UIN Siber Cirebon – Mahasiswa KKN Kelompok 47 Desa Mertasinga UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memberikan edukasi mengenai kenakalan remaja kepada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini menjadi upaya preventif untuk membantu siswa memahami berbagai bentuk kenakalan remaja, mengenali faktor penyebab dan dampaknya, serta membangun kemampuan mengambil keputusan yang bijak dalam menghadapi tantangan masa remaja.
Melalui penyampaian materi dan Forum Group Discussion (FGD), siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai perilaku menyimpang, tetapi juga diajak menganalisis berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter siswa agar mampu membangun pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab.
Mengenali Bentuk dan Penyebab Kenakalan Remaja
Dalam pemaparan materi, mahasiswa KKN menjelaskan kenakalan remaja sebagai perilaku yang bertentangan dengan norma agama, sosial, maupun hukum. Siswa diajak memahami bahwa perilaku tersebut dapat muncul akibat berbagai faktor, baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar.
Beberapa faktor yang dibahas antara lain emosi yang belum stabil, kurangnya kontrol diri, pengaruh teman sebaya, penggunaan media sosial, serta lingkungan pergaulan yang kurang baik.
Mahasiswa juga mengenalkan sejumlah bentuk kenakalan remaja yang perlu diwaspadai, seperti bullying, tawuran, membolos sekolah, vandalisme, penyalahgunaan narkoba, balap liar, hingga menyontek. Setiap perilaku dibahas berdasarkan dampaknya terhadap diri sendiri, teman, keluarga, maupun lingkungan sekolah.
Pemahaman tersebut menjadi penting agar siswa dapat mengenali risiko dari setiap tindakan dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.
Dari Bullying hingga Tawuran, Siswa Diajak Berpikir Kritis
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD). Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mendapatkan studi kasus yang berkaitan dengan persoalan kenakalan remaja, di antaranya bullying, membolos sekolah, dan tawuran.
Setiap kelompok diminta mengidentifikasi penyebab permasalahan, dampak yang mungkin ditimbulkan, serta solusi yang dapat dilakukan. Hasil pembahasan kemudian dipresentasikan di hadapan peserta lainnya.
Metode FGD memberikan ruang kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Selain melatih kemampuan berpikir kritis, kegiatan tersebut juga mendorong siswa berani menyampaikan pendapat sekaligus belajar menghargai pandangan teman.
Pendekatan ini membuat edukasi tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mengajak siswa melihat bagaimana suatu persoalan dapat terjadi dan bagaimana cara menyikapinya secara tepat.
Bangun Pertemanan Positif dan Berani Menolak Perilaku Negatif
Pada bagian akhir kegiatan, mahasiswa KKN memberikan penguatan mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan siswa untuk mencegah kenakalan remaja.
Siswa didorong untuk memilih lingkungan pertemanan yang positif, mematuhi tata tertib sekolah, memperkuat akhlak dan karakter, serta berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang dapat mengarah pada perilaku negatif.
Pencegahan juga ditekankan sebagai tanggung jawab bersama. Lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi remaja.
Melalui pembiasaan perilaku positif sejak dini, siswa diharapkan mampu mengembangkan kontrol diri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.
Wujudkan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Nyaman
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 47, Dr. Wartoyo, M.S.I., turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan edukasi tersebut. Program ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pembentukan karakter dan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan nyaman.
Melalui kegiatan edukasi dan FGD, KKN Kelompok 47 Desa Mertasinga berharap siswa SMP Negeri 1 Gunung Jati semakin memahami pentingnya menjauhi perilaku menyimpang serta mampu menjadi remaja yang disiplin, bertanggung jawab, dan bijaksana.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui penguatan pengetahuan, karakter, dan keterampilan sosial peserta didik. Edukasi mengenai pencegahan kenakalan remaja juga mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan kondusif bagi perkembangan siswa.
Dengan membekali siswa kemampuan mengenali risiko, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijak, edukasi pencegahan kenakalan remaja diharapkan tidak hanya berdampak selama kegiatan berlangsung, tetapi menjadi bekal bagi siswa dalam menjalani masa remaja dan membangun masa depan yang lebih positif.


