UIN Siber Cirebon — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Berita menyebar dalam hitungan detik, opini terbentuk hanya melalui satu unggahan, bahkan sebuah isu dapat berkembang menjadi krisis sebelum fakta sesungguhnya terungkap. Dalam situasi seperti ini, komunikasi publik tidak lagi cukup hanya cepat, tetapi juga harus tepat, terukur, dan mampu membangun kepercayaan.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan penting yang saya peroleh saat mengikuti Bimbingan Teknis Penyusunan Strategi Komunikasi Publik yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia di Yogyakarta.
Ada satu kalimat yang sangat membekas dari narasumber, yaitu “Trust is The Currency.” Kepercayaan adalah mata uang utama komunikasi publik.
Kalimat sederhana ini sesungguhnya menggambarkan perubahan besar dalam dunia kehumasan. Masyarakat saat ini tidak lagi mudah percaya hanya karena informasi berasal dari sebuah lembaga atau pemerintah. Publik ingin melihat bukti, transparansi, manfaat nyata, dan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
Artinya, komunikasi publik bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan.
Komunikasi Harus Dimulai dari Riset
Salah satu pelajaran penting dalam bimtek adalah bahwa strategi komunikasi tidak boleh disusun berdasarkan asumsi.
Komunikasi yang baik selalu diawali dengan Research atau riset.
Kita harus mengetahui terlebih dahulu persoalan yang dihadapi masyarakat, siapa audiens yang akan diajak berkomunikasi, bagaimana perilaku mereka, media apa yang digunakan, hingga apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Pendekatan ini dikenal melalui kerangka ROSTIR (Research, Objectives, Strategy, Tactics, Implementation, Reporting & Evaluation).
Kerangka tersebut mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar membuat konten atau publikasi, tetapi merupakan proses yang sistematis mulai dari penelitian hingga evaluasi dampak.
Tidak Semua Masalah Diselesaikan dengan Konten
Di era media sosial, sering kali organisasi merasa cukup membuat poster, video, atau unggahan setiap hari.
Padahal, sebagaimana disampaikan narasumber, jika persoalan sebenarnya adalah rendahnya kepercayaan publik, maka solusi utamanya bukan memperbanyak konten, melainkan menghadirkan bukti nyata, transparansi, serta membuka ruang dialog.
Inilah mengapa komunikasi harus menjadi bagian dari pengambilan keputusan organisasi, bukan sekadar pelengkap kegiatan.
Komunikasi harus hadir sejak awal proses kebijakan, bukan hanya di akhir ketika sebuah program selesai dilaksanakan.
Bahasa Sederhana Lebih Bermakna
Pesan lain yang sangat relevan adalah pentingnya menggunakan bahasa yang sederhana.
Sering kali lembaga pemerintah menggunakan istilah birokrasi yang sulit dipahami masyarakat.
Padahal komunikasi yang efektif justru lahir dari bahasa yang sederhana, singkat, dan langsung menyentuh kebutuhan publik.
Jika masyarakat harus membaca berulang kali hanya untuk memahami satu informasi, berarti komunikasi kita masih perlu diperbaiki.
Masyarakat tidak membutuhkan kalimat yang rumit. Mereka membutuhkan informasi yang jelas, mudah dipahami, dan memberikan solusi.
Mengelola Semua Kanal Komunikasi
Bimtek juga mengenalkan pendekatan PESO yang terdiri dari Paid Media, Earned Media, Shared Media, dan Owned Media.
Keempat kanal tersebut harus saling melengkapi.
- Website resmi, media sosial institusi, media massa, komunitas, hingga para pemengaruh (Key Opinion Leader) harus mampu bergerak dalam satu narasi yang sama sehingga pesan organisasi menjadi lebih kuat.
- Di lingkungan perguruan tinggi, pendekatan ini sangat relevan.
- Prestasi dosen, mahasiswa, hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun inovasi kampus tidak cukup hanya dipublikasikan melalui satu media, tetapi perlu diorkestrasi agar manfaatnya dapat diketahui masyarakat luas.
Komunikasi Harus Berdampak
Keberhasilan komunikasi tidak lagi diukur dari banyaknya berita yang terbit atau tingginya jumlah tayangan media sosial.
Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memahami pesan yang disampaikan, apakah terjadi perubahan sikap, perubahan perilaku, hingga muncul kepercayaan terhadap lembaga.
Karena itu, setiap strategi komunikasi harus diakhiri dengan evaluasi yang terukur.
Kita harus mampu menjawab pertanyaan sederhana, yaitu: apakah komunikasi yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat?
Humas adalah Mitra Strategis Organisasi
Peran humas saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
Humas bukan lagi sekadar dokumentasi, publikasi, atau pengelola media sosial.
Humas adalah mitra strategis pimpinan dalam membangun reputasi, mengelola isu, mengantisipasi krisis, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap organisasi.
Di lingkungan perguruan tinggi, humas memiliki tanggung jawab untuk menjembatani komunikasi antara kampus dengan masyarakat.
Setiap prestasi, inovasi, layanan, hingga kebijakan kampus perlu dikemas menjadi informasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan inspirasi dan manfaat.
Komitmen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Sebagai Pranata Humas Ahli Madya di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, saya memandang bahwa penguatan kompetensi komunikasi publik merupakan investasi penting bagi kemajuan institusi.
Transformasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai Cyber Islamic University harus diiringi dengan transformasi komunikasi yang lebih terbuka, profesional, berbasis data, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Ke depan, komunikasi kampus tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan narasi yang mampu menginspirasi masyarakat.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah institusi bukan hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dijalankan, tetapi juga oleh seberapa besar kepercayaan yang berhasil dibangun di tengah masyarakat.
Sebab di era digital saat ini, kepercayaan bukan lagi sekadar harapan, melainkan aset paling berharga yang harus dijaga melalui komunikasi yang jujur, sederhana, konsisten, dan berdampak.


