Opini Pojok Rektor
Home » Pos » Opini » Doa Menag Nasaruddin Umar: Menyatukan Hati, Merawat Indonesia, dan Mengubah Kemerdekaan Menjadi Amal Nyata

Doa Menag Nasaruddin Umar: Menyatukan Hati, Merawat Indonesia, dan Mengubah Kemerdekaan Menjadi Amal Nyata

Doa Menag Nasaruddin Umar: Menyatukan Hati, Merawat Indonesia, dan Mengubah Kemerdekaan Menjadi Amal Nyata

UIN Siber Cirebon — Ada momen ketika sebuah doa tidak berhenti sebagai rangkaian kata. Ia berubah menjadi cermin yang mengajak kita melihat kembali wajah bangsa, sekaligus menjadi kompas untuk menentukan ke mana kita harus melangkah.

Doa Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026, Jumat (14/8/2026), menurut saya, menghadirkan pesan kebangsaan yang sangat relevan: Indonesia membutuhkan hati yang bersatu, pikiran yang terbuka, kepedulian kepada sesama, dan ikhtiar yang tidak pernah berhenti.

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, pesan tersebut terasa semakin penting.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan

HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah. Kemerdekaan harus menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia?

Menag Nasaruddin Umar mengajak bangsa Indonesia menyatukan hati dan pikiran untuk mencintai negeri.

Dua Guru Besar Dikukuhkan, UIN Siber Cirebon Perkuat Tradisi Keilmuan dan Ekonomi Syariah

Pesan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Sebab, membangun Indonesia tidak mungkin dilakukan oleh satu kelompok, satu lembaga, atau satu generasi saja.

Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang, pemikiran, budaya, dan pengalaman yang beragam. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi energi untuk membangun kekuatan bersama.

Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan berarti mampu bekerja bersama di tengah perbedaan.

Kritik Tidak Harus Dibalas dengan Permusuhan

Salah satu bagian penting dari doa Menag adalah ajakan untuk berani melakukan introspeksi.

Ketika menghadapi kritik, kita sering kali lebih mudah membangun pertahanan daripada membuka ruang perenungan. Padahal, kritik yang benar dapat menjadi pintu perbaikan.

556 Lulusan UIN Siber Cirebon Siap Taklukkan Era Digital: Bawa Ilmu, Islam, dan Misi Selamatkan Bumi

Doa Menag mengandung pesan agar kita mampu mengoreksi diri ketika kritik itu benar. Sebaliknya, apabila tuduhan atau kritik tersebut keliru, kita tetap diminta untuk menyikapinya dengan kebijaksanaan.

Bagi saya, ini merupakan pelajaran penting dalam membangun kehidupan demokrasi dan tata kelola kelembagaan.

Kritik seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Kritik yang benar adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi, semangat ini sangat penting. Kampus harus menjadi ruang yang terbuka terhadap gagasan, dialog, evaluasi, dan perbedaan pandangan. Dari sanalah tradisi akademik dan budaya intelektual dapat tumbuh.

Negara yang Kuat Harus Peduli kepada yang Lemah

Doa Menag juga memberikan perhatian kepada mereka yang lemah dan terzalimi.

Tiga Guru Besar Dikukuhkan, UIN Siber Cirebon Perkuat Tradisi Keilmuan di Era Digital

Pesan ini mengingatkan kita bahwa ukuran kemajuan bangsa tidak semata-mata dilihat dari pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, pembangunan infrastruktur, atau capaian digital.

Kemajuan juga harus diukur dari pertanyaan sederhana: apakah masyarakat yang lemah semakin terlindungi? Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah masyarakat memiliki kesempatan untuk berkembang? Apakah mereka yang tertinggal mendapatkan ruang untuk bangkit?

Pembangunan yang kehilangan kepedulian akan kehilangan makna kemanusiaannya.

Karena itu, pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis. Pendidikan bukan hanya proses mencerdaskan manusia, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Tantangan Indonesia Semakin Kompleks

Doa tersebut juga mengingatkan bahwa perjalanan bangsa masih panjang.

Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, dinamika geopolitik, krisis lingkungan, hingga perubahan sosial membutuhkan kemampuan bangsa untuk beradaptasi.

Dalam situasi seperti ini, kita tidak cukup hanya menjadi bangsa yang mampu menggunakan teknologi. Kita juga harus menjadi bangsa yang mampu mengendalikan teknologi dengan nilai dan etika.

