UIN Siber Cirebon – Mahasiswa KKN Kelompok 17 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar edukasi interaktif bertema literasi, pencegahan kekerasan, dan kampanye Stop Violence Against Women and Bullying di SDN 1 Munjul, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang ramah anak, aman, dan bebas dari intimidasi. Edukasi dirancang dengan pendekatan berbeda sesuai tahapan usia siswa agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi Menjadi Pintu Masuk Edukasi Perlindungan Anak
Program KKN Kelompok 17 mengintegrasikan kegiatan literasi dengan edukasi mengenai pencegahan perundungan serta pentingnya perlindungan anak. Pendekatan ini dilakukan untuk membantu siswa tidak hanya memiliki kemampuan memahami informasi, tetapi juga mampu mengenali berbagai situasi yang berpotensi mengarah pada kekerasan maupun perundungan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak membangun kesadaran mengenai pentingnya saling menghargai, menjaga perasaan teman, serta menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung tumbuh kembang anak.
Materi Disesuaikan dengan Usia Siswa
Agar kegiatan lebih efektif, mahasiswa KKN Kelompok 17 membagi pendekatan berdasarkan jenjang kelas. Siswa kelas 1 dan 2 mengikuti tayangan edukatif yang disesuaikan dengan usia mereka.
Sementara itu, siswa kelas 3 hingga 6 mengikuti sosialisasi interaktif yang dilengkapi dengan ruang diskusi. Pembagian ini dilakukan agar materi mengenai kekerasan, perundungan, dan perlindungan anak dapat disampaikan menggunakan bahasa serta metode yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Siswa terlihat antusias mengikuti tayangan edukatif maupun terlibat dalam diskusi bersama mahasiswa KKN.
Anak Diajak Berani Menyuarakan Kebenaran
Ketua KKN Kelompok 17, Wahid Asy’ary, mengatakan bahwa antusiasme siswa menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan berjalan dengan baik. Dukungan dari pihak sekolah juga membantu mahasiswa menyesuaikan materi dengan kebutuhan peserta didik.
“Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, baik saat menonton tayangan edukatif maupun saat diskusi interaktif. Kelompok kami juga sepakat untuk memisahkan materi berdasarkan usia, didukung penuh oleh kepala sekolah dan guru-guru,” ujarnya.
Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk memahami kondisi di lingkungan sekitar dan berani mengambil sikap terhadap tindakan yang tidak benar.
“Melalui media literasi ini, mereka tidak hanya belajar membaca situasi sekitar, tetapi juga berani menyuarakan kebenaran dan berkomitmen untuk saling merangkul,” lanjut Wahid.
Kolaborasi untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak
Kegiatan ini turut mendapat pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Yunita Dwi Jayanti, M.Pd. Kolaborasi antara mahasiswa KKN dan pihak sekolah menjadi bagian penting dalam menghadirkan edukasi yang relevan dengan kebutuhan siswa.
Melalui kampanye Stop Violence Against Women and Bullying, mahasiswa KKN Kelompok 17 berharap siswa semakin percaya diri untuk menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang mereka hadapi, sekaligus memahami pentingnya menghormati dan melindungi satu sama lain.
“Semoga kegiatan ini dapat memotivasi siswa untuk percaya diri, gemar belajar, serta menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman bebas dari intimidasi,” kata Wahid.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman. Dengan penguatan literasi, edukasi perlindungan anak, serta kolaborasi antara civitas akademika dan sekolah, diharapkan nilai saling menghargai dapat terus tumbuh dalam keseharian siswa.
Kaitan dengan SDGs
Kegiatan ini relevan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs):
- SDG 4 – Pendidikan Berkualitas (Quality Education): melalui penguatan literasi dan edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan serta tahap perkembangan siswa.
- SDG 5 – Kesetaraan Gender (Gender Equality): melalui kampanye Stop Violence Against Women dan penguatan kesadaran mengenai pentingnya perlindungan dari kekerasan.
- SDG 16 – Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh: melalui upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan serta perundungan.


