UIN Siber Cirebon – Membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman dapat dimulai dari hal sederhana: mengajarkan anak untuk saling menghargai dan berani menolak perundungan. Semangat tersebut diwujudkan mahasiswa KKN Kelompok 28 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui program Edukasi Anti-Bullying bagi siswa-siswi SDN 1 Pamengkang dan SDN 2 Pamengkang, Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, pada 28 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus upaya menanamkan karakter positif kepada anak sejak usia dini. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, siswa diajak mengenali bentuk-bentuk bullying, memahami dampaknya, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menyaksikan perundungan.
Kenali Bullying, Bangun Sekolah yang Aman
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 28 memperkenalkan berbagai bentuk bullying yang dapat terjadi di lingkungan anak, mulai dari bullying fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying.
Materi disampaikan melalui pemutaran video edukasi yang dikemas dengan bahasa dan visual yang mudah dipahami siswa. Penggunaan media audiovisual membuat peserta lebih mudah mengenali contoh perilaku perundungan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa kemudian mengajak siswa berdiskusi mengenai situasi yang mereka lihat dalam video. Siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman mereka.
Pesan yang ditekankan sederhana tetapi penting: bullying bukan candaan dan tidak boleh dibiarkan.
Belajar Berani Berkata “Tidak” pada Bullying
Setelah pemutaran video, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Mahasiswa KKN mengajak siswa memahami apa yang sebaiknya dilakukan ketika melihat teman mengalami perundungan maupun ketika mereka sendiri menjadi korban.
Suasana dibuat lebih menyenangkan dengan memberikan hadiah apresiasi kepada siswa yang aktif menjawab pertanyaan. Cara tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendorong keberanian anak dalam berbicara dan menyampaikan pendapat.
Mahasiswa KKN Kelompok 28 juga mengajak siswa membangun keberanian untuk mengatakan “tidak” pada bullying, melindungi teman, serta melaporkan tindakan perundungan kepada orang dewasa yang dipercaya.
“Kalau melihat teman dibully, jangan ikut menertawakan. Kita harus berani membantu dan melapor kepada guru atau orang tua.”
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam edukasi agar siswa memahami bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman merupakan tanggung jawab bersama.
Dari Edukasi Menuju Karakter yang Berempati
Program Edukasi Anti-Bullying tidak hanya berfokus pada pengenalan jenis-jenis perundungan, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter siswa yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.
Mahasiswa KKN Kelompok 28 mendorong siswa untuk memahami bahwa setiap anak memiliki perasaan dan berhak mendapatkan perlakuan yang baik. Perbedaan karakter, kemampuan, maupun kondisi seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengejek, mengucilkan, atau menyakiti teman.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 28, Dr. Inayatul Ummah, M.Pd., turut mendukung pelaksanaan program sebagai bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.
Melalui pendampingan dan edukasi yang dilakukan, mahasiswa diharapkan dapat membantu sekolah dalam memperkuat kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan pergaulan yang sehat, inklusif, dan saling menghargai.
“Stop Bullying”, Mulai dari Kita
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama menggunakan bingkai kampanye bertema “Stop Bullying”. Foto tersebut menjadi simbol ajakan bagi siswa untuk menyebarkan pesan positif dan menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari perundungan.
Melalui kegiatan ini, KKN Kelompok 28 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap siswa SDN 1 Pamengkang dan SDN 2 Pamengkang tidak hanya memahami bahaya bullying, tetapi juga mampu menerapkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak. Sebab, mencegah bullying bukan hanya tentang menghentikan tindakan perundungan, tetapi juga tentang menumbuhkan keberanian untuk peduli, melindungi, dan memperlakukan orang lain dengan penuh empati.
Program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan karakter, lingkungan belajar yang aman dan inklusif, serta edukasi yang mendukung perkembangan peserta didik. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, terutama dalam mendorong budaya damai, saling menghormati, dan penyelesaian persoalan tanpa kekerasan di lingkungan sekolah.