Sebagai universitas Islam siber, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melihat tantangan tersebut sebagai panggilan untuk menghadirkan pendidikan yang memadukan keunggulan teknologi, kedalaman spiritualitas, dan kepedulian kemanusiaan.

Teknologi harus digunakan untuk memperluas manfaat, bukan memperlebar kesenjangan.

Digitalisasi harus memperkuat pendidikan, bukan menghilangkan nilai kemanusiaan.

Kecerdasan buatan harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas kehidupan, bukan menggantikan tanggung jawab moral manusia.

Dari Doa Menuju Kerja Nyata

Pada akhirnya, doa tidak boleh berhenti di ruang sidang.

Doa harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Bagi seorang dosen, kerja nyata dapat diwujudkan melalui pendidikan dan penelitian yang memberikan manfaat. Bagi mahasiswa, kemerdekaan dapat diisi dengan belajar, berkarya, dan mengembangkan kompetensi. Bagi aparatur negara, kemerdekaan diwujudkan melalui pelayanan publik yang profesional dan berintegritas.

Bagi masyarakat, kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan demikian, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, ketidakpedulian, intoleransi, disinformasi, dan berbagai bentuk keterbelakangan.

Menjadi Bangsa yang Saling Menguatkan

Ada satu pesan besar yang saya tangkap dari doa Menag Nasaruddin Umar: Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang memilih menjadi bagian dari solusi.

Kita membutuhkan lebih banyak tangan yang membantu daripada tangan yang menyalahkan.

Kita membutuhkan lebih banyak dialog daripada pertengkaran.

Kita membutuhkan lebih banyak kerja sama daripada persaingan yang tidak sehat.

Dan kita membutuhkan lebih banyak keteladanan daripada sekadar slogan.

Persatuan harus hadir dalam tindakan sehari-hari. Di kampus, di tempat kerja, di masyarakat, di ruang digital, bahkan dalam cara kita berkomunikasi di media sosial.

Mencintai Indonesia tidak selalu harus melalui tindakan besar. Mengajar dengan sungguh-sungguh, melayani masyarakat dengan tulus, menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, menyebarkan informasi yang benar, dan membantu orang lain juga merupakan bentuk cinta kepada negeri.

Pendidikan sebagai Jalan Merawat Masa Depan

Dalam konteks perguruan tinggi, pesan doa kebangsaan tersebut menjadi semakin bermakna.

Kampus tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Kampus harus melahirkan manusia yang memiliki ilmu, karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam agenda tersebut.

Sebagai perguruan tinggi Islam berbasis siber, kita harus mampu membangun generasi yang unggul dalam teknologi sekaligus kuat dalam nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Kita ingin melahirkan generasi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan akar kebangsaan, menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan, serta memiliki prestasi tanpa kehilangan kerendahan hati.

Dari Cirebon untuk Indonesia

Doa Menag Nasaruddin Umar pada Sidang Tahunan 2026 pada akhirnya bukan hanya milik mereka yang hadir di gedung parlemen. Pesannya adalah milik seluruh rakyat Indonesia.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk merawat rumah besar bernama Indonesia.

Mari menjadikan persatuan sebagai kekuatan, kritik sebagai bahan introspeksi, kepedulian sebagai karakter, ilmu sebagai jalan pengabdian, dan doa sebagai penguat ikhtiar.

Kemerdekaan harus kita isi dengan karya.

Persatuan harus kita buktikan dengan tindakan.

Dan kecintaan kepada Indonesia harus kita wujudkan melalui kebermanfaatan.

Semoga Indonesia benar-benar menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik, aman, sejahtera, dan senantiasa berada dalam keberkahan Allah SWT.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.

Mari satukan hati, kuatkan ikhtiar, rawat persatuan, dan terus mencintai Indonesia.

Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.

Berita Populer

01

Pengumuman Pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) Calon Mahasiswa Baru Jalur SPAN-PTKIN Tahun 2026

02

UIN Siber Cirebon Jadi Tuan Rumah CBT Beasiswa S1 Kerajaan Maroko 2026, Perkuat Jejaring Internasional Pendidikan Islam

03

Pengumuman Pengajuan Usulan Keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Tahun Akademik 2025/2026

04

Pendaftaran Beasiswa BI 2026 UIN Siber Cirebon Semester I

05

Pengumuman Perpanjangan Pelaksanaan Herregistrasi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026

Download PPID UINSSC Mobile App

Kalender

August 2026
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives

Pos Terbaru