UIN Siber Cirebon (Yogyakarta) — Langit Karanganyar menjadi ruang belajar yang berbeda bagi dua mahasiswa Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Windi Dhea Safitri dan Eria Sifa mengikuti Falak Day 2026 yang diselenggarakan Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta pada 12–14 Agustus 2026 di Griya Sukuh Homestay & Villa, Kompleks Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah.
Keduanya didampingi M. Syaoqi Nahwandi, M.H. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar ilmu falak tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui praktik astronomi secara langsung.
Mengusung tema “Camp Astronomi Islam: Menjelajah Langit, Astrofotografi dan Rukyatul Hilal”, Falak Day 2026 mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi, dan pegiat ilmu falak dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga di Indonesia.
Bagi mahasiswa Ilmu Falak UIN Siber Cirebon, kegiatan tersebut menjadi pengalaman akademik yang berharga sekaligus ruang untuk memperluas jejaring nasional.
Dari Teori Kuliah ke Praktik di Bawah Langit
Falak Day 2026 menghadirkan berbagai kegiatan praktik yang membuat peserta berinteraksi langsung dengan perangkat astronomi dan objek langit.
Peserta mendapatkan pengalaman mengenai kalibrasi dan alignment teleskop, penentuan arah kiblat, observasi Matahari, astrofotografi, hingga rukyatul hilal.
Bagi Windi dan Eria, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kuliah.
Ilmu yang selama ini dipelajari secara teoritis dapat diuji dan dipahami melalui pengalaman langsung di lapangan. Mereka juga dapat berdiskusi dengan mahasiswa dari berbagai daerah mengenai perkembangan ilmu falak, teknologi astronomi, dan tantangan yang dihadapi generasi muda dalam mengembangkan bidang tersebut.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa ilmu falak memiliki ruang belajar yang sangat luas.
Tidak hanya berada di dalam buku atau ruang kelas, tetapi juga dapat ditemukan ketika seseorang mengarahkan teleskop ke langit, mengamati pergerakan benda langit, menentukan arah kiblat, atau melakukan pengamatan hilal.
Syaoqi: Praktik Membuat Ilmu Lebih Bermakna
Pendamping mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, M. Syaoqi Nahwandi, M.H., mengatakan Falak Day menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik.
“Falak Day menjadi ruang yang sangat baik bagi mahasiswa untuk belajar langsung, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring dengan mahasiswa maupun pegiat ilmu falak dari berbagai daerah. Pengalaman seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami ilmu falak secara teoritis, tetapi juga mampu melihat penerapannya dalam praktik,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman lapangan juga dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menggunakan instrumen astronomi serta memahami proses observasi secara lebih sistematis.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi juga mulai terbiasa dengan proses ilmiah yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kemampuan bekerja sama.
Windi Dhea Safitri: Bertemu Teman Falak dari Berbagai Daerah
Bagi Windi Dhea Safitri, mengikuti Falak Day 2026 menjadi pengalaman yang memberikan banyak perspektif baru.
Mahasiswa Ilmu Falak sekaligus Ketua Umum HMJ Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon itu mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang mempertemukan mahasiswa Ilmu Falak dari berbagai daerah.
“Kami dari Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sangat senang bisa mengikuti Falak Day 2026. Bukan hanya mendapatkan pengalaman praktik astronomi secara langsung, tetapi kami juga bisa bertemu dan bertukar cerita dengan teman-teman Ilmu Falak dari berbagai daerah,” ungkap Windi.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang ilmu falak.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang sehingga mahasiswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar bersama dan membangun kolaborasi.
Rukyatul Hilal di Candi Sukuh
Salah satu agenda yang paling dinantikan dalam Falak Day 2026 adalah rukyatul hilal pada Kamis (13/8/2026) di Kompleks Candi Sukuh.
Dalam kegiatan tersebut, tim rukyat berhasil merekam hilal awal Rabiul Awal 1448 H menggunakan teleskop astronomi yang dilengkapi sistem pencitraan digital.
Pengamatan ini menjadi pengalaman penting bagi peserta untuk memahami hubungan antara hisab dan rukyat.
Hisab memberikan dasar perhitungan posisi dan kemungkinan terlihatnya hilal. Sementara rukyat menjadi proses pengamatan langsung untuk mendapatkan bukti visual terhadap keberadaan hilal.
Bagi mahasiswa Ilmu Falak, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana perhitungan astronomi dan teknologi observasi dapat saling melengkapi.
Penggunaan teleskop dan sistem pencitraan digital juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi memberikan peluang baru bagi pengembangan ilmu falak.
Merawat Ilmu, Membangun Jejaring
Falak Day 2026 tidak hanya menjadi kegiatan belajar astronomi Islam. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan kolaborasi antarmahasiswa, akademisi, praktisi, dan pegiat ilmu falak.
Kehadiran Windi Dhea Safitri dan Eria Sifa menjadi bagian dari upaya UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon untuk mendorong mahasiswa aktif mengikuti forum akademik di tingkat nasional.
Jejaring seperti ini penting untuk membuka peluang pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, kegiatan observasi, hingga pengembangan inovasi ilmu falak berbasis teknologi.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Ilmu falak memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penentuan waktu ibadah, arah kiblat, kalender Hijriah, hingga observasi astronomi.
Karena itu, pengembangan ilmu falak perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Dari Cirebon Menatap Langit Indonesia
Keikutsertaan mahasiswa Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam Falak Day 2026 memberikan pesan sederhana: belajar akan menjadi lebih bermakna ketika teori bertemu pengalaman.
Dari ruang kuliah di Cirebon, Windi dan Eria datang ke Karanganyar untuk belajar bersama. Mereka menatap langit, menggunakan teleskop, mengamati hilal, berdiskusi, dan bertemu dengan generasi muda penggiat ilmu falak dari berbagai penjuru Indonesia.
Pengalaman itu bukan sekadar perjalanan akademik.
Ia menjadi bagian dari proses membangun generasi falak yang teliti, adaptif, terbuka terhadap teknologi, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Langit yang sama mungkin menaungi Indonesia dan berbagai negara di dunia. Namun, cara manusia memahaminya terus berkembang.
Dan dari Cirebon, mahasiswa Ilmu Falak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus belajar membaca tanda-tanda langit dengan ilmu, teknologi, dan semangat kolaborasi.






