UIN Siber Cirebon – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 55 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Seminar Parenting Literasi sebagai upaya meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya peran keluarga dalam mendukung proses pendidikan dan perkembangan literasi anak. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB, bertempat di Balai Desa Karanganyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi para orang tua untuk memahami bahwa kemampuan literasi anak tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di sekolah, tetapi juga melalui kebiasaan dan lingkungan yang dibangun di rumah. Melalui pendampingan yang tepat, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kebiasaan membaca, belajar, berkomunikasi, serta mengeksplorasi berbagai pengetahuan secara menyenangkan.
Seminar menghadirkan Dr. Budi Manfaat, M.Si., Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, sebagai pemateri dan Rizko NJ sebagai moderator. Kegiatan turut mendapat dukungan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 55, Dr. Saluky, S.Si., M.Kom., serta Kepala Desa Karanganyar, H. Amin Wardiya, S.Pd., M.M.
Rumah Menjadi Ruang Pertama untuk Membangun Literasi
Dalam pemaparannya, Dr. Budi Manfaat menekankan bahwa keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan belajar dan budaya literasi anak. Rumah tidak semata-mata menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pertama bagi anak untuk tumbuh, berkembang, berinteraksi, dan memperoleh berbagai pengalaman belajar.
Orang tua dapat membangun suasana belajar yang positif melalui kebiasaan sederhana, seperti menyediakan waktu membaca bersama, mengajak anak berdiskusi mengenai cerita yang dibaca, atau memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya.
“Rumah merupakan tempat pertama anak belajar. Karena itu, membangun budaya literasi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang formal. Orang tua dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti membaca bersama dan berdiskusi dengan anak,” ujar Dr. Budi Manfaat dalam kegiatan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa pendampingan literasi perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan usia dan karakter anak. Menurutnya, orang tua tidak perlu memaksakan anak untuk membaca dalam waktu lama, tetapi dapat membangun kebiasaan secara bertahap dan konsisten.
“Yang terpenting bukan hanya seberapa banyak anak membaca, tetapi bagaimana kita membuat anak menyukai kegiatan membaca dan merasa bahwa belajar merupakan aktivitas yang menyenangkan,” tambahnya.
Membangun Budaya Membaca dari Rumah
Seminar kemudian membahas pentingnya membangun budaya membaca mulai dari lingkungan keluarga. Orang tua didorong untuk menjadi contoh bagi anak dengan menunjukkan kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana, seperti menyediakan buku yang sesuai dengan usia anak, membacakan cerita sebelum tidur, mengajak anak mengunjungi perpustakaan, maupun memanfaatkan sumber bacaan digital secara bijak.
Selain itu, orang tua juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan rumah yang mendukung proses belajar. Anak perlu diberikan ruang untuk bertanya, bereksplorasi, dan menyampaikan gagasan tanpa merasa takut melakukan kesalahan.
Pendampingan yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat membantu anak mengembangkan kemampuan membaca sekaligus kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.
Orang Tua dan Pendidikan Anak
Peran orang tua dalam pendidikan anak menjadi salah satu pembahasan penting dalam seminar. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Orang tua dapat berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan belajar anak, mengetahui kesulitan yang dihadapi, serta memberikan dukungan ketika anak mengalami hambatan dalam proses pembelajaran. Dengan komunikasi yang baik antara keluarga dan sekolah, pendampingan pendidikan anak dapat dilakukan secara lebih optimal.
Sesi diskusi dan tanya jawab juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pengalaman serta persoalan yang mereka hadapi ketika mendampingi anak belajar di rumah. Interaksi tersebut membuat kegiatan berlangsung lebih komunikatif karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat berdiskusi mengenai situasi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.
KKN 55 Hadirkan Edukasi Literasi untuk Masyarakat
Seminar Parenting Literasi menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Kelompok 55 dalam memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Karanganyar. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman praktis kepada orang tua agar semakin aktif terlibat dalam perkembangan pendidikan dan literasi anak.
DPL KKN Kelompok 55, Dr. Saluky, S.Si., M.Kom., mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Sementara itu, Kepala Desa Karanganyar, H. Amin Wardiya, S.Pd., M.M., turut memberikan dukungan terhadap kegiatan edukasi yang menyasar keluarga sebagai bagian penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 55 berharap budaya literasi dapat tumbuh secara berkelanjutan dari lingkungan keluarga. Kebiasaan membaca, berdiskusi, dan belajar bersama yang dimulai dari rumah diharapkan dapat menjadi fondasi bagi tumbuh kembang anak sekaligus mendukung terciptanya generasi yang memiliki kemampuan literasi lebih baik.
Selaras dengan SDGs
Seminar Parenting Literasi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui upaya meningkatkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan anak dan memperkuat keterlibatan keluarga dalam pendidikan.
Kegiatan ini juga berkontribusi pada SDGs poin 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN, perguruan tinggi, pemerintah desa, pemateri, dan masyarakat dalam mendukung penguatan pendidikan di tingkat keluarga dan komunitas.
Dengan membangun budaya literasi dari rumah, KKN Kelompok 55 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berupaya mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui kebiasaan positif dalam kehidupan keluarga sehari-hari.


