UIN Siber Cirebon — Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni bukan sekadar momentum mengenang sejarah lahirnya dasar negara. Lebih dari itu, peringatan ini merupakan ruang refleksi bagi seluruh anak bangsa untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tahun 2026, bangsa Indonesia mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Tema ini sangat relevan dengan kondisi global yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, disrupsi teknologi, hingga polarisasi sosial yang semakin menguat akibat derasnya arus informasi digital.
Di tengah dinamika tersebut, Pancasila hadir bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai kompas moral yang membimbing arah perjalanan bangsa. Pancasila mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh menghilangkan kemanusiaan, teknologi tidak boleh menghapus nilai-nilai kebijaksanaan, dan perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan.
Pancasila: Warisan Sekaligus Tanggung Jawab Generasi Bangsa
Para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai titik temu dari keberagaman Indonesia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, dan latar belakang budaya yang berbeda, Indonesia mampu berdiri kokoh karena memiliki satu kesepakatan bersama, yakni Pancasila.
Keberhasilan Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman sesungguhnya merupakan salah satu kontribusi terbesar bangsa ini bagi dunia. Ketika banyak negara menghadapi konflik identitas, Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan semangat persaudaraan, gotong royong, dan keadilan sosial.
Karena itu, menjaga Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga negara, termasuk kalangan akademisi, mahasiswa, pendidik, dan generasi muda.
Pancasila di Era Digital: Bukan Sekadar Hafalan
Tantangan terbesar generasi saat ini bukan lagi minimnya akses informasi, melainkan melimpahnya informasi yang sering kali tidak terverifikasi. Era digital menghadirkan berbagai peluang sekaligus ancaman.
Media sosial memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapatnya secara bebas. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, hingga radikalisme yang berpotensi merusak persatuan bangsa.
Oleh karena itu, Pancasila harus menjadi living ideology atau ideologi yang hidup dalam setiap aktivitas masyarakat, termasuk dalam ruang digital.
- Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan etika dan integritas dalam menggunakan teknologi.
- Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan pentingnya menghormati martabat manusia dalam setiap interaksi digital.
- Sila Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa media sosial harus menjadi sarana memperkuat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan.
- Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mengajarkan budaya dialog yang sehat dan demokratis.
- Sedangkan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat.
Perguruan Tinggi dan Tanggung Jawab Membangun Peradaban
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri berbasis siber pertama di Indonesia, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik dan digital, tetapi juga melahirkan insan yang memiliki karakter kebangsaan, moderasi beragama, kepedulian sosial, serta komitmen terhadap kemanusiaan.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan transformasi digital yang semakin cepat, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila menjadi semakin penting. Sebab, teknologi hanya akan menjadi alat. Yang menentukan arah penggunaannya tetaplah manusia.
Karena itu, mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang mampu memadukan kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial, dan kecerdasan digital dalam satu kesatuan yang utuh.
Pancasila dan Misi Perdamaian Dunia
Tema Hari Lahir Pancasila tahun ini juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab global untuk ikut mewujudkan perdamaian dunia.
Sebagaimana amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Nilai-nilai Pancasila sesungguhnya sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan global saat ini. Dunia membutuhkan lebih banyak dialog daripada konflik. Dunia membutuhkan kerja sama daripada permusuhan. Dunia membutuhkan keadilan daripada dominasi.
Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjadi jembatan perdamaian dunia. Nilai musyawarah, toleransi, gotong royong, dan penghormatan terhadap kemanusiaan merupakan warisan bangsa yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat internasional.
Menjaga Api Pancasila
Hari Lahir Pancasila hendaknya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh sejauh mana nilai-nilai Pancasila hidup dalam perilaku sehari-hari.
Pancasila harus hadir dalam ruang kelas, ruang kerja, ruang digital, ruang keluarga, hingga ruang-ruang pengambilan kebijakan publik.
Mari jadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi untuk membangun bangsa yang maju, berkeadilan, berdaya saing global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab ketika teknologi berkembang begitu cepat, ketika dunia berubah dengan begitu dinamis, dan ketika tantangan semakin kompleks, Pancasila akan tetap menjadi jangkar moral yang menjaga arah perjalanan bangsa Indonesia.
Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.
Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.
Jayalah Indonesiaku. Merdeka!
Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.


