UIN Siber Cirebon – Komitmen menghadirkan pendidikan Islam yang inklusif terus diperkuat oleh UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA). Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Literasi Al-Qur’an Braille yang diselenggarakan pada 2–3 Juni 2025 sebagai langkah strategis dalam menyiapkan kader pengajar Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra.
Kegiatan yang diikuti oleh 50 mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Ilmu Hadis (ILHA) ini merupakan hasil kolaborasi antara Laboratorium Tafsir dan Hadis (LABTH), Jurusan IAT, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) IAT FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Melalui workshop tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai literasi Al-Qur’an Braille, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam pelayanan pendidikan Al-Qur’an bagi masyarakat penyandang disabilitas netra.
Hadirkan Narasumber Nasional di Bidang Al-Qur’an Braille
Workshop Literasi Al-Qur’an Braille menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang pendidikan Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas.
Mereka adalah Yayat Rukhiat, S.Pd. dari Asosiasi Pengajar Al-Qur’an Braille Indonesia (APQBI), Dr. Abdul Hakim Syukri, M.Fil. dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), serta Numan Sabit, S.Pd.I. dari APQBI.
Kehadiran para narasumber memberikan wawasan mengenai metode pembelajaran Al-Qur’an Braille, tantangan pelayanan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra, serta strategi pengembangan sumber daya manusia yang mampu mendukung pendidikan Islam yang ramah bagi semua kalangan.
FUA Dorong Pendidikan Islam yang Setara dan Berkeadilan
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab, Dr. H. Anwar Sanusi, M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam membangun budaya akademik yang inklusif dan berkeadilan.
Menurutnya, setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses pendidikan dan layanan keagamaan yang berkualitas tanpa memandang kondisi fisik maupun keterbatasan yang dimiliki.

“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi semua. Kehadiran workshop ini menunjukkan komitmen kita dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an bagi saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang literasi Al-Qur’an Braille sejalan dengan komitmen universitas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan inklusif dan pengurangan kesenjangan sosial.
Mahasiswa Dibekali Kompetensi Praktis untuk Melayani Masyarakat
Sementara itu, Kepala Laboratorium Tafsir dan Hadis, Dr. H. Achmad Lutfi, M.S.I., menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga pengajar Al-Qur’an Braille masih cukup tinggi di berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat.

“Melalui pelatihan ini mahasiswa dibekali kemampuan praktis yang dapat digunakan untuk mendampingi dan melayani penyandang disabilitas netra dalam belajar Al-Qur’an. Ini menjadi salah satu bentuk pengabdian keilmuan yang sangat dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.
Pelatihan tersebut diharapkan mampu menjadi bekal bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan pendidikan, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman yang inklusif.
FUA Siapkan Pengembangan Pusat Literasi Al-Qur’an Inklusif
Ketua Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Mohamad Yahya, M.Hum., mengungkapkan bahwa workshop ini menjadi langkah awal dalam pengembangan pusat literasi Al-Qur’an inklusif di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Adab.

Menurutnya, setelah pengembangan literasi Al-Qur’an Braille, fakultas juga berencana mengembangkan program literasi Al-Qur’an isyarat bagi penyandang disabilitas rungu sebagai bagian dari perluasan layanan pendidikan Islam inklusif.
Kompetensi yang diperoleh mahasiswa nantinya akan diperkuat melalui berbagai program lapangan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pelayanan disabilitas.
Melalui langkah tersebut, FUA berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat serta menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pendidikan Islam yang inklusif dan berkelanjutan.


