaca kembali warisan intelektual Islam Nusantara berbasis manuskrip lokal Cirebon sebagai sumber ilmiah yang otentik.
- Integrasi Tasawuf dan Ekologi
Keterlibatan praktisi pertanian purba, Deden Lesmana, memperluas makna spiritualitas menjadi kesadaran ekologis. Ajaran “manunggaling” ditafsirkan sebagai dorongan etis untuk menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia.
- Penguatan Dialog Kebudayaan
Forum NGOPY menjadi model baru community-engaged research, yaitu riset yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi hidup dalam diskusi publik, budaya lokal, dan ruang sosial masyarakat.
Kampus Tidak Lagi di Menara Gading
Prof. Dr. Dedi Djubaedi, M.A dan Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag menegaskan bahwa pendekatan ini adalah bentuk nyata transformasi riset keagamaan.
“Ilmu tidak boleh berhenti di buku atau jurnal. Ia harus hadir di tengah masyarakat, dibicarakan secara sederhana, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari situlah lahir kesadaran kolektif dan modal sosial,” ungkap para akademisi dalam forum tersebut.
Riset Keagamaan yang Membumi dan Menginspirasi
Melalui kegiatan ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama Kementerian Agama RI dan LPDP menegaskan komitmen bahwa riset keagamaan tahun 2026 tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga:
- memperkuat nalar kritis masyarakat,
- merawat harmoni budaya Nusantara,
- dan membumikan nilai spiritual sebagai solusi sosial.
Kebon Sufi menjadi ruang kecil yang menghadirkan gagasan besar: bahwa ilmu, budaya, dan spiritualitas dapat berjalan berdampingan untuk memperkuat peradaban yang lebih manusiawi.


