Opini
Home » Pos » Opini » Humas Kemenag di Era Mega-Jejaring: Saatnya Komunikasi Publik Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat

Humas Kemenag di Era Mega-Jejaring: Saatnya Komunikasi Publik Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat

Humas Kemenag di Era Mega-Jejaring: Saatnya Komunikasi Publik Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat

UIN Siber Cirebon (Jakarta, Kemenag) — Pengukuhan Pengurus Cabang Ikatan Pranata Humas (Iprahumas) Kementerian Agama periode 2026–2028 di Jakarta bukan sekadar agenda kelembagaan. Bagi saya, momentum ini merupakan tanda bahwa profesi kehumasan Kementerian Agama sedang memasuki fase penting: membangun jejaring komunikasi publik yang lebih terhubung, responsif, dan dekat dengan masyarakat.

Kementerian Agama memiliki jejaring kehumasan yang sangat luas. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al-Asyhar, menyebut terdapat sekitar 5,6 ribu SDM kehumasan, terdiri atas lebih dari 1.200 Pejabat Fungsional Pranata Humas dan sekitar 4,3 ribu pengelola kehumasan yang tersebar hingga Kanwil, Kankemenag, PTKN, KUA, dan madrasah.

Angka tersebut bagi saya bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan manusia yang setiap hari berhadapan dengan kebutuhan informasi masyarakat.

Di sinilah istilah “mega-jejaring kehumasan” menjadi penting. Jejaring yang besar harus diikuti dengan kemampuan untuk bergerak bersama. Informasi dari pusat perlu diterjemahkan sesuai konteks daerah, sementara berbagai dinamika di lapangan perlu menjadi masukan bagi pengambil kebijakan.

Humas Bukan Sekadar Penyampai Informasi

Humas pemerintah tidak cukup hanya menjadi pihak yang menyampaikan kegiatan dan membuat berita. Tantangan komunikasi publik saat ini jauh lebih kompleks.

Dari Pesantren, Gerakan Jaga Bumi Dimulai: Sinau Berkah Dorong Akmala Sabila Jadi Model Pesantren Ramah Lingkungan

Masyarakat ingin informasi yang cepat, jelas, mudah dipahami, relevan, dan dapat dipercaya. Karena itu, Pranata Humas perlu memahami substansi program sebelum mengomunikasikannya.

Pesan Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin tentang pentingnya sense of sensitivity menurut saya sangat relevan. Pranata Humas perlu memiliki kepekaan terhadap fungsi institusi, agenda strategis pemerintah, sekaligus persoalan yang sedang dirasakan masyarakat.

Artinya, humas harus mampu bertanya: Apa yang penting bagi masyarakat? Apa yang perlu dijelaskan? Apa dampak sebuah kebijakan? Dan bagaimana informasi itu disampaikan agar benar-benar dipahami?

Dari Pusat hingga KUA, Semua Punya Peran

Kekuatan jejaring Kemenag justru terletak pada kedekatannya dengan masyarakat. KUA, madrasah, perguruan tinggi keagamaan, kantor Kemenag, hingga unit-unit layanan lainnya memiliki pengalaman dan cerita yang sangat dekat dengan publik.

Karena itu, penguatan Iprahumas jangan hanya dipahami sebagai penguatan organisasi profesi. Lebih jauh, ini dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem komunikasi publik yang kolaboratif.

Jumat Bersih SMKN 2 Cirebon Perkuat Budaya Sekolah Hijau, Mahasiswa PLP UIN Siber Cirebon Turut Bergerak

Program Humas Level Up yang disebut telah melibatkan lebih dari 14.000 partisipan menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan penting.

Bagi saya, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kapasitas tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam cara humas bekerja.

Saatnya Membanjiri Ruang Publik dengan Praktik Baik

Ada satu hal yang sangat penting: ruang publik jangan hanya diisi oleh respons terhadap persoalan.

Kementerian Agama memiliki banyak praktik baik di bidang pendidikan, kehidupan keagamaan, kerukunan, pelayanan masyarakat, pemberdayaan umat, hingga transformasi digital. Semua itu perlu dikomunikasikan secara kreatif, konsisten, dan bertanggung jawab.

Humas harus mampu menemukan cerita manusia di balik sebuah program.

MA Islamic Centre Jalani Penilaian Calon Sekolah Adiwiyata Provinsi, Mahasiswa PLP UIN Siber Cirebon Turut Dukung

Sebuah layanan KUA bukan hanya tentang administrasi. Sebuah madrasah bukan hanya tentang kegiatan belajar. Sebuah perguruan tinggi bukan hanya tentang angka dan capaian. Di dalamnya ada manusia, harapan, perjuangan, dan perubahan yang layak diketahui masyarakat.

Iprahumas dan Masa Depan Komunikasi Publik

Pengukuhan Iprahumas Kemenag seharusnya menjadi awal dari kolaborasi yang lebih kuat. Tiga pilar yang ditekankan Kemenag—pembinaan, kerja sama, dan advokasi—dapat menjadi fondasi untuk memperkuat profesionalitas sekaligus perlindungan profesi humas.

Saya melihat masa depan humas Kemenag bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat membuat berita, tetapi siapa yang mampu membangun kepercayaan publik melalui informasi yang akurat, manusiawi, dan berdampak.

Dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, saya memandang keterlibatan insan humas dalam jejaring nasional ini sebagai kesempatan untuk terus belajar dan berbagi praktik baik.

Sebab pada akhirnya, teknologi boleh berubah, media boleh berganti, dan pola konsumsi informasi masyarakat terus berkembang. Namun satu hal tidak boleh berubah: humas harus tetap berpihak pada kualitas informasi dan kepentingan publik.

Mega-jejaring kehumasan Kemenag akan benar-benar menjadi kekuatan ketika ribuan insan humas di dalamnya tidak hanya terhubung secara struktural, tetapi juga terhubung dalam visi, profesionalitas, kolaborasi, dan semangat melayani masyarakat.

Itulah tantangan sekaligus peluang kita bersama.

Oleh: Mohamad Arifin

Berita Populer

01

Pengumuman Pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Calon Mahasiswa Baru Jalur SPAN-PTKIN Tahun 2026

02

UIN Siber Cirebon Jadi Tuan Rumah CBT Beasiswa S1 Kerajaan Maroko 2026, Perkuat Jejaring Internasional Pendidikan Islam

03

Pengumuman Pengajuan Usulan Keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Tahun Akademik 2025/2026

04

Pendaftaran Beasiswa BI 2026 UIN Siber Cirebon Semester I

05

Pengumuman Perpanjangan Pelaksanaan Herregistrasi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026

Download PPID UINSSC Mobile App

Kalender

September 2026
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Pos Terbaru